Bukan Literasi Kita yang Rendah, Tapi Aksesnya yang Mahal
Di sudut kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (28/6) pagi, sejumlah warga tampak larut dalam keheningan yang khusyuk. Di tengah keriuhan pesta HUT ke-499 DKI Jakarta, jemari mereka tak lepas dari lembaran buku.
Tepat di trotoar depan Institute Francais Indonesia (IFI), dua remaja putri duduk bersila santai, menikmati lembar demi lembar bacaan di tangan mereka. Tak jauh dari sana, seorang pemuda berkacamata memilih posisi jongkok membelakangi jalan.
Mereka sama sekali tidak saling kenal tapi disatukan kesibukan yang sama, menyelami dunia lewat kata-kata.
Ketika ribuan warga lain sibuk lalu-lalang memadati momen car free day (CFD), langkah kaki mereka justru terhenti, terpaku pada lapak sederhana bertajuk Perpustakaan Kecil.
Pesan singkat pada selembar kertas HVS berlaminasi tampak menyapa setiap pasang mata: “Membaca gratis seperti udara yang kau hirup.”
Di atas hamparan kertas cokelat yang menjadi alas, sekitar lima puluh buku ditata dengan apik. Koleksinya cukup berbobot dan beragam, mulai dari novel Entrok karya Okki Madasari, Manusia yang Asyik dengan Dirinya tulisan Friedrich Nietzsche, Papua Versus Papua karya I Ngurah Suryawan, Tan Malaka dan Tuhan, hingga kumpulan cerpen Bakat Menggonggong gubahan Dea Anugrah.
“Buku-buku yang ada di sini adalah buku-buku yang kami beli sendiri. Jadi ini koleksi pribadi, kami beli pakai uang sendiri, lalu menggelar lapak baca ini secara gratis untuk masyarakat,” ujar Isyam saat berbincang dengan kami Minggu pagi itu.
Isyam berkisah, keterlibatannya hari ini adalah bentuk komitmen untuk meneruskan estafet gagasan dari sang kakak, Ali, yang merupakan bidan pertama dari lahirnya gerakan Perpustakaan Kecil ini.
Saat ditanya di mana letak fisik perpustakaan tersebut, Isyam tersenyum. Mereka tidak memiliki gedung atau ruang khusus, melainkan hanya sebuah lemari pakaian di rumahnya yang disulap menjadi tempat penyimpanan ratusan koleksi buku pribadi tersebut.
Tertarik membaca tapi akses terbatas
Bagi Isyam, stigma bahwa minat baca masyarakat Indonesia rendah tidak sepenuhnya benar. Masalah utamanya bukan pada kemauan, melainkan mahalnya akses terhadap literatur yang berkualitas.
“Sebenarnya masyarakat itu juga tertarik dan punya minat baca yang baik. Cuma masalahnya ada pada akses yang terlalu mahal. Rasanya untuk bisa mendapatkan dan membaca buku-buku seperti ini, kayak harus kuliah dulu, masuk ke perguruan tinggi dulu, dan daftar dulu. Sementara itu, biaya pendidikan sendiri kan sekarang agak mahal juga,” ungkap Isyam menumpahkan keresahannya.
Berangkat dari kegelisahan itulah, Ali mantap memulai gerakan membaca cuma-cuma ini sejak 2018 di atas trotoar ibu kota.
Kawasan Bundaran Senayan dan IFI Thamrin menjadi dua lokasi utama yang kerap dibidik. Selain karena suasananya yang rindang dan trotoarnya yang lapang, lokasi-lokasi strategis ini dipilih agar buku-buku mereka bisa menjangkau dan memapar sebanyak mungkin warga yang sedang melintas.
Perjalanan merawat lapak baca di ruang publik pun tidak selalu berjalan mulus. Konsistensi Isyam dan Ali kerap diuji oleh pasang surut kesibukan serta dinamika di lapangan.
Sejak dimulai pada 2018, gerakan ini sempat mengalami masa vakum yang cukup lama ketika Ali terpaksa harus menyudahi keterlibatannya karena satu dan lain hal.
Beban estafet itu kini sepenuhnya berada di pundak Isyam. Karena dikelola secara mandiri dan personal, lapak ini sangat bergantung pada waktu luang Isyam. Jika ia berhalangan, maka lapak pun ikut libur.
Tantangan lain yang turut mewarnai ketika didatangi petugas CFD atau otoritas setempat. Di beberapa lokasi, lapak baca gratis ini sempat dilarang tanpa alasan jelas.
Isyam juga mengingat betul beberapa momen ketika dirinya didatangi dan diinterogasi petugas berseragam saat menggelar lapak baca gratis di CFD. Mereka seakan menaruh curiga serta menyimpan kekhawatiran laten terhadap pegiat literasi.
Namun, alih-alih gentar, Isyam memilih menghadapi kecurigaan tersebut dengan kepala dingin. Ia selalu siap menjawab setiap pertanyaan petugas secara terbuka langsung di tempat.
“Buku-buku ini justru hadir untuk mengisi kekosongan referensi yang selama ini tidak pernah diajarkan di sekolah formal, yang biasanya kaku dan terbatas pada buku paket panduan kurikulum,” imbuh Isyam.
Menghidupkan buku dan kemanusiaan
Merawat sebuah perpustakaan jalanan tentu membutuhkan napas panjang, terutama dalam hal pendanaan.
Koleksi buku Isyam yang kini telah mencapai lebih dari 200 judul jelas memerlukan biaya perawatan dan pembaruan.
Menolak berpangku tangan, Isyam memutar otak dengan menerapkan konsep kemandirian ekonomi kolektif melalui skema fundraising yang unik, yakni merilis produk kaos.
Setiap tahun, gerakan ini memproduksi dan merilis kaos dengan desain khusus secara mandiri. Seluruh keuntungan dari penjualan tersebut tidak masuk ke kantong pribadi, melainkan diputar kembali untuk menghidupkan gerakan literasi dan kemanusiaan.
“Pada 2020 misalnya, hasil keuntungan penjualan kaos murni digunakan untuk memborong buku-buku baru untuk memperkaya variasi koleksi buku kami,” tutur Isyam.
Napas solidaritas gerakan ini bahkan meluas melampaui batas lembaran kertas buku.
Pada 2025, Isyam dan kolektifnya menyalurkan seluruh keuntungan penjualan kaos untuk membantu Sekolah Pelangi, pendidikan gratis bagi anak-anak kurang mampu di daerah Jawa Timur yang saat itu sedang membutuhkan dukungan.
Udara segar bagi yang haus baca
Matahari makin beranjak tinggi di kawasan Thamrin, namun antusiasme di sekitar lapak beralas kertas coklat itu tidak surut.
Di era digitalisasi, ketika sebagian besar anak muda dan generasi masa kini menghabiskan waktu luangnya dengan menatap layar gawai atau bermain game, kehadiran lapak baca ini menjelma menjadi oase yang tak terduga.
Isyam mengaku dikungkung salut yang mendalam setiap kali melihat anak-anak kecil menghentikan langkahnya di depan lapak.
Dengan mata berbinar, anak-anak itu kerap menunjuk lembaran buku sambil bertanya, "Wah, ini buku apa?
Selama trotoar jalanan masih membentang dan harga buku masih sulit dijangkau, Isyam dan Perpustakaan Kecilnya akan tetap setia menggelar pengetahuan di atas trotoar ibu kota. Menyediakan udara segar bagi siapa saja yang haus akan bacaan.
| Editor | : | ats |

