15 Tahun Yunita Menjaga Harapan dari Ruang Kelas Sederhana
"Guru bagi saya bukan sekadar profesi, tetapi panggilan hidup," kata Yunita Aris Wati (41) sembari merapikan buku-buku pelajaran di atas meja kayu yang ditutup taplak batik coklat.
Hal itu dituturkan Yunita kepada kami di sela jam istirahat, Jumat (2/1/2026). Yunita merupakan guru kelas VI SDN Tagungguh 2, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan.
Di luar kelas, suara anak-anak masih riuh bermain di lapangan sekolah. Di dalam, Yunita memilih tinggal sejenak, menikmati jeda sebelum kembali berdiri di depan papan tulis.
Ruang kelas itu sederhana. Di sanalah, sejak 2004, Yunita mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik.
Sekolah itu berada di Desa Tagungguh, wilayah di pesisir utara Pulau Madura. Dari pusat Kabupaten Bangkalan, jaraknya lebih dari 40 kilometer (km).
Dari pusat kecamatan, sekitar lima kilometer perjalanan. Lanskap perbukitan berbatu kapur menjadi bagian dari keseharian murid-murid di sana.
Jarak dan kondisi geografis membuat akses pendidikan tak selalu mudah untuk menjangkau pusat kota. Namun kegiatan belajar tetap berlangsung.
Yunita mengenang, ikhwal datang ke sekolah pada 2004 bukan dengan janji kesejahteraan. Awalnya, ia terpanggil turut membantu sekolah yang kekurangan tenaga pendidik.
Namun hari-hari yang terlewati bersama murid-murid membuat niat itu berubah menjadi pengabdian. Kedekatan dengan siswa dan lingkungan sekolah meneguhkan keputusannya untuk bertahan sebagai guru honorer, meski status itu nyaris tak pernah memberinya kepastian.
Di sejumlah daerah, kisah seperti ini bukan hal yang langka. Sekolah-sekolah, terutama di wilayah pinggiran, masih bergantung pada guru honorer untuk menutup kekurangan tenaga pendidik.
Keterbatasan anggaran membuat negara tak selalu mampu menghadirkan guru aparatur sipil negara (ASN) dalam jumlah memadai. Alhasil, ruang-ruang kelas diisi oleh mereka yang bekerja dalam skema kontrak berjangka.
Tahun demi tahun berlalu, solusi sementara itu menjelma kebiasaan. Di sejumlah wilayah, rasio guru dan murid pun belum sepenuhnya ideal. Pendidikan tetap berjalan, tetapi ditopang oleh mereka yang bekerja dalam bayang-bayang ketidakpastian.
Selama bertahun-tahun, Yunita mengajar dengan honor yang nyaris tak pernah cukup. Di masa awal, penghasilannya hanya berkisar Rp 150.000 per bulan.
Jumlah yang memaksanya mengencangkan ikat pinggang bersama anak lelaki semata wayangnya kala itu.
"Saya belajar hidup sederhana," tutur Yunita.
Kadang, ia mencari tambahan penghasilan agar kebutuhan harian bisa terpenuhi. Salah satunya dengan berdagang makanan, mulai dari mi ayam hingga seblak.
Namun yang membuatnya bertahan bukan semata urusan perut.
"Motivasi terbesar saya adalah anak-anak. Melihat semangat mereka belajar, mendengar cerita polos mereka, dan menyadari bahwa kehadiran saya dibutuhkan membuat saya bertahan meskipun secara materi sangat terbatas," kata tegas.
Kalimat itu seakan menjelaskan mengapa setiap pagi ia tetap datang, meski masa depan kerap terasa samar.
Penantian akan kejelasan status ia jalani sejak 2004. Tahun-tahun panjang sebagai guru honorer dilalui dengan harapan bahwa suatu hari jerih payah itu mendapat pengakuan.
Prosesnya bukan tanpa ragu. Administrasi yang berbelit, keterbatasan anggaran sekolah, hingga perubahan kebijakan silih berganti datang. Namun ia memilih tetap bertahan di kelas yang sama, dengan murid-murid yang terus berganti wajah.
Hingga Februari 2019, harapan itu akhirnya menemukan bentuk. Yunita lulus seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Bagi dirinya, pengangkatan sebagai guru PPPK bukan sekadar soal status dan penghasilan yang lebih layak. Ada rasa diakui setelah bertahun-tahun bekerja dalam sunyi.
Ada kelegaan setelah belasan tahun menggantungkan masa depan pada kepastian yang tak pernah datang tepat waktu.
Anak-anak pedesaan sebagai motivasi
Melihat murid datang ke sekolah dengan seragam yang kadang tak lagi sempurna, mendengar cerita polos mereka tentang rumah dan cita-cita, membuatnya merasa kehadirannya berarti.
Ia percaya, guru bukan hanya penyampai pelajaran, melainkan pembimbing yang ikut menentukan arah masa depan anak-anak. Maka, setiap kali melangkah ke kelas, ia berusaha datang dengan senyum dan energi positif. Anak-anak, baginya, tak perlu ikut menanggung letih orang dewasa.
Ada satu momen yang selalu ia ingat. Seorang murid yang semula kesulitan membaca, perlahan mulai mengeja, hingga akhirnya bisa membaca lancar di depan kelas.
Kepercayaan diri anak itu tumbuh, begitu pula keyakinannya bahwa jerih payah di ruang kelas kecil ini tak sepenuhnya sia-sia.
"Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan saya," katanya.
Di akhir perbincangan, Yunita menitipkan pesan untuk rekan-rekannya sesama guru honorer yang masih bertahan di ruang-ruang kelas kecil. Ia tahu betul rasanya menunggu dalam ketidakpastian.
Kesabaran dan konsistensi menjaga kualitas mengajar adalah cara untuk tetap bertahan di tengah situasi yang sering kali tak berpihak.
Ia juga berharap perhatian negara terhadap guru honorer tidak berhenti pada wacana. Bagi Yunita, kepastian status dan penghasilan yang layak bukan sekadar soal kesejahteraan pribadi, melainkan soal keberlanjutan pendidikan itu sendiri. Sebab, di banyak sekolah, ruang kelas tetap hidup berkat mereka yang bekerja dalam sunyi.
"Diangkat sebagai guru PPPK adalah titik balik dalam hidup saya. Ini bukan hanya soal status dan penghasilan, tetapi juga pengakuan atas pengabdian panjang yang telah saya jalani," kata Yunita.
Tak lama lagi bel pulang berbunyi. Yunita kembali berdiri, melangkah menuju kelas. Rutinitas itu tampak biasa, nyaris tak ada yang istimewa.
Namun di balik papan tulis dan bangku-bangku kayu yang berderet rapi, ada guru yang selama belasan tahun menjaga harapan.
Di ruang kelas sederhana di wilayah utara Madura itulah, Yunita merawat harapan, hari demi hari.
| Editor | : | ats |