Anak-anak Dayak Ngaju Sulap Hutan Jadi Laboratorium
Pagi di pedalaman Kapuas Tengah tak selalu berarti derap langkah anak-anak menuju kelas. Di SD Negeri 1 Barunang, beberapa bangku kerap kosong saat musim tanam tiba. Bukan karena murid enggan belajar, melainkan mereka sedang berada di ladang bersama orangtua, menanam padi, dan merawat kebun. Ritme hidup yang menghidupi keluarga mereka sejak lama.
Barunang merupakan salah satu desa di Kecamatan Kapuas Tengah, Kalimantan Tengah. Perkampungan ini sebagian besar dihuni masyarakat Dayak Ngaju. Keterpencilan bukan hanya soal jarak tempuh, tetapi juga memengaruhi ritme warga, termasuk ritme sekolah.
Akses menuju desa ini terbilang tak mudah. Setidaknya perlu menempuh perjalanan sekitar 7,5 jam dengan kendaraan offroad dari Kota Palangkaraya ke Desa Barunang. Bila hujan turun, waktu tempuh bisa lebih lama karena jalanan berubah menjadi kubangan lumpur.
Tak heran, Desa Barunang masuk kategori terpencil, tertinggal, dan terluar (3T). Di sini, kalender sekolah kerap beririsan dengan kalender alam.
Ketika hujan turun teratur dan tanah siap digarap, anak-anak ikut orangtua menyusuri jalan tanah menuju kebun.
"Ada yang izin sampai sebulan karena ikut ke ladang saat musim tanam atau panen," tutur Guru SDN 1 Barunang, Chris Maneri J Wi (37).
Bagi guru-guru di Barunang, kehadiran murid adalah soal yang harus dinegosiasikan dengan realitas ekonomi keluarga.
Tradisi berladang bagi masyarakat Dayak Ngaju bukan sekadar urusan pangan. Di banyak kampung pedalaman Kalimantan Tengah, praktik perladangan berpindah masih dijalankan sebagai bagian dari kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.
Pola tersebut mengikuti siklus alam, yakni membuka lahan secara terbatas, menanam, lalu memberi waktu tanah untuk bernapas sebelum digarap kembali. Warga setempat mengenal padi ladang yang ditanam di lahan berbukit kerap disebut sawah gunung.
Sejumlah riset menunjukkan, praktik tersebut menyimpan pengetahuan ekologis lokal tentang kesuburan tanah, musim, dan keseimbangan hutan.
Studi peneliti Wageningen University oleh Y A Silvianingsih, K Hairiah, D Suprayogo, dan M van Noordwijk, menjelaskan, komunitas Dayak Ngaju secara tradisional memadukan agroforestri dengan rotasi ladang di kawasan tepi sungai dan rawa gambut dangkal.
Pola tersebut bukan sekadar cara bertani, tetapi strategi bertahan hidup yang berupaya menjaga daya dukung lingkungan.
Bagi keluarga di Barunang, ladang juga menjadi ruang belajar pertama bagi anak-anak tentang kerja, kebersamaan, dan relasi manusia dengan alam.
Sekolah tak memutus ikatan itu. Pihak sekolah memilih memahami tanpa melepaskan prinsip. Izin diberikan, tetapi tanggung jawab belajar tetap ditagihkan ketika murid kembali.
Konsekuensi akademik tetap berlaku bila capaian menurun. Namun satu hal yang dipegang para guru di sana, yakni tidak ada anak yang putus sekolah.
"Kami paham kondisi ekonomi orangtua mereka. Tapi saat kembali ke sekolah, anak-anak harus mengejar pelajaran yang tertinggal," kata Chris.
"Menyulap" hutan jadi laboratorium
Keterbatasan fasilitas menambah tantangan mengajar di kawasan terdalam Kalimantan Tengah.
Chris bercerita, dulu akses ke Barunang hanya lewat sungai dengan kapal kecil atau sampan. Jalan darat baru relatif mudah dilalui setelah 2010. Meski demikian, sarana pendidikan masih terbatas.
Banjir musiman pernah merusak buku dan peralatan sekolah. Pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) pun sempat menumpang di sekolah lain karena sarana prasarana belum memadai.
"Waktu ANBK, kami menumpang komputer di SMK swasta," katanya.
Dalam ritme kelas yang kadang bolong, para guru berusaha menjaga pembelajaran tetap hidup. Metode disesuaikan agar murid yang kembali dari ladang tak tertinggal jauh. Remedial, pengulangan materi, dan pendampingan dilakukan sebisanya.
Di sela keterbatasan, alam sekitar menjadi ruang belajar tambahan. Hutan dan sungai di sekitar desa kerap dijadikan media pembelajaran kontekstual agar pelajaran terasa dekat dengan keseharian murid.
"Kalau anak-anak di kota belajar biologi di laboratorium, di sini kami belajar langsung di hutan belakang sekolah," imbuh Chris.
Ia sering mengajak murid mengenal tanaman, hewan, dan sungai di sekitar desa. Dari sanalah mereka belajar tentang ekosistem, rantai makanan, hingga pentingnya menjaga lingkungan.
Bagi anak-anak Dayak Ngaju, ikut orangtua ke ladang bukan sekadar membantu ekonomi keluarga, tetapi bagian dari proses tumbuh. Di situlah mereka belajar tentang musim, tanah, dan kerja bersama.
Sekolah mencoba menjahit pengalaman itu dengan dunia belajar di kelas. Mengaitkan pelajaran dengan tumbuhan, siklus tanam, hingga tanggung jawab menjaga alam sebagai sumber hidup.
Di balik upaya itu, para guru memikul harap sederhana tentang dukungan yang lebih adil, baik dari pemerintah maupun pemangku kepentingan di kawasan tersebut.
Pada musim panen, kelas kembali terisi. Anak-anak datang dengan tangan yang masih menyimpan cerita tentang ladang, lumpur di kaki, dan padi yang mulai menguning. Mereka membawa tekad untuk kembali mengejar pelajaran.
Di SD Negeri 1 Barunang, pendidikan tidak selalu berjalan lurus mengikuti kalender akademik. Ia berdenyut mengikuti musim.
Sekolah memilih menunggu—bukan untuk menyerah, melainkan agar tak satu pun anak tertinggal dari masa depannya sendiri.
| Editor | : | ats |
