Voices

Bangun dari Tidur Lelap

Penulis - Pep | 9 Oktober 2025
Ilutrasi: Menara Kembar Petronas di Kuala Lumpur, Malaysia. (Foto: unsplash.com/Esmonde Yong)

Moskow, beberapa tahun silam, menyapa dengan udara dingin yang menusuk. Di sela tugas jurnalistik, saya bertemu dua sosok dari negeri jiran: Cik Abdul Ghani, jurnalis senior yang fasih bicara soal ekonomi, dan Nona Lin, wartawati teknologi yang lincah bercerita.

Kami bertiga, terhubung oleh bahasa Melayu dan ikatan ASEAN, larut dalam obrolan hangat. Dari sengketa Sipadan hingga selera makanan, semua mengalir. Tetapi, di balik tawa, ada rahasia yang saya simpan rapat—kehadiran Malaysia di Indonesia.

Bukan soal penjajahan, bukan pula konflik. Ini tentang pompa bensin Petronas yang mencolok di Jakarta yang dulu sempat “menghijau”, oli Syntium yang merajai toko-toko, dan Proton Saga yang kian percaya diri melaju di jalanan ibu kota.

Saya ingin menyembunyikannya dari Ghani dan Lin, entah kenapa. Mungkin gengsi, mungkin tak ingin mereka tersenyum bangga. Tetapi, rahasia itu runtuh saat Ghani, dengan nada polos, bertanya, “Saya dengar di Indonesia sudah banyak gas station Petronas dan kereta Proton Saga?” Alamak!

Saya tergagap. Dengan senyum kaku, saya mengangguk. “Ya, bahkan sesekali saya isi bensin di Petronas,” ujar saya, berusaha santai meski hati gelisah.

Ghani, dengan mata penasaran, mengejar, “Lho, kenapa tidak di Pertamina saja?” Pertanyaan itu seperti angin dingin Moskow, menusuk.

Mau jujur bahwa Petronas lebih bersih, pelayanannya ramah, dan fasilitasnya lengkap? Terlalu pahit untuk diakui. “Oh, saya juga beli di Pertamina, Encik,” elak saya, buru-buru.

Obrolan berlanjut, tapi Ghani tak berhenti. “Di Malaysia, kok tak ada gas station Pertamina, ya?”

Nadanya tulus, tetapi terasa seperti tamparan. Saya kehabisan kata. Di negeri jiran, Petronas bertahta, sementara Pertamina—kebanggaan kita—tak punya satu pun tiang bendera di sana.

Malaysia, dengan sumber minyak yang tak seberlimpah Indonesia, justru menancapkan pengaruhnya di Jakarta. Proton Saga, yang dulu mungkin diremehkan, kini berani sejajar dengan mobil-mobil Korea.

Dan kita? Masih terlelap.

Perjalanan ini membawa saya pada renungan panjang. Di Bandara Kuala Lumpur yang megah, saya melihat ratusan TKI, para pahlawan devisa, berbaris di bawah bentakan petugas.

“Masuk barisan, Indon!” teriak seorang petugas Malaysia.

Kata itu, di tempat seterbuka bandara, terasa seperti pukulan. Apakah ini sekadar ketidaksabaran, atau bagian dari permainan besar untuk merendahkan Indonesia di mata dunia?

Saya tak tahu. Tetapi, di dada, ada sesak yang tak terucap.

Petronas dan Proton Saga, dua simbol sederhana, tiba-tiba terasa seperti cermin. Mereka bukan sekadar pom bensin atau mobil.

Mereka adalah tanda keberhasilan sebuah bangsa, sebuah peringatan halus dari saudara serumpun: bangunlah, Indonesia. Malaysia, dengan caranya, menggelitik kita, berharap kita terjaga dari tidur panjang.

Dan, perlahan, kita mulai merespons. Pompa bensin Pertamina kini lebih bersih, ada pompa udara gratis, layanan menyemir ban. Kita belajar, meski kadang terasa seperti mengekor.

Tetapi, cermin itu juga menunjukkan apa yang belum kita capai. Kita belum mampu membangun pompa bensin Pertamina di Kuala Lumpur, belum bisa menggelitik balik.

Malaysia sudah terjaga, berlari jauh di depan. Kita? Masih mengucek mata, mencoba bangkit. Di ujung perjalanan ini, saya termenung.

Mungkin, seperti kata filsuf, hidup adalah soal terbangun berulang kali dari tidur-tidur kecil kita. Indonesia, kapan kita benar-benar terjaga?

Editor : Editor Kontemporer
Editor Picks