News

Redenominasi Rupiah: Belajar Dulu dari Turki hingga Venezuela

Penulis - Staff | 11 November 2025
Ilustrasi: Redenominasi Rupiah yang direncanakan rampung pada 2027 oleh Kementerian Keuangan (sumber: cnbcindonesia.com)

Suatu hari, di awal tahun 2005, rakyat Turki bangun dan mendapati lembar uang yang mereka simpan di dompet kini tampak “lebih ramping”.

Harga roti yang kemarin satu juta Lira, pagi itu menjadi satu Lira saja. Tak ada yang panik, tak ada yang protes. Karena jauh sebelum angka itu berubah, pemerintah sudah menyiapkan rakyatnya dengan satu pesan sederhana, “Uangnya sama, nilainya tetap.”

Kampanye nasional itu menandai keberhasilan Turki menghapus enam nol dari mata uangnya, sebuah operasi ekonomi besar yang disebut redenominasi.

Langkah ini bukan reaksi terhadap krisis, melainkan puncak dari disiplin panjang menekan inflasi, memangkas defisit, dan membangun kepercayaan publik terhadap kebijakan fiskal mereka sendiri.

Ilustrasi: Mata Uang Turki (Foto: BBC Indonesia)

Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan tahun 2006 menyebut langkah Turki itu sebagai “salah satu implementasi redenominasi paling elegan dalam sejarah modern.”

Sukses bukan karena keberanian mencetak uang baru, tapi karena kepercayaan rakyat tak pernah ikut dipotong bersama nol-nol yang hilang.

Beberapa bulan kemudian, Rumania mengambil langkah serupa. Negara yang baru keluar dari bayang-bayang komunisme itu sedang bersiap bergabung dengan Uni Eropa.

Pemerintah tahu, simbol kepercayaan pada mata uang nasional sama pentingnya dengan pembaruan politik.

Maka pada pertengahan 2005, mereka menghapus empat nol dari leu lama, dan memperkenalkan leu baru (RON) dengan nilai 10.000 banding 1.

Namun mereka tidak tergesa. Menurut laporan National Bank of Romania tahun 2005, sosialisasi dilakukan selama 12 bulan penuh.

Setiap papan harga di pasar, setiap slip gaji, dan bahkan uang sekolah ditulis ganda: versi lama dan baru. Anak-anak diajarkan cara menghitung nilai mata uang di ruang kelas, sementara televisi nasional menayangkan iklan edukatif setiap jam.

Ketika akhirnya leu baru resmi beredar, tak ada kekacauan, tak ada kebingungan. Redenominasi di Rumania menjadi simbol kedewasaan bahwa stabilitas ekonomi dimulai dari kejelasan komunikasi.

Mata Uang Ghana (Foto: MaxpIxel/Wikimedia Commons)

Namun tak semua kisah redenominasi semanis itu. Di Afrika Barat, Ghana memutuskan langkah yang sama pada 2007. Bank of Ghana menghapus empat nol dari cedi lama dengan semangat besar.

“Ini awal dari babak baru ekonomi kita,” ujar Gubernur Bank of Ghana saat itu, Paul Acquah, dalam pidato peluncurannya.

Dan memang, selama lima tahun pertama, semuanya berjalan baik. Inflasi rendah, transaksi efisien, kepercayaan publik meningkat.

Tapi euforia itu tidak lama. Ketika harga komoditas turun dan pemerintah memperlonggar kebijakan fiskal, inflasi kembali menanjak dua digit.

Dalam laporan IMF Country Report tahun 2013, disebutkan bahwa “stabilitas pasca-redenominasi di Ghana tergerus oleh kebijakan fiskal yang tidak konsisten.”

Singkatnya, mereka lupa bahwa menghapus nol tidak cukup, yang harus dihapus adalah kebiasaan mengabaikan disiplin ekonomi.

Ilustrasi: Mata uang Zimbabwe (Foto: AP/Tsvangirayi Mukwazhi)
AP/Tsvangirayi Mukwazhi

Baca artikel CNBC Indonesia "Zimbabwe Tak Selemah Itu, Rp10 Juta Cuma Dapat Segini" selengkapnya di sini: https://www.cnbcindonesia.com/research/20250209075428-128-609151/zimbabwe-tak-selemah-itu-rp10-juta-cuma-dapat-segini

Download Apps CNBC Indonesia sekarang https://app.cnbcindon
AP/Tsvangirayi Mukwazhi

Baca artikel CNBC Indonesia "Zimbabwe Tak Selemah Itu, Rp10 Juta Cuma Dapat Segini" selengkapnya di sini: https://www.cnbcindonesia.com/research/20250209075428-128-609151/zimbabwe-tak-selemah-itu-rp10-juta-cuma-dapat-segini

Download Apps CNBC Indonesia sekarang https://app.cnbcindonesia.com/

Kisah yang lebih getir datang dari Zimbabwe, negara yang pernah menjadi pelajaran pahit bagi dunia. Pada puncak hiperinflasi tahun 2008, harga secangkir kopi bisa naik tiga kali dalam sehari.

Pemerintah mencoba segala cara: menghapus nol, mencetak uang baru, bahkan mengubah desain mata uang tiga kali dalam satu dekade.

Namun seperti dicatat dalam laporan World Bank’s Global Economic Monitor (2009), setiap kali nol dihapus, inflasi justru tumbuh lebih cepat.

Dalam sepuluh tahun, Zimbabwe menghapus lebih dari 25 nol dari dolar mereka, sampai akhirnya pemerintah menyerah dan menghapus mata uangnya sendiri.

Sejak 2009, Zimbabwe beralih menggunakan dolar AS dan rand Afrika Selatan. Bagi rakyatnya, redenominasi bukanlah simbol reformasi, melainkan kenangan buruk tentang hilangnya arti “uang”.

Tabungan seumur hidup menguap, dan kepercayaan rakyat terhadap bank sentral hancur sepenuhnya.

Ilustrasi: Mata Uang Venezuela (Foto: VOA Indonesia)

Nasib serupa menimpa Venezuela. Dalam kurun 13 tahun, negeri itu sudah tiga kali mengganti nama mata uangnya. Dari Bolívar Fuerte (2008), menjadi Bolívar Soberano (2018), hingga Bolívar Digital (2021).

Setiap kali redenominasi dilakukan, jutaan lembar uang baru dicetak dan setiap kali, inflasi tetap melambung.

IMF mencatat inflasi Venezuela mencapai 3.700% pada 2020, salah satu yang tertinggi di dunia. Masalahnya sederhana tapi fatal: redenominasi dilakukan bukan karena stabilitas tercapai, tapi justru untuk menutupi krisis yang sedang terjadi.

Bahkan toko-toko di Caracas kini menolak menerima bolívar, lebih memilih transaksi dengan dolar AS atau kripto.

“Uang nasional kami hanya punya nilai sentimental,” kata seorang pedagang dalam wawancara Reuters tahun 2021.

Antara keberhasilan Turki dan kegagalan Zimbabwe, ada benang merah yang selalu muncul: kepercayaan. Turki berhasil karena rakyatnya percaya pada sistem dan pemerintah yang menepati janji.

Rumania berhasil karena komunikasinya jujur dan terencana. Ghana sempat berhasil tapi gagal menjaga konsistensi. Sementara Zimbabwe dan Venezuela gagal total karena rakyatnya sudah berhenti percaya sebelum uang baru beredar.

Redenominasi, pada akhirnya, bukan tentang “menghapus nol”. Ia adalah proses menata ulang nalar dan keyakinan sebuah bangsa terhadap nilai yang disepakati bersama.

Indonesia kini kembali berbicara soal redenominasi, dengan target penyelesaian undang-undang pada 2027. Bank Indonesia menegaskan bahwa langkah itu baru akan diambil “ketika kondisi makro sudah stabil” dan itu keputusan yang bijak.

Karena sejarah membuktikan, mereka yang tergesa untuk menata angka, sering kali lupa menata kepercayaannya terlebih dahulu.

Seperti kata ekonom senior Chatib Basri, “Kita tidak bisa memperbaiki persepsi dengan kosmetik. Yang perlu diperbaiki adalah fundamentalnya.”

Mungkin benar, menghapus nol membuat laporan keuangan terlihat lebih rapi, tapi kepercayaan publik tidak pernah bisa dicetak ulang. Dan itulah pekerjaan terbesar setiap bangsa. Menjaga nilai, bahkan ketika angka terus berubah.

  • Referensi:
    IMF Post-Program Monitoring Report: Republic of Turkey, 2006
    National Bank of Romania, Annual Report on Redenomination, 2005
    Bank of Ghana, Redenomination of the Cedi: Lessons and Impact, 2007
    World Bank, Zimbabwe Country Brief, 2009
    Reuters & IMF Data on Venezuela, World Economic Outlook, 2021
    Chatib Basri, wawancara dengan CNBC Indonesia, 2023
Editor : Editor Kontemporer
Editor Picks