People

Kenapa Kita Sulit Jujur pada Diri Sendiri?

Penulis - ats | 11 Februari 2026
Ilustrasi: Pria muda singgah di kedai kopi. (Freepik)

Ekor mata Dhani (39) tertuju pada etalase toko bakery artisan di salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Bundaran HI, Jakarta. Ia singgah, memesan sepotong kue dan segelas piccolo panas, lalu duduk di sudut ruangan.

Dua pekan terakhir, kebiasaan itu berulang. Sepulang kerja, Dhani kerap berhenti sejenak di kedai kopi. Duduk, menyeruput minuman, lalu pulang. Ada rasa tenang yang mampir sebentar, meski tahu ketenangan itu cepat pudar.

"Harusnya gue lebih berani jujur mendeskripsikan perasaan dan keadaan. Bukan malah singgah tanpa arah ke kedai kopi atau sepotong kudapan," ujar Dhani.

Pengalaman Dhani bukan cerita tunggal. Di kalangan masyarakat urban, tak sedikit orang mencari jeda di tempat-tempat yang nyaman, terutama kalangan muda, seperti ke kafe, toko buku, co-working space, bahkan gim di ponsel untuk menenangkan diri.

Tidak ada yang keliru dengan itu. Masalah muncul ketika jeda hanya menjadi cara menunda berhadapan dengan perasaan sendiri.

Dalam keseharian, ketidakjujuran pada diri sendiri sering hadir dalam bentuk yang tampak wajar. Mengatakan "aman" saat ditanya kabar, padahal pikiran sedang penuh. Mengiyakan pekerjaan tambahan meski energi menipis.

Menunda pulang karena merasa tidak enak pamit. Kita terbiasa menjaga kesan baik di hadapan orang lain. Lama-lama, kebiasaan itu terbawa ke dalam perasaan lelah dan ragu disimpan, seolah bisa diatur nanti.

Tekanan untuk tampak baik-baik saja datang dari banyak arah. Ritme kerja yang cepat, tuntutan produktivitas, serta tekanan sosial membuat banyak orang merasa harus selalu siap.

Di media sosial (medsos), potongan hidup yang tampak rapi berseliweran setiap hari. Orang-orang tampak produktif, bahagia, dan punya waktu untuk segalanya. Melihat itu, kita terdorong ikut tampak sanggup. Perasaan yang tidak nyaman pun ditunda pengakuannya, seolah tidak pantas muncul di tengah arus "semua orang baik-baik saja".

Strategi regulasi emosi
Dalam psikologi humanistik, kondisi tersebut dikenal sebagai ketidaksesuaian antara pengalaman batin dengan gambaran diri yang ingin ditampilkan.

Carl Rogers menyebutnya sebagai incongruence, yakni ketika apa yang dirasakan seseorang tidak sejalan dengan citra diri yang dipertahankan di hadapan orang lain.

Ketidaksesuaian itu, menurut Rogers, dapat memicu ketegangan psikologis, seperti kelelahan emosional, rasa hampa, hingga perasaan terasing dari pilihan hidup yang diambil.

Psikolog Stanford University, James J Gross, juga menjelaskan bahwa strategi regulasi emosi berupa emotional suppression—menekan emosi agar tampilan luar tetap rapi—memang dapat membantu seseorang terlihat tenang di depan orang lain.

Namun, strategi tersebut sering berdampak pada beban psikologis di dalam diri, seperti meningkatnya ketegangan dan kelelahan emosional. Emosi yang ditekan tidak benar-benar hilang, melainkan mencari bentuk lain untuk muncul.

Dengan kata lain, ketika jarak antara apa yang dirasakan dan apa yang ditampilkan makin lebar, tubuh dan pikiran pelan-pelan memberi sinyal.

Bukan lewat gejala dramatis, melainkan lewat rasa lelah, motivasi yang menurun, atau perasaan hidup berjalan tanpa arah yang jelas.

Jujur pada diri sendiri
Jujur pada diri sendiri bukan berarti membeberkan semua isi kepala ke ruang publik. Ia lebih sederhana, yakni mengakui apa yang sedang terjadi di dalam diri tanpa langsung menghakimi.

Mengakui lelah tidak sama dengan menyerah. Mengakui ragu tidak otomatis membuat seseorang lemah. Pengakuan itu justru menjadi titik awal untuk mengambil keputusan yang lebih sehat.

Menepi sejenak, seperti yang dilakukan Dhani, ada gunanya. Duduk di kafe atau melakukan hal yang disukai bisa memberi ruang bernapas.

Namun, jeda akan lebih bermakna jika diikuti percakapan jujur dengan diri sendiri. Kita bisa mengajukan pertanyaan sederhana sembari bercermin, "Apakah benar saya sedang takut dan kalut?"

Jika ya, telisik lebih lanjut dengan merunut ke belakang penyebab yang membuat diri lelah. Di sinilah jawaban jujur diperlukan serta mengakuinya, minimal kepada diri sendiri sebelum dimanifestasikan dalam bentuk respons kepada orang lain.

Kejujuran pada diri sendiri sering dimulai dari hal-hal kecil. Berhenti sejenak sebelum menjawab “enggak apa-apa”. Mengizinkan diri pulang lebih awal saat tenaga habis. Mengatakan "tidak" pada satu tuntutan agar bisa berkata "ya" pada kesehatan diri. Pilihan-pilihan ini mungkin tidak terlihat besar, tetapi di sanalah perubahan pelan-pelan bergerak.

Bakery artisan di pusat Jakarta itu ramai pengunjung. Orang-orang datang dan pergi, masing-masing membawa urusan sendiri.

Dhani mungkin akan kembali lagi suatu waktu, bukan sekadar untuk mengalihkan pikiran, melainkan untuk memberi ruang pada perasaan yang selama ini ia tunda akui.

Sebab, merawat tampilan luar saja tidak cukup. Keberanian untuk jujur pada diri sendiri adalah langkah awal agar hidup tidak hanya terlihat baik-baik saja, tetapi juga dijalani dengan lebih sadar.

Editor : ats
Komentar
Editor Picks