Lola Amaria dan Warisan Terakhir Para Penyintas Sejarah yang Dibungkam oleh Para Pemenang
Malam itu, keriuhan di salah satu bioskop di Jalan Asia Afrika, Jakarta Pusat, terasa sedikit berbeda. Di tengah kerumunan penonton yang didominasi anak muda, tampak Lola Amaria—mengenakan kaos putih simpel yang dipadukan dengan rok wiru hitam—sibuk mengawal pemutaran film dokumenter, Eksil.
Begitu lampu studio menyala dan kredit film berakhir, kami berpapasan dengannya di lorong bioskop.
Sambil tetap berdiri, sineas ini menyanggupi permintaan wawancara singkat kami, meski sisa-sisa emosi dari film yang baru saja diputar masih terasa di benak.
Dalam obrolan santai namun mendalam itu, Lola berkisah bahwa layar lebar di masa kecilnya hanya menyajikan satu warna sejarah yang kelam, kaku, dan menakutkan.
“Sebagai anak yang tumbuh besar di bawah panji Orde Baru, saya adalah bagian dari generasi yang ‘dicekoki’ narasi tunggal melalui film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI,” ujar Lola.
Bagi Lola, sinema kala itu bukan sekadar hiburan, melainkan instrumen doktrin yang memaksa tiap kepala untuk meyakini satu versi kebenaran tanpa celah untuk bertanya.
Pengalaman menjadi objek penyeragaman narasi itulah yang kemudian memicu lahirnya Eksil sebagai sebuah penawar bagi amnesia sejarah kolektif.
Menghadirkan opsi di atas meja sejarah
Lola bercerita kepada kami bahwa kehadirannya di kancah perfilman dokumenter sejarah bukanlah untuk melakukan konfrontasi frontal atau sekadar meluruskan sejarah dengan nada menggurui.
Ia lebih memilih posisi sebagai penyedia alternatif bagi masyarakat yang selama ini hanya disuguhi informasi satu arah dari buku teks sekolah.
"Ada film versi pemerintah, dan film ini adalah versi saksi-saksi hidup," ungkap Lola tenang tapi sarat ketegasan.
Baginya, pendidikan sejarah yang sehat baru bisa terwujud saat penonton diberikan otoritas penuh untuk menimbang dan memilih sendiri kebenaran yang paling masuk akal bagi nalar mereka.
Melalui Eksil, Lola ingin membuktikan bahwa film memiliki kekuatan magis dalam menyampaikan pesan edukasi karena sifatnya yang visual dan emosional.
Setiap momen Hari Pendidikan Nasional, ia berharap kontribusi kecilnya ini bisa menjadi pembanding. Terutama, bagi generasi muda yang selama ini hanya mengenal para eksil sebagai nama-nama tanpa wajah dan tanpa suara.
Sepuluh tahun membasuh trauma visual
Proses membedah sisa-sisa indoktrinasi masa lalu ternyata membutuhkan waktu satu dekade perjuangan yang menguras energi dan air mata.
Lola menceritakan betapa ia harus menempuh perjalanan panjang ke berbagai penjuru Eropa demi menemui narasumber yang masih menyimpan trust issue atau rasa curiga akut terhadap orang asing.
Para penyintas sejarah itu hidup dalam bayang-bayang trauma puluhan tahun karena merasa terus diawasi oleh mata-mata, bahkan jauh setelah kekuasaan lama tumbang.
“Saya memposisikan diri bukan sebagai sutradara yang ingin mengeksploitasi penderitaan mereka, melainkan sebagai seorang pendengar yang ingin membuka tabir gelap yang menyelimuti nasib mereka,” tutur Lola.
Dedikasinya sebagai "detektif sejarah" teruji saat ia harus memburu arsip-arsip video otentik untuk menopang setiap kesaksian lisan yang ia rekam.
Saat narasumber menyebut tentang gejolak Perestroika atau sosok-sosok kunci seperti Aidit dan Gus Dur, Lola merasa punya tanggung jawab moral untuk menyajikan bukti visual pendukung agar penonton tidak jenuh dengan format wawancara semata.
Ironisnya, waktu sering kali lebih kejam daripada birokrasi; satu per satu narasumbernya wafat sesaat setelah proses syuting rampung.
Hal itu membuat Eksil bukan sekadar film, melainkan wasiat terakhir dari para saksi hidup yang selama ini suaranya diredam paksa oleh sejarah para pemenang.
Memutus rantai ketakutan kolektif
Di setiap pemutaran filmnya, Lola sering kali menemui penonton muda yang tertegun dan merasa asing dengan narasi yang ia sajikan.
"Saya enggak pernah dapat informasi ini di sekolah," adalah kalimat yang paling sering mendarat di telinganya, bukti bahwa ada satu generasi yang sengaja diputus aksesnya terhadap fakta.
Lola menyadari betul bahwa membicarakan peristiwa 1965 di Indonesia masih sering memicu rasa gentar, bahkan bagi dirinya sendiri yang berdiri di balik layar.
Namun, ia memilih untuk tetap melangkah karena percaya bahwa ketakutan yang terus dipelihara hanya akan membuat bangsa ini berjalan di tempat tanpa pernah dewasa secara intelektual.
"Mau sampai kapan kita ditakut-takuti?" tanya Lola retoris kepada kami, seolah mengajak audiens untuk merenungkan kembali arti kemerdekaan berpikir.
Baginya, film Eksil adalah sebuah tes keberanian kolektif untuk melihat masa lalu dengan mata terbuka, tanpa perlu merasa terancam oleh hantu-hantu ideologi masa silam.
Kini, Eksil telah mengantongi izin lulus sensor untuk kategori 13 tahun ke atas, sebuah kemenangan kecil dalam ruang legal yang memungkinkan narasi ini menjangkau pelajar.
Melalui karya ini, Lola Amaria telah membuktikan bahwa sinema bisa menjadi instrumen pendidikan yang jauh lebih jujur untuk memerdekakan nalar dari sisa-sisa bayang-bayang masa lalu yang kelabu.
| Editor | : | ats |