Focus

Pleco, Perekam Kualitas Perilaku Kita di Ciliwung

Penulis - ats | 5 Februari 2026
Ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung didominasi oleh jenis invasif asal Amerika Selatan, terutama Pterygoplichthys pardalis (sering kali hibrida), dengan nama umum Hypostomus Plecostomus. (Dok. Fishpedia)

Namanya Pleco.

Ia tidak pernah memilih tinggal di Sungai Ciliwung, juga tak pernah meminta dipanggil perusak, predator, atau hama. Namun sejak tubuhnya yang keras dan gelap muncul dari dasar sungai, lubang-lubang kecil di tebing mulai terlihat, ikan-ikan lokal kian jarang menampakkan diri, namanya perlahan berubah menjadi tuduhan.

Nama itu terdengar singkat, nyaris akrab di telinga para penghobi ikan hias. Pleco adalah sebutan populer untuk ikan sapu-sapu dari keluarga Loricariidae, kelompok ikan berperisai dengan mulut di bagian bawah tubuh.

Dalam praktiknya, sebutan “pleco” kerap merujuk pada beberapa spesies dari genus Pterygoplichthys yang kini banyak ditemukan di perairan perkotaan Indonesia, termasuk Sungai Ciliwung.

Istilah pleco berasal dari penamaan ilmiah yang berakar dari bahasa Yunani dan Latin. Nama ini menggambarkan bentuk fisik mulut yang berada di bagian bawah serta lipatan-lipatan keras di tubuhnya.
Nama yang lahir dari rupa, bukan dari stigma. Ia dinamai karena bentuk tubuhnya, bukan karena perannya dalam kerusakan sungai.

Bagi sebagian warga bantaran Ciliwung, Pleco adalah biang masalah. Ikan yang dikenal sebagai sapu-sapu itu dianggap merusak tepian sungai, menggerogoti ekosistem, bahkan “mengusir” ikan-ikan lokal. Tubuhnya yang besar, bersisik keras, dan tampak asing membuatnya seolah memang tidak pantas berada di sini. Padahal, Pleco tidak datang ke Ciliwung dengan perahu. Ia datang melalui tangan manusia.

Dari akuarium ke sungai perkotaan
Pleco berasal dari sungai-sungai Amerika Selatan, bagian dari sistem perairan besar, seperti Amazon. Di habitat asalnya, ikan ini hidup di perairan yang relatif alami, di bawah naungan vegetasi tropis.

Kajian taksonomi oleh para peneliti, seperti Jonathan W Armbruster dan Lawrence M Page, menempatkan kelompok ikan ini dalam keluarga Loricariidae, ikan-ikan berperisai yang dikenal tangguh di lingkungan alaminya.

Namun suatu hari, Pleco berpindah dari sungai tropis ke akuarium-akuarium rumah tangga.
Di balik kaca bening ia mendapat nama baru, ikan pembersih. Mulutnya yang menyerupai alat pengisap membuatnya rajin menempel di dinding akuarium, memakan alga yang tumbuh tipis.

Penelitian tentang invasi ikan sapu-sapu di berbagai negara, termasuk di India, mencatat bahwa spesies ini kerap dipelihara karena dianggap membantu menjaga kebersihan kolam dan akuarium.
Masalah muncul ketika Pleco tumbuh.

Tidak semua orang siap melihat ikan kecil di akuarium berubah menjadi tubuh besar dengan duri keras di punggungnya. Tidak semua pula yang paham bahwa ikan ini bisa hidup belasan hingga puluhan tahun.

Di titik inilah banyak Pleco “dipulangkan” ke alam, selokan, danau, hingga sungai. Termasuk Ciliwung. Guru Besar Pengelolaan Sumber Daya Alam Universitas Al Azhar Indonesia, Dewi Elfidasari, menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu sejak awal memang masuk ke Indonesia bukan sebagai ikan konsumsi atau ikan liar, melainkan sebagai komoditas ikan hias.

Di mata para penggemar akuarium, bentuk tubuh Pleco justru dianggap eksotis, yakni perisai keras di punggungnya, corak gelap di tubuhnya, serta gerakannya yang lamban memberi kesan unik dan “artistik”. 
Permintaan pasar yang tinggi membuat berbagai jenis Pleco didatangkan dari habitat asalnya di Amerika Selatan.

Masuknya Pleco melalui jalur perdagangan ikan hias inilah yang kemudian menjadikan spesies ini sebagai ikan introduksi di perairan tawar Indonesia. Spesies yang sengaja dihadirkan oleh manusia, meski tanpa perhitungan dampak ekologis jangka panjang ketika ikan tersebut akhirnya dilepas ke alam.

Bertahan di sungai yang terluka
Ciliwung bukan sungai yang ramah. Airnya keruh, arusnya membawa limbah rumah tangga dan sisa aktivitas kota. Vegetasi penahan tanah di bantaran sungai banyak yang hilang, digantikan tembok dan beton.

Catatan Pusat Penelitian Biologi LIPI menunjukkan bahwa pada awal abad ke-20, Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung pernah dihuni ratusan jenis ikan. Namun dalam kurun waktu hampir satu abad, jumlah itu menyusut drastis.

Penurunan keanekaragaman hayati ini bukan disebabkan satu spesies saja, melainkan akumulasi panjang pencemaran, alih fungsi bantaran sungai, serta masuknya berbagai ikan introduksi ke perairan umum. Bagi banyak ikan lokal, perubahan ini menjadi ujian berat.

Bagi Pleco, justru sebaliknya. Tubuhnya dirancang oleh evolusi untuk bertahan. Ia mampu hidup di perairan dengan kadar oksigen rendah dan dapat menelan udara langsung dari permukaan ketika kondisi air memburuk.

Penelitian tentang sebaran Pleco di perairan urban Asia menunjukkan bahwa toleransi lingkungannya tinggi, membuatnya mampu bertahan di sungai-sungai yang telah tercemar.

Di dasar sungai, alga dan sisa-sisa organik justru menjadi sumber makanan melimpah bagi Pleco.
Dalam kondisi yang menyulitkan banyak spesies, ia menemukan celah untuk hidup. Sungai yang lelah menyediakan panggung bagi makhluk yang paling mampu bertahan.

Arsip hidup sungai yang tercemar
Pleco kerap dianggap sebagai begundal lantaran disorot sebagai pembuat lubang-lubang kecil di tebing sungai. Lubang-lubang itu merupakan sarang tempat ikan sapu-sapu meletakkan telur. Secara biologis, aksinya itu adalah naluri alami untuk mempertahankan keturunan.

Namun, di sungai perkotaan yang bantaran tanahnya sudah rapuh karena kehilangan vegetasi, aktivitas menggali sarang ini dapat mempercepat erosi. Di titik inilah dua dunia bertabrakan, antara naluri makhluk hidup dan lingkungan yang lebih dulu terluka oleh ulah manusia.

Namun, ada sisi lain yang jarang dibicarakan ketika orang membenci Pleco. Sejumlah penelitian Dewi Elfidasari, ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung berpotensi mengakumulasi logam berat, seperti timbal, kadmium, dan merkuri dari air tercemar.

Tubuhnya pada akhirnya menjadi “arsip hidup” kualitas sungai, merekam jejak limbah yang mengalir setiap hari. Ketika muncul wacana memanfaatkan Pleco sebagai sumber pangan alternatif, sains justru mengingatkan bahaya yang mengintai. Sungai yang kotor akan selalu meninggalkan jejak pada makhluk yang hidup di dalamnya.

Antara stigma dan cermin
Pleco kerap disebut perusak. Namun barangkali, ia lebih tepat disebut cermin. Dalam kajian evolusi, spesies yang mampu beradaptasi cepat kerap mendominasi habitat yang terganggu.

Dalam konteks Ciliwung, dominasi Pleco bukan semata kisah tentang ikan asing yang “menang”, melainkan tentang ekosistem yang kehilangan keseimbangannya.

Pleco memantulkan wajah sungai yang berubah. Wajah kota yang membesar. Wajah manusia yang terbiasa membuang, lalu lupa ke mana sampah itu berlabuh.

Ia tidak merancang pencemaran, tidak memilih menjadi spesies yang bertahan di air kotor. Ia hanya melakukan apa yang makhluk hidup lakukan sejak awal, yakni bertahan.

Menyalahkan Pleco sepenuhnya terasa seperti memarahi bayangan sendiri di air yang keruh. Masalah sesungguhnya bukan pada ikan yang datang belakangan, melainkan pada sungai yang lebih dulu kehilangan daya lindungnya.

Di dasar Ciliwung, Pleco terus bergerak pelan, menempel pada batu, mengisap sisa-sisa yang tertinggal. Tubuhnya keras, matanya kecil, hidupnya senyap. Ia tidak tahu bahwa namanya telah berubah menjadi stigma. Ia tak tahu namanya telah berubah menjadi stigma. Ia hanya tahu dua hal, yakni air mengalir dan ia harus tetap hidup.

Editor : ats
Komentar
Editor Picks