Menyelami Makna Penghasilan
Penghasilan bukan sekadar angka-angka yang mengalir ke rekening, tetapi sebuah cerminan dari perjalanan hidup, integritas, dan hubungan kita dengan alam semesta.
Penghasilan, dalam esensinya, adalah energi yang diukur—sebuah manifestasi dari usaha, kejujuran, dan keseimbangan. Namun, ketika angka itu melampaui batas kewajaran, bukankah kita wajib bertanya: apakah ini selaras dengan hukum kosmik dan moral yang mengikat kita sebagai manusia?
Bayangkan seorang pegawai negeri pada tahun 1990, lulusan sarjana, yang menerima gaji pokok Rp60.000 per bulan untuk golongan III/a.
Angka itu, di zamannya, adalah cerminan kerja keras dan dedikasi. Kini, di tahun 2025, menurut data resmi Kementerian Keuangan Indonesia, gaji pokok PNS golongan III/a berkisar antara Rp2,5 juta hingga Rp4,2 juta per bulan, belum termasuk tunjangan.
Presiden Joko Widodo, dalam pidatonya pada 2024 sesaat sebelum mengakhiri masa jabatannya, menegaskan komitmen untuk meningkatkan kesejahteraan PNS, TNI, dan Polri, dengan kenaikan gaji sebesar 8% pada 2025.
Namun, meski angka-angka ini terukur dan diaudit, pertanyaan yang lebih dalam tetap menggema, bagaimana jika penghasilan seseorang tiba-tiba melesat jauh di luar nalar?
Penghasilan, baik dari sektor publik maupun swasta, sejatinya memiliki batas-batas yang dapat dihitung. Seorang karyawan swasta, misalnya, mungkin memperoleh gaji 5–10 kali lipat dari PNS pada level yang sama, sebagaimana pengalaman seseorang yang memilih jalur swasta pada 1990.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 menunjukkan bahwa rata-rata gaji karyawan swasta di sektor formal di Indonesia adalah Rp5,8 juta per bulan, sementara pengusaha kecil menengah bisa memperoleh keuntungan yang bervariasi, namun tetap dapat diaudit.
Hukum alam mengajarkan kita bahwa segala sesuatu yang terukur memiliki harmoni—seperti air yang mengalir sesuai alur sungai. Ketika aliran itu membengkak tanpa sebab yang jelas, bukankah itu pertanda adanya ketidakseimbangan?
Dalam tradisi spiritual, kita diajarkan untuk selalu bertanya pada hati nurani. Seorang istri, misalnya, patut merenung ketika suaminya pulang membawa kekayaan yang tak sebanding dengan gajinya sebagai PNS golongan III/a.
Seorang suami berhak mempertanyakan mengapa istrinya tiba-tiba memiliki perhiasan mewah yang tak mungkin dibeli dengan penghasilan wajar. Bahkan seorang anak, dengan polosnya, boleh bertanya kepada orang tua: “Dari mana mobil baru ini, Ayah? Bukankah gaji Bunda hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari?”
Dalam ajaran filsafat Timur, Lao Tzu pernah berkata, “Ketahui yang cukup, maka kau akan selalu merasa kaya.” Bertanya tentang kelebihan adalah langkah menuju kesadaran itu.
Maraknya kasus korupsi di Indonesia, seperti yang terungkap baru-baru ini, menggambarkan betapa pertanyaan sederhana ini sering diabaikan. Pada 2023, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap kasus korupsi pengadaan infrastruktur di Kementerian PUPR, dengan kerugian negara mencapai Rp1,2 triliun.
Pada 2024, kasus suap dalam proyek satelit Kementerian Pertahanan mencuat, melibatkan pejabat tinggi dengan aliran dana miliaran rupiah. Di balik angka-angka itu, ada keluarga yang mungkin menikmati kemewahan tanpa pernah bertanya: “Dari mana semua ini?”
Padahal, dalam ajaran spiritual universal, kebenaran selalu menuntut keberanian untuk bertanya, bahkan pada orang-orang terdekat.
Seorang ibu, misalnya, patut merenung ketika anak gadisnya—yang masih mahasiswi atau pegawai biasa—tiba-tiba memiliki apartemen mewah di Jakarta, di mana harga properti rata-rata mencapai Rp25 juta per meter persegi.
Seorang ayah berhak bertanya kepada anak lelakinya, yang mengaku pengangguran, namun berkendara dengan mobil listrik senilai Rp1 miliar.
Dalam tradisi Sufi, dikatakan bahwa “harta yang tak jelas asal-usulnya adalah bayang-bayang kegelapan.” Bertanya adalah cahaya yang menerangi bayang-bayang itu.
Korupsi, dalam pandangan filosofis, bukan hanya soal pelanggaran hukum, tetapi juga kegagalan menjaga harmoni batin. Ketika seorang istri bangga dengan penghasilan suaminya yang tak wajar, atau orang tua memuji kekayaan anaknya tanpa mempertanyakan asal-usulnya, kita kehilangan kompas moral.
Kita lupa bahwa hidup ini adalah perjalanan menuju kebenaran, bukan sekadar akumulasi harta. Dalam Bhagavad Gita, Krishna mengingatkan Arjuna: “Laksanakan tugasmu tanpa terikat pada hasilnya.”
Penghasilan yang jujur, meski sederhana, adalah wujud dari tugas yang dilakukan dengan penuh kesadaran.
Maka, marilah kita membiasakan diri untuk bertanya—bukan dengan curiga, tetapi dengan kasih dan kesadaran. Bertanyalah kepada pasangan, anak, saudara, bahkan diri sendiri, “Dari mana asal penghasilan ini? Apakah ia selaras dengan kebenaran dan keadilan?”
Dalam keheningan jawaban itu, kita akan menemukan jalan menuju hidup yang lebih bermakna, di mana harta bukanlah tujuan, tetapi alat untuk mencapai kedamaian batin dan keharmonisan dengan semesta.
| Editor | : | Editor Kontemporer |