Kita Butuh Buku untuk Ruang Berpikir dan Menyelami Gagasan Secara Utuh
Di tengah budaya scroll yang membuat jemari tak berhenti menyentuh layar ponsel, membaca buku hari ini terasa seperti tindakan yang melawan arus. Aktivitas yang menuntut fokus dan durasi itu seolah berjalan pelan saat dunia bergerak serba cepat.
Notifikasi berdentang, video berganti hanya dalam hitungan detik. Namun, memilih duduk tenang bersama satu buku di tengah berisiknya ranah digital menjadi keputusan yang tidak populer.
Hal itu menjadi kegelisahan Cania Cita dan Abigail Limuria. Keduanya tumbuh dan aktif di ruang digital, akrab dengan algoritma dan linimasa yang bergerak cepat. Dalam ritme tersebut, mereka justru melihat kebutuhan akan ruang yang lebih lambat. Ruang untuk berpikir dan menyelami gagasan secara utuh.
“Orang sebenarnya masih mau membaca. Namun kita hidup di lingkungan yang terus menarik perhatian kita ke arah lain. Buku akhirnya kalah bukan karena tidak relevan, tapi karena distraksinya terlalu kuat,” ujar Cania pada peluncuran Malaka Books di Jakarta Pusat, Minggu (15/2/2026).
Bagi Cania, membaca bukan sekadar aktivitas, melainkan latihan ketahanan mental. Kemampuan bertahan dalam satu alur pemikiran kian langka ketika perhatian terus diperebutkan.
Abigail pun merasakan hal serupa. Ia menilai persoalan hari ini bukan semata minat baca yang menurun, melainkan bagaimana membaca diposisikan dalam budaya yang serbacepat.
“Hal yang ingin kami bangun bukan cuma orang beli buku, tapi orang selesai membaca dan memikirkannya. Ada perbedaan besar antara tahu sesuatu dan benar-benar memahami sesuatu,” kata Abigail.
Kegelisahan itulah yang kemudian melahirkan Malaka Books, penerbit yang ingin menghadirkan kembali ruang bagi gagasan panjang di tengah dunia yang serba ringkas.
Rangsangan instan
Fenomena distraksi digital memang bukan sekadar asumsi. Penelitian yang dilakukan Dr Gloria Mark dari Universitas California pada 2004 menunjukkan bahwa rerata rentang perhatian seseorang saat bekerja di depan layar komputer hanya sekitar 2,5 menit atau 150 detik sebelum terdistraksi atau berpindah tugas.
Dalam pengukuran lanjutan, angka tersebut bahkan disebut terus menyusut hingga mendekati kurang dari satu menit. Gangguan bukan lagi pengecualian, melainkan menjadi pola yang semakin umum.
Ketika informasi hadir dalam potongan 15–30 detik, otak terbiasa dengan rangsangan instan. Membaca buku yang menuntut fokus, kesabaran, dan durasi pun terasa semakin berat dalam lanskap digital seperti ini.
Namun di Indonesia, data menunjukkan arah yang tidak sepenuhnya sejalan dengan kekhawatiran tersebut.
Indeks Tingkat Gemar Membaca (TGM) periode 2020–2024 tercatat naik 4,17 persen. Angkanya meningkat dari 55,74 pada 2020 menjadi 72,44 pada 2024. Meski masih dalam kategori “sedang”, tren ini menunjukkan bahwa minat baca belum sepenuhnya tergeser oleh budaya digital.
Survei Snapcart pada Oktober 2024 juga mencatat 88 persen responden memiliki minat membaca, dan 42 persen mengaku membaca setiap hari.
Sementara itu, survei Jakpat menunjukkan Gen Z mencatat angka minat membaca sebesar 26 persen—lebih tinggi dibandingkan milenial (20 persen) dan Gen X (18 persen).
Data tersebut menghadirkan paradoks. Generasi yang paling dekat dengan media sosial justru menunjukkan minat baca yang relatif lebih tinggi.
Mencari keseimbangan
Bagi Cania dan Abigail, paradoks itu menjadi ruang harapan. Mereka melihat generasi muda bukan kehilangan fokus, melainkan sedang mencari keseimbangan di tengah derasnya arus informasi.
“Kalau kita terbiasa hanya menerima potongan informasi, kita akan kesulitan memahami konteks besar. Buku memaksa kita untuk menyelam, bukan hanya mencelupkan kaki,” ujar Cania.
Karena itu, Malaka Books tidak hanya berfokus pada isi, tetapi juga pengalaman membaca. Mereka memperhatikan ilustrasi, tata letak, hingga desain visual agar tetap relevan dengan selera generasi yang tumbuh bersama layar.
“Kita tidak bisa menyalahkan teknologi. Media sosial itu realitas. Justru kita harus memanfaatkannya sebagai pintu masuk. Tapi setelah itu, pembaca perlu ruang yang lebih tenang untuk mendalami sesuatu,” kata Abigail.
Maraknya komunitas baca, BookTok, hingga silent reading club di berbagai kota menunjukkan kebutuhan akan kedalaman tidak benar-benar hilang. Anak muda tetap mencari ruang diskusi dan refleksi, bukan sekadar konsumsi informasi cepat.
Mendirikan penerbit di era scroll culture tentu bukan langkah tanpa risiko. Industri buku menghadapi tantangan distribusi dan kompetisi atensi yang ketat. Namun bagi Cania dan Abigail, risiko tersebut adalah bagian dari komitmen.
Saat perhatian terasa semakin rapuh, mereka justru melihat buku menemukan relevansinya kembali—bukan sebagai tandingan teknologi, melainkan sebagai ruang untuk tinggal lebih lama dalam satu gagasan.
Di tengah budaya yang terus menggeser layar, membaca buku mungkin tampak seperti tindakan kecil. Justru di situlah letak perlawanannya.
| Editor | : | ats |