People

Cara Orang Pontianak Meracik Rasanya Sendiri

Penulis - ats | 8 Februari 2026
Pemilik kedai bubur ikan, Ahian (64), menyiapkan hidangan. Beragam ikan dijejer, mulai dari alu-alu, kakak tua, kakap, hingga kerapu. (Dok. Kontemporer)

Ke Pontianak, rasanya sayang jika tak mencicipi bubur ikan, salah satu santapan khas yang kerap dibicarakan pencinta kuliner. Minggu pagi (14/12/2025) pukul 07.00 WIB, Kontemporer singgah ke kedai Bubur Ikan Ahian di Jalan WR Supratman, Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar).

Sebelum merapat ke Bubur Ikan Ahian, Kontemporer mengawali hari dengan ngopi subuh di Kedai Kopi Asiang yang buka sejak pukul 04.00 dini hari. Rutinitas pagi yang dilakoni warga lokal, mulai dari anak muda hingga orang tua di Kota Khatulistiwa.

Pagi itu, kedai Bubur Ikan Ahian belum terlalu ramai. Sang pemilik, Ahian (64), tampak baru selesai merapikan dagangannya di teras. Beragam ikan dijejer, mulai dari alu-alu, kakak tua, kakap, hingga kerapu.

Kuah bening mengepul, potongan ikan segar, taburan bawang daun. Bubur ikan Pontianak hadir jujur—ringan di kuahnya, dalam di rasanya. (Dok. Kontemporer)

Di area itu juga terdapat dandang berisi air panas serta ragam pugasan yang dibubuhkan ke atas sajian, seperti daun bawang dan minyak bawang putih.

Beberapa meja hanya terisi satu atau dua orang yang tampak sudah mengenal betul apa yang akan mereka pesan.

Kontemporer pun segera memesan tapi tak tahu mana ikan yang sesuai. Namun, pramusaji yang ramah merekomendasikan ikan kakak tua.

“Daging ikannya putih, padat, tapi tetap lembut,” kata pramusaji.

Tak lama berselang, pesanan semangkuk bubur ikan kakak tua pun dihidangkan. Uap kuah bening mengepul lembut dari mangkuk. Aroma ikan segar yang bersih menyapa indera penciuman sebelum suapan pertama terasa di lidah.

Warga setempat menyebut hidangan ini bubur ikan, tetapi sebutan itu sering membuat orang luar salah paham. Tidak ada nasi yang dimasak hingga kental layaknya bubur pada umumnya.

Sebaliknya, yang hadir justru nasi putih berbulir yang disajikan bersama kuah bening segar dan potongan ikan pilihan.

Secara teknis, sajian ini lebih tepat disebut sup ikan dengan nasi. Namun, kata bubur tetap hidup dalam kosakata lokal untuk menyebut hidangan ini, sebuah fenomena yang unik dalam budaya makanan Pontianak.

Ragam pelengkap racikan

Di atas meja, aneka bumbu tersusun rapi, mulai dari kecap asin, kecap manis, sambal, lada, cabai rawit, minyak wijen, garam, hingga jeruk sonkit.

Menurut Kontempoer, pugasan berupa irisan selada yang segar dan minyak bawang putih yang harum, menjadi ciri khas tersendiri dari pengalaman menikmati bubur ikan di sini.

Meski tidak selalu disebutkan dalam setiap referensi kuliner populer, improvisasi pelengkap seperti ini adalah bagian dari cara orang Pontianak meracik rasanya sendiri. Pengunjung bebas menentukan keseimbangan rasa asin, pedas, dan asam sesuai selera.

Begitu sup ikan tiba di meja, potongan ikan kakak tua yang saya pilih disusun rapi bersama kuah bening. Ikan direbus selama tiga hingga lima menit dalam air mendidih agar teksturnya tetap lembut.

Kuah dibiarkan jernih dan ringan, tanpa bumbu berat, sehingga rasa ikan tetap dominan. Saat sup diseruput, ada kelembutan ikan yang langsung terasa segar, tidak berlemak, dan jernih.

Seporsi mangkuk kecil bubur ikan kakak tua di sini dibanderol Rp 60.000, harga yang sepadan dengan kualitas bahan dan pengalaman rasa yang ditawarkan.

Bubur ikan dalam jejak sejarah Pontianak

Bubur ikan menjadi salah satu pilihan menu sarapan warga lokal di Kota Pontianak, Kalbar. (Dok. Kontemporer)

Pontianak dikenal sebagai kota dengan ragam kuliner yang kaya, refleksi dari sejarah panjang sebagai persimpangan budaya Melayu, Dayak, Bugis, Jawa, dan Tionghoa.

Salah satu pengaruh yang kuat adalah tradisi kuliner komunitas Tionghoa Tio Ciu (Teochew) yang besar di wilayah ini.

Adapun bubur ikan diyakini berkembang dari tradisi komunitas ini yang mengadaptasi resep mereka dengan bahan lokal di Kalbar diperkirakan sejak abad ke-19.

Di tradisi makanan Tio Ciu, menyantap nasi dengan kuah ikan bukan hal yang asing. Teknik memasak ikan segar dengan bumbu yang minimal bertujuan untuk menjaga cita rasa asli bahan.

Cara tersebut menjadi prinsip yang kemudian ditemukan titik temu dengan bahan lokal Pontianak yang melimpah, terutama ikan laut dan ikan sungai, seperti kakap, alu-alu, dan kerapu.

Dari perjumpaan tradisi dan bahan itulah bubur ikan seperti yang dikenal sekarang muncul dan menjadi bagian dari kuliner Pontianak.

Julukan “bubur” dalam bubur ikan sendiri lebih berkaitan dengan cara konsumsi, yaitu nasi yang disiram kuah hangat, bukan tekstur nasi yang dimasak menjadi bubur.

Sebutan ini bertahan dari generasi ke generasi, sampai akhirnya menjadi istilah yang akrab di telinga warga lokal maupun pendatang.

Ritual sarapan dan kebiasaan lokal

Berbeda dengan gambaran ramai pekerja atau wisatawan yang lalu lalang, pagi di Bubur Ikan Ahian cenderung tenang dan terfokus pada pengalaman makan itu sendiri.

Pengunjung lokal tampak datang bukan karena ramai, tetapi karena memang sudah menjadi bagian dari kebiasaan pagi mereka.

Ada hening di antara suapan pertama, obrolan ringan antar-pelanggan, dan tawa kecil ketika seseorang menambahkan sedikit lagi cabai atau perasan jeruk.

Cara menyantapnya sendiri tidak baku. Beberapa orang langsung mencampur nasi dan kuah. Sementara yang lain—termasuk kami—lebih suka mencocol potongan ikan ke dalam racikan ikan asin dan jeruk sonkit, baru kemudian menikmati nasi serta kuah panas. 

Sentuhan akhir berupa irisan jeruk sonkit dan minyak bawang putih memberi kompleksitas rasa yang pelan namun kuat di lidah.

Bubur ikan Pontianak bukan sekadar hidangan sarapan. Ia adalah narasi rasa yang menyatukan sejarah, tradisi, dan kebiasaan sehari-hari.

Editor : ats
Komentar
Editor Picks