Memilih Thrifting Bukan Melulu Karena Bokek, Tapi Jadi Langkah Kecil untuk Peduli
Aroma khas tekstil lama langsung tercium saat memasuki lantai 2 Blok III Pasar Senen, Jakarta Pusat. Area ini nyaris tidak pernah sepi. Suara pedagang yang menawarkan dagangan berbaur dengan bunyi hanger yang digeser bolak-balik oleh pembeli, menjadi pemandangan harian di pusat thrifting ini.
Dari Blok III hingga Blok VI, deretan kios yang menjual kaos, jaket, hingga sepatu bermerek menjadi daya tarik utama. Dengan harga mulai dari Rp 20.000, siapa pun bisa mendapatkan pakaian berkualitas.
Namun, bagi Dito (38) dan Aqesya (27), datang ke sini bukan sekadar mencari barang murah, melainkan pilihan sadar untuk merespons dampak industri fesyen yang makin berlebihan.
Memperpanjang masa pakai
Dito, yang sudah rutin membeli pakaian bekas selama lima tahun terakhir, melihat kebiasaan ini sebagai cara praktis untuk menekan ketergantungan pada produk fast fashion.
Untuk diketahui, fast fashion adalah istilah untuk industri tekstil dengan siklus produksi kilat yang terus berganti model dalam waktu singkat.
Menurut Dito, kios-kios thrifting, termasuk di Pasar Senen, adalah contoh bagaimana ekonomi sirkular menggeliat. Di sinilah nilai ekonomi dan isu lingkungan bertemu pada setiap pakaian yang berpindah tangan.
"Justru rasa peduli lingkunganlah yang memicu saya mengadopsi gaya hidup dengan thrifting," ujar Dito kepada kami, beberapa waktu lalu.
Ia menyadari bahwa setiap pakaian bekas yang dibeli berarti mengurangi beban terhadap sumber daya alam (SDA). Dengan memakai kembali baju yang sudah ada, tekanan lingkungan akibat proses produksi massal bisa sedikit diredam.
Meski harus telaten membongkar tumpukan baju untuk mencari ukuran yang pas, Dito mengaku puas karena tahu pakaiannya tidak langsung berakhir di tempat pembuangan akhir.
"Dengan mengembalikan sebuah barang ke putaran ekonomi, kita mengurangi permintaan tekstil baru. Ini juga mengurangi penggunaan poliester, bahan plastik yang susah terurai di alam," tutur Dito.
Dilema konsumsi berlebih
Pengalaman Dito sejalan dengan Aqesya, Generasi Z yang sudah aktif berburu pakaian bekas sejak 2014.
Awalnya, ia hanya mencari bahan bagus dengan harga miring. Namun seiring waktu, fokusnya bergeser karena kegelisahan melihat besarnya limbah fesyen yang dihasilkan setiap tahun.
"Alasan utamanya karena saya tahu fakta bahwa sampah fesyen itu salah satu yang paling sulit didaur ulang," ungkap Aqesya.
Karena sudah bertahun-tahun menjelajahi kios-kios thrifting di berbagai tempat, Aqes bahkan hafal pola harga hanya dengan melihat lokasi kiosnya.
Meski begitu, Aqesya memberikan catatan penting bagi sesama pembeli pakaian bekas. Ia menekankan bahwa thrifting bisa kehilangan makna jika hanya menjadi ajang belanja impulsif tanpa kendali.
"Kalau melihat sampahnya, kebiasaan belanja berlebihan tanpa kontrol diri akhirnya tetap saja membuat sampah fesyen menumpuk di rumah," tambahnya.
Baginya, semangat utama pakaian bekas adalah menekan limbah, bukan sekadar memindahkan kebiasaan konsumtif dari mal ke pasar loak.
Di balik tumpukan baju
Kekhawatiran Dito dan Aqes bukan tanpa alasan. Industri fesyen dunia saat ini menyumbang sekitar 10 persen dari emisi karbon global—angka yang lebih besar dari gabungan emisi seluruh penerbangan internasional dan pelayaran maritim.
Di Amerika Serikat (AS), limbah tekstil diperkirakan mencapai 11,3 juta ton per tahun. Secara global, angka ini sejalan dengan data bahwa 85 persen dari seluruh tekstil berakhir di tempat pembuangan sampah setiap tahunnya.
Namun, kerusakan sudah dimulai jauh sebelum pakaian itu menjadi sampah. Kapas, serat alami yang menyusun sekitar 33 persen pakaian kita, ternyata memiliki jejak air yang sangat haus.
Melansir World Resources Institute (WRI), dibutuhkan sekitar 2.700 liter air hanya untuk memproduksi satu kemeja katun. Jumlah ini setara dengan kebutuhan air minum satu orang selama dua setengah tahun.
Dampak dari konsumsi air yang berlebihan ini bukan sekadar angka di atas kertas. Di Asia Tengah, eksploitasi air sungai untuk perkebunan kapas telah menyebabkan Laut Aral hampir menghilang sepenuhnya.
Di sinilah peran pakaian bekas menjadi krusial. Dengan memperpanjang usia pakai satu potong jaket saja, kita tidak hanya mengurangi limbah dan menekan jejak karbon manufaktur baru, tetapi juga secara langsung ikut menghemat ribuan liter air.
Kesadaran akan dampak lingkungan inilah yang kemudian memberi nilai lebih pada setiap transaksi di pasar ini.
Antara tampil beda dan jaga lingkungan
Pasar Senen kini bukan lagi sekadar pelarian bagi mereka yang berkantong tipis. Deretan kios di pasar yang dulu dikenal dengan Vinckepasser ini telah menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyeimbangkan keinginan tampil beda dengan tanggung jawab menjaga lingkungan.
Melalui cerita Dito dan Aqes, terlihat bahwa setiap transaksi di lantai beton Senen adalah bagian dari upaya kolektif memutar roda ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Thrifting memang bukan jawaban tunggal atas krisis limbah tekstil, tapi telah menjadi langkah taktis bagi siapa pun yang ingin mulai peduli.
Selama dilakukan dengan kesadaran, selembar baju bekas hari ini adalah langkah kecil untuk bumi yang lebih bersih di masa depan.
| Editor | : | ats |