Gentengisasi, Penutup Problem Utama Bangsa (?)
Kita hidup di zaman ketika yang rapi sering dianggap otomatis baik. Jalan yang mulus dipuji sebagai tanda kemajuan. Gedung yang mengilap dipotret sebagai simbol keberhasilan.
Di ruang publik, kerapian visual menjadi bahasa yang paling mudah dipercaya. Seolah-olah, jika permukaan tampak tertata, maka urusan di baliknya pun sudah selesai. Namun, kerapian hanya memastikan sesuatu terlihat teratur, bukan memastikan bekerja sebagaimana mestinya.
Dalam dunia arsitektur, rumah dengan atap tersusun simetris memang menenangkan mata. Namun, rumah yang rapi di luar bisa saja menyimpan dinding lembap di dalam. Gentengnya sejajar tapi air tetap merembes.
Kerapian memberi ilusi yang kadang memberikan rasa aman. Padahal yang menentukan adalah apakah rumah itu benar-benar melindungi penghuninya dari hujan.
Kerapian visual sering membuat kita menilai keberhasilan dari tampilan. Sementara yang diuji seharusnya bukanlah susunan, melainkan daya lindungnya.
Filsuf Prancis Michel Foucault pernah menulis dalam Discipline and Punish: The Birth of the Prison (1975) bahwa kekuasaan modern gemar bekerja lewat tata kelola yang tampak rapi, yakni arsip, tabel, laporan, dan indikator kinerja.
Semua terlihat tertib. Namun di balik kerapian itu, ada pengalaman manusia yang tercecer, tentang mereka yang tak masuk kategori, tak terdata, atau terhimpit di sela-sela prosedur. Kerapian administratif dapat menciptakan rasa puas. Sementara, ketidakadilan sosial tetap berjalan diam-diam.
Jerebuu yang sunyi
Logika serupa muncul dalam pembangunan dan kebijakan publik. Hal yang tampak di permukaan menjadi ukuran, apalagi kalau bukan infrastruktur mantap, angka program terpampang, laporan selesai disusun.
Namun, apakah kerapian itu benar-benar menghadirkan perlindungan bagi yang paling rentan? Atau sekadar menata tampilan agar terlihat meyakinkan?
Genteng rapi adalah metafora yang tepat, menenangkan mata. Namun hujan tidak peduli pada kerapian. Hujan hanya peduli pada celah.
Begitu pula persoalan sosial, ia mengalir melalui celah-celah yang tak terlihat di laporan. Anak-anak yang kesulitan belajar karena biaya terbatas, keluarga yang menunda berobat karena akses layanan kesehatan jauh, warga yang tercecer dari bantuan karena lalai administrasi. Mereka adalah aliran hujan yang menemukan celah di antara genteng yang tampak rapi.
Hal itu kian jelas ketika menilik tragedi seorang siswa sekolah dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Anak usia 10 tahun itu memilih mengakhiri hidup karena tak mampu membeli buku tulis dan pena, kebutuhan yang nilainya tak lebih dari Rp 10.000. Angka ini mungkin tampak sepele bagi sebagian orang. Namun bagi keluarga yang hidup di batas kemampuan, angka kecil bisa berubah menjadi penghalang besar.
Pendidikan di atas kertas yang disebut gratis ternyata masih menyisakan biaya-biaya tak terlihat, seperti alat tulis, seragam, transportasi, serta rasa malu ketika tidak mampu mengikuti ritme kelas.
Tragedi di Jerebuu menjadi sentilan bahwa prioritas kebijakan seharusnya bukan sekadar infrastruktur atau kerapian visual, tetapi perlindungan bagi mereka yang paling rentan.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat partisipasi anak usia sekolah dasar (7–12 tahun) mencapai sekitar 99,19 persen pada 2024, menunjukkan hampir semua anak usia SD aktif bersekolah. Namun, akses terhadap fasilitas dan alat tulis masih sangat bervariasi antarwilayah.
Di banyak daerah tertinggal, keterbatasan ekonomi berjalan beriringan dengan minimnya dukungan psikososial di sekolah. Ketika tekanan hidup bertemu dengan rasa tak berdaya, celah itu melebar, dan hujan masuk tanpa permisi.
Kerapian yang menipu
Wacana kebijakan gentengisasi pun memicu pertanyaan, apakah prioritas saat ini sudah tepat? Genteng yang paling krusial bagi masa depan bangsa saat ini adalah pendidikan dan kesehatan.
Pendidikan adalah atap yang melindungi harapan jangka panjang. Kesehatan, termasuk kesehatan mental, adalah dinding yang menahan rapuhnya manusia di tengah tekanan hidup. Tanpa keduanya, kerapian kebijakan lain mudah runtuh diterpa hujan masalah sosial.
Kerapian visual bisa menipu. Apa yang tampak rapi di presentasi bisa saja berantakan di lapangan. Sebaliknya, kerja-kerja kecil di tingkat komunitas —bantuan alat tulis, pendampingan psikososial di sekolah, jangkauan layanan kesehatan dasar—mungkin tampak sepele, tetapi justru menutup celah yang paling menentukan.
Fokus hanya pada kerapian bisa berpotensi menimbulkan rasa puas diri yang berlebihan. Kita mengira rumah sudah aman hanya karena atapnya lurus. Namun, kita lupa mengecek apakah masih ada tetes yang jatuh di ruang tengah.
Dalam kondisi seperti itu, kritik tidak mengganggu gagasan estetika, tetapi berfungsi sebagai alat untuk meraba celah dan memastikan perlindungan benar-benar bekerja.
Tak selalu indah
Genteng rapi tak selalu indah adalah refleksi nalar warga, bukan tanda ketidaksukaan pada gagasan negara. Bahwasanya keindahan sosial bukan soal tampilan, melainkan soal fungsi.
Apakah kebijakan yang ada saat ini sudah melindungi yang lemah? Apakah layanan kesehatan menjangkau mereka yang jauh? Apakah bantuan tiba pada yang membutuhkan? Jika tidak, kerapian hanyalah ornamen, dan rumah tetap basah oleh hujan.
Rumah yang indah adalah rumah yang melindungi. Genteng yang baik bukan yang paling indah, tetapi yang paling rapat menutup celah. Dan dalam urusan publik, kerapian baru layak dirayakan bila sejalan dengan perlindungan nyata. Dengan begitu, tak ada lagi cerita anak yang kehujanan di bawah atap yang tampak rapi.
| Editor | : | ats |