Focus

Lingkaran Setan Candu Digital

Penulis - ats | 14 Juli 2026
Ilustrasi-Lingaran Setan Candu Digital (Rachel Lee)

Dulu, orang bilang dunia ini panggung sandiwara. Namun di masa kini, media sosial telah bertransformasi menjadi panggung digital di mana setiap orang berlomba memperlihatkan potongan terbaik dari hidup mereka.

Di balik layar gawai, para pemengaruh atau influencer hadir dengan skenario dan tema yang memikat mata. Ada yang panggungnya bertemakan perjalanan keliling dunia menjelajah 150 negara, gaya hidup sehat dengan pamer lekuk otot di pusat kebugaran, duduk manis di belakang meja rias dikelilingi produk perawatan kulit mahal, hingga konten ulasan restoran dari yang merakyat sampai yang bertarif jutaan rupiah sekali makan.

Setiap pemengaruh tentu memiliki basis pengikut setia yang enggan melewatkan satu pun pembaruan kabar dari sang idola. Fenomena keterikatan ini ditangkap jeli oleh industri. Platform Instagram, misalnya, kini menghadirkan layanan berlangganan (subscription) berbayar demi memuaskan rasa ingin tahu tersebut.

Para pengikut rela merogoh kocek mulai dari Rp 7.000 hingga Rp 79.000 per bulan hanya demi mendapatkan akses ke konten eksklusif dan informasi paling personal si influencer.

Harapannya sederhana, bisa menemukan hiburan, merasa terhubung erat dengan dunia luar dan influencer, serta mendongkrak suasana hati demi mencapai kesejahteraan subjektif (subjective well-being/SWB) yang lebih baik.

Tak bisa dimungkiri, memang ada letup kesenangan tersendiri saat berhasil mengintip kehidupan intim sang idola yang tak bisa diakses orang biasa.

Namun, di sinilah ironi itu dimulai. Alih-alih mendongkrak kebahagiaan, terserap ke dalam aktivitas medsos tanpa kendali perlahan justru mengikis kedamaian batin.

Alih-alih mereguk kebahagiaan, kecanduan medsos yang berlebihan dapat memicu pembandingan diri yang berujung pada ketidakpuasan mendalam terhadap kehidupan nyata yang sedang dijalani sendiri.

Lingkaran setan candu digital
Studi yang dirilis Burnell bahkan menyebut candu digital yang tak berkesudahan ini ibarat lingkaran setan. Hubungan antara tingkat kesejahteraan subjektif dan intensitas penggunaan situs jejaring sosial ternyata berjalan dua arah secara siklis.

Di satu sisi, individu yang sedang merasa tidak puas dengan keseharian di dunia nyata cenderung mengalihkan pandangan mereka ke layar gawai. Ini menjadi jalan pintas yang murah dan mudah untuk melarikan diri dari emosi negatif serta rasa sepi.

Namun di sisi lain, semakin intens seseorang berselancar di linimasa, semakin rentan mereka terpapar pada proses evaluasi diri yang bias. Kita dipaksa menyaksikan jajaran manipulasi visual dari kehidupan orang lain yang tampak tanpa celah. Proses komparasi yang pincang ini secara konsisten menurunkan level SWB pengguna.

Akibatnya, alih-alih mendapat suntikan kebahagiaan, pengguna yang makin merasa terpuruk justru kembali mencari pelarian di platform digital yang sama. Siklus berulang ini membuka celah lebar bagi berkembangnya kecanduan medsos.

Kunci dari siklus destruktif tersebut terletak pada bagaimana psikologis manusia memproses informasi secara daring.

Saat melihat unggahan yang menampilkan pengalaman keren atau pencapaian orang lain, muncul perasaan tidak nyaman bahwa diri kita sedang melewatkan sesuatu yang penting atau dikucilkan dari lingkaran sosial.

Jembatan emosional negatif
Perasaan cemas yang menghantui inilah yang dikenal sebagai fear of missing out (FOMO). Dalam kacamata psikologi, FOMO bertindak sebagai jembatan emosional negatif yang memperkuat dorongan obsesif untuk terus memantau layar gawai.  Saking gandrungnya, tak terasa baru bisa tidur saat dini hari.

Kalau sudah ketergantungan seperti itu, cirinya mudah dilihat, seperti perubahan suasana hati saat menatap layar, toleransi waktu (hingga larut malam) yang terus meningkat agar merasa puas, serta gejala penarikan diri (withdrawal) berupa kecemasan akut ketika HP dijauhkan dari genggaman.

Fenomena panggung sandiwara digital ini mengingatkan kita untuk mendefinisikan ulang cara kita berinteraksi dengan teknologi. Media sosial bukanlah cermin paling jujur yang merefleksikan realitas kehidupan, melainkan ruang kurasi digital yang sarat rekayasa estetika.

Ketika orientasi penggunaannya tidak diarahkan dengan bijak, janji manis tentang kebahagiaan instan di ruang siber justru akan terus menuntut bayaran mahal berupa runtuhnya kedamaian psikologis di dunia nyata.

Editor : ats
Komentar
Editor Picks