Kebayoran dalam Ingatan: Antara Gang Sempit dan Kawasan Elit
Gang sempit di bilangan Cipete itu tak menawarkan petunjuk apa pun tentang rumah seorang mantan orang nomor dua di tubuh Polri, Komjen Polisi (Purn) Adang Daradjatun. Tak ada pagar menjulang, tak pula plakat nama.
Setelah tanya sana-sini ke penjual toko kelontong, Kami masuk lewat pintu belakang. Tak dinyana, justru di sanalah para tamu biasa disambut. Cara masuk yang terasa membumi, tanpa jarak.
Di sudut teras kecil, secangkir teh hangat dan sepotong kue di piring kecil sudah menunggu di meja. Rumah itu asri, tanaman hias menghijau di setiap sudut yang bisa dilihat, dirawat langsung oleh sang istri.
Di tengah panasnya Jakarta, taman mungil itu serupa oasis kecil yang membisikan keteduhan sekaligus membuka pintu pada cerita-cerita lama.
Sambil menyeruput teh, Adang sesekali menatap halaman rumahnya, seolah menyusun ulang ingatan tentang Kebayoran yang dulu.
"Dulu, gang-gang di setiap sudut Kebayoran masih seperti kampung,” katanya.
"Orang-orang kala itu saling kenal tetangga kanan-kiri. Polisi juga bukan figur yang jauh, berbeda dengan sekarang. Mereka sering duduk di warung kopi dengan warga, ngobrol soal masalah kampung," lanjut Adang.
Kenangan itu, kontras dengan wajah Kebayoran hari ini yang identik sebagai kawasan bisnis dan perumahan elite. Denyut modern tumbuh pesat di ruas-ruas jalan utama, seperti Sisingamangaraja hingga Blok M, simpul aktivitas urban yang tak pernah benar-benar tidur.
Bagi Adang, ingatan tentang Kebayoran masa kecil bukan sekadar nostalgia. Nilai kebersamaan, kedekatan sosial, dan rasa tanggung jawab kolektif di lingkungan itu mengajarkan bahwa hukum dan aturan seharusnya hidup di ruang sehari-hari. Bukan semata lahir dari gedung-gedung perkantoran di pusat kota.
Pola hidup komunitas inilah yang ikut membentuk cara pandangnya saat memilih jalan hidup sebagai polisi, bukan sekadar mengikuti jejak ayahnya sebagai jaksa.
Dari kayu bayur ke kota taman
Kenangan personal Adang tentang gang-gang kecil Kebayoran membuka pintu pada cerita yang lebih panjang tentang bagaimana kawasan ini terbentuk. Kebayoran bukan sekadar ruang tinggal. Ia menyimpan jejak sejarah perencanaan kota Jakarta.
"Nama Kebayoran itu sendiri punya asal yang menarik," ujar Adang.
Kata Kebayoran berasal dari istilah Betawi kabayuran, yang merujuk pada tempat penimbunan kayu bayur—sejenis kayu keras yang dahulu banyak tumbuh di wilayah ini.
Kayu-kayu besar itu ditumpuk di suatu titik, lalu lambat laun penanda geografis itu menjelma menjadi nama kawasan.
Kebayoran, khususnya Kebayoran Baru, tak serta-merta hadir seperti sekarang. Setelah Perang Dunia II, Kebayoran Baru dirancang pada masa pasca-Perang Dunia II sebagai kawasan permukiman baru untuk merespons kepadatan penduduk Jakarta, sebagaimana dicatat dalam buku Gerak Jakarta: Sejarah Ruang-Ruang Hidup Vol. 3.
Pada akhir 1940-an hingga awal 1950-an, Kebayoran Baru menjadi salah satu eksperimen awal kota satelit di ibu kota yang dirancang dengan tata ruang terencana, jalan lebar, fasilitas publik, serta ruang hijau yang lapang.
Pada masanya, konsep kota taman ini terbilang progresif. Ketika pusat Batavia kian sesak, Kebayoran ditawarkan sebagai wajah baru perencanaan kota modern yang teratur, bernapas, dan manusiawi.
Jejak gagasan itu masih terasa hingga kini, meski sebagian ruang hijaunya tergerus laju urbanisasi.
Nilai keteraturan inilah yang, menurut Adang, juga meresap ke dalam ritme hidup keluarga. Sejak kecil, ia dibiasakan hidup dengan pola yang tertib. Hari dimulai dengan olahraga pukul 05.00, lalu lanjut sarapan pukul 07.00, makan siang pukul 13.00, dan makan malam pukul 19.00.
Semua rutinitas itu nyaris tanpa kompromi. Pola hidup itu bukan sekadar soal waktu, melainkan tentang tanggung jawab pada diri sendiri dan lingkungan sekitar.
Kebayoran dalam ingatan dan kota hari Ini
Kini, Kebayoran tak lagi sekadar tempat kayu bayur ditumpuk atau kampung teduh di pinggiran kota. Ia telah menjelma kawasan elite, pusat bisnis, sekaligus simbol urbanitas Jakarta Selatan.
Namun, bagi Adang, bentuk fisik itu hanya satu sisi dari cerita yang lebih besar. Sisi lainnya adalah ingatan tentang ruang komunitas yang kuat, tempat negara dan warga pernah hadir berdampingan dalam skala yang sangat manusiawi.
Obrolan di ruang tamu Cipete itu terasa seperti perjalanan waktu singkat dari gang Kebayoran yang dulu dinaungi pepohonan hingga lanskap metropolitan yang kini menyatu dengan denyut Jakarta.
Dalam setiap kisah tentang polisi yang duduk di warung kopi, tentang tetangga yang saling mengenal, atau tentang ritme hidup yang teratur, terselip pesan tentang bagaimana sebuah kota pelan-pelan membentuk watak penghuninya.
"Saking asyik cerita Kebayoran sampai lupa kuenya enggak dimakan. Ayo disambi ngemil," ajak Adang.
Di luar, Jakarta makin bergerak begitu dinamis, menelan ruang demi ruang. Namun, di rumah sederhana itu, Kebayoran tetap hidup sebagai narasi, ruang sosial yang pernah membentuk masa kecilnya.
Kisah itu menjadi pengingat bahwa kota bukan semata deretan bangunan, melainkan lanskap pengalaman yang diam-diam menumbuhkan karakter orang-orang di dalamnya.
| Editor | : | ats |
