Uang Lima Puluh Ribu di Kantong "Karjimut" (Karyawan Gaji Imut)
Selembar uang Rp 50.000 serasa tak berarti untuk hidup sehari di ibu kota bernama Jakarta. Kelompok karyawan gaji imut atau "karjimut" mesti pandai-pandai mengatur rasa cukup dengan selembar logam mulia versi kertas berwarna biru muda itu.
Dulu, saat memori masa kecil masih segar, mendapat uang saku atau sangu dari paman sebesar Rp 50.000 terasa amat wah. Uang itu bisa ditukar dengan rentetan jajanan warung, bahkan masih menyisakan kembalian untuk ditabung.
Kini, setelah mereka berhasil memerah keringat sendiri di belantara beton Jakarta, nominal ini serasa kehilangan taji. Di hadapan kasir-kasir retail modern Jakarta, Rp 50.000 tak lebih dari sekadar karcis numpang lewat.
Sebelum berangkat bekerja menghadapi rutinitas komuter yang menjemukan, Rezki Wahab mesti mengisi lambung terlebih dahulu. Maklum, sedari kecil ia dibiasakan ibunya untuk sarapan. Katanya, biar ada tenaga dan konsentrasi tetap terjaga selama jam kerja.
Betul saja, bagi Rezki itu bukan sekadar nasihat kolot orangtua, melainkan pesan mujarab agar ia tetap waras dan menjaga mood-nya tetap bagus seharian di bawah tekanan tenggat waktu kantor.
Ia punya warung nasi langganan di dekat indekos tempat ia tinggal. Bude Anik namanya, seorang perantau asal Lampung yang masakannya kebetulan sangat cocok dengan lidah Rezki yang dibesarkan di Kota Kediri.
Sajian sayur lodeh bersantan buatan Bude senada dengan olahan sang ibu di rumah. Apalagi, menu ini disandingkan dengan ikan salem yang digoreng garing. Renyah dan gurih. Sebuah kemewahan domestik yang instan bagi anak rantau yang rindu rumah.
Namun sayang, romansa rasa itu harus berbenturan dengan realitas harga. Tarif yang dibanderol Bude Anik baginya terlalu mahal untuk ukuran kantong karjimut. Seporsi nasi putih dihargai Rp 5.000. Yang bikin sedih, nasi tersebut hanya secentong tipis—jauh dari kata mengenyangkan untuk ukuran pekerja pria.
Ikan salem kesukaannya dihargai Rp 9.000 untuk dua ekor ukuran kecil. Sementara, dua sendok sayur lodeh dibanderol Rp 5.000. Jika ditotal, ia mesti membayar Rp 19.000 hanya untuk urusan sarapan pagi.
Warung lain di sekitar kos harganya juga mirip-mirip. Jika mau mencari yang lebih murah sebenarnya ada, tetapi kualitas berasnya mirip beras bansos; apek, bulir patah-patah, dan tidak pulen. Sungguh pilihan dilematis yang tak menyenangkan bagi Rezki.
Logika matematika karjimut
Mari kita bedah dompet Rezki menggunakan kalkulator realitas. Dari modal Rp 50.000 di kantong, setelah dikurangi ritual sarapan pagi di warung Bude Anik sebesar Rp 19.000, kini anggarannya menyusut menjadi Rp 31.000.
Sisa anggaran yang krusial ini langsung menghadapi ujian berat saat jam penahan kantuk tiba menjelang siang hari.
Sebagai pekerja kreatif, kafein adalah bahan bakar wajib. Paling standar, Rezki akan membeli kopi di convenience store jaringan Jepang seharga Rp 16.000—yang rasa kopinya entah ke mana karena tenggelam oleh es batu dan susu encer. Jika ingin yang lebih murah, ada es kopi keliling seharga Rp 12.000 yang rasanya dominan manis gula sakarin.
Katakanlah Rezki memilih opsi logis convenience store demi gengsi rasa dan kandungan kafein yang agak mendingan; maka sisa uang di dompetnya kini mengerucut menjadi Rp 15.000 saja. Angka ini adalah alarm, mengingat matahari bahkan belum mencapai titik puncaknya.
Dengan sisa Rp 15.000, menu makan siang Rezki di area perkantoran segi empat emas Jakarta praktis terancam.
Jangankan untuk membeli ayam geprek, untuk menebus seporsi ketoprak tanpa telur di pinggir jalan saja uangnya sudah pas-pasan. Di titik inilah kalkulasi matematika di atas kertas sering kali buyar oleh realitas sosial di tempat kerja.
Dompet yang jebol
Di Jakarta, makan siang bukan lagi sekadar aktivitas biologis untuk mengisi lambung yang kosong, melainkan sebuah instrumen sosial. Di sinilah godaan terbesar itu datang. Kadang, ajakan rekan kerja satu tim untuk memesan makanan secara kolektif via aplikasi ojek online tidak bisa ditolak dengan mudah.
Menolak patungan pesanan kelompok atau melewatkan sesi coffee break sore hari sering kali dibayar mahal dengan sanksi sosial yang tidak tertulis: perasaan terasing dari pergaulan kantor, dicap tidak solider, atau kehilangan akses ke obrolan-obrolan penting di luar pekerjaan.
Namun, jika Rezki menyerah pada tekanan sosial itu, alhasil ia harus siap menerima kenyataan bahwa dompetnya akan "boncos" sebelum jam pulang kantor tiba.
Bertahan hidup di Jakarta bagi para karjimut akhirnya bergeser dari masalah pemenuhan kalori menjadi masalah pengelolaan gengsi dan menjaga ekspektasi sosial. Mereka dipaksa waras di tengah ekosistem yang menuntut penampilan serbaberada.
Apakah Rp 50.000 sehari cukup untuk hidup di Jakarta? Jawabannya selalu relatif dan bersayap.
Uang itu akan cukup jika daya menahan diri seseorang sekuat baja dan rela mengorbankan kehidupan sosialnya. Namun, uang itu akan langsung menguap tak bersisa jika pertahanan iman terhadap godaan tongkrongan mudah runtuh.
Rezki ingin sambat rasanya. Tapi ia tahu, mengeluh tidak akan menurunkan harga secentong nasi Bude Anik.
Pada akhirnya, lembaran Rp 50.000 itu kembali bermuara pada kompromi-kompromi kecil yang melelahkan setiap harinya.
Rezki, dan jutaan karjimut lainnya yang memadati koridor-koridor Sudirman hingga Thamrin, dipaksa menjadi akuntan ulung bagi kehidupan mereka sendiri.
Mereka adalah potret kelas pekerja urban yang terjebak di antara kalkulasi harga secentong nasi dan harga sebuah kewarasan mental—yang kian hari harganya kian mahal dan tak terbeli di ibu kota.
| Editor | : | ats |