6 Menit yang Bisa Membuat Dunia Berhenti Berisik
Kita hidup di zaman yang sibuk bahkan ketika diam. Jari tak berhenti menggulir layar, pikiran berkejaran dengan notifikasi, dan waktu terasa seperti sesuatu yang selalu kurang.
Dalam dunia yang berisik ini, membaca buku sering dianggap kemewahan. Aktivitas “lambat” di tengah hidup yang serba cepat.
Namun sebuah penelitian sederhana dari University of Sussex justru membalik pandangan itu.
Menurut riset yang dipimpin oleh Dr. David Lewis, seorang neuropsikolog dari Mindlab International, membaca buku selama enam menit saja sudah cukup untuk menurunkan tingkat stres hingga 68 persen.
Lebih efektif daripada mendengarkan musik, minum teh, berjalan kaki, bahkan bermain video game.
Bayangkan, enam menit!
Lebih singkat dari waktu kita menunggu kopi diseduh, lebih cepat dari satu putaran scroll tanpa sadar di media sosial. Tapi dalam enam menit itu, tubuh dan pikiran mengalami sesuatu yang nyaris ajaib.
Membaca saat dunia melambat di dalam kepala
Dr. Lewis menemukan bahwa saat seseorang membaca, tubuh perlahan menyesuaikan diri dengan ritme baru. Detak jantung menurun, napas menjadi stabil, dan otot mulai rileks.
Fokus kita beralih dari hiruk pikuk luar ke kehidupan kecil di dalam halaman. Kita berhenti memproses kebisingan dunia, dan mulai memasuki keheningan yang menenangkan.
Berbeda dari bentuk hiburan lain yang menuntut respons cepat, membaca justru memperlambat dunia. Ia tidak hanya memberi informasi, tapi juga ritme baru bagi kesadaran kita.
Otak bekerja tanpa tekanan, memvisualkan kata demi kata menjadi gambar, emosi, dan makna. Proses ini disebut active escape — pelarian yang justru membuat kita hadir sepenuhnya.
Bukan untuk lari dari kenyataan, tapi untuk memulihkan cara kita memandangnya.
Ketika ketenangan jadi barang langka
Mungkin, di masa lalu, membaca adalah bagian wajar dari kehidupan sehari-hari. Namun kini, di tengah jadwal yang padat dan konten yang membanjir, membaca menjadi kegiatan yang tertunda.
Kita sering berkata tidak punya waktu, padahal setiap harinya bisa menghabiskan berjam-jam menatap layar tanpa arah.
Kita mencari ketenangan dalam musik, film, bahkan dalam video berdurasi 15 detik. Namun, lupa bahwa tenang bukan sesuatu yang datang dari luar, melainkan sesuatu yang kita ciptakan di dalam kepala.
Buku, dengan segala kesederhanaannya, menawarkan bentuk istirahat yang paling manusiawi. Hening, lambat, tapi penuh makna. Membaca bukan sekadar melarikan diri dari kebisingan dunia, tapi melatih diri untuk berdamai dengan keheningan.
Membaca untuk bertahan
Sering kali kita terjebak pada logika produktivitas, bahkan saat membaca. Berapa buku yang kamu selesaikan bulan ini? Buku apa yang sedang kamu baca? Seolah membaca hanyalah soal jumlah, bukan pengalaman.
Padahal membaca satu halaman dengan hati yang tenang lebih berharga daripada menamatkan sepuluh buku tanpa rasa.
Membaca bukan cuma untuk menambah pengetahuan, tapi untuk mengingat bagaimana rasanya menjadi manusia: merenung, diam, dan memahami sesuatu dengan perlahan.
Mungkin, yang membuat dunia kita begitu lelah bukan hanya kesibukan, tetapi kehilangan kemampuan untuk berhenti. Dan, membaca, bahkan hanya enam menit adalah bentuk sederhana untuk mulai berhenti.
Ketika hidup terasa terlalu penuh, kadang yang kita butuh bukan liburan mahal atau motivasi baru, melainkan enam menit yang sunyi.
Enam menit untuk membuka halaman, menemukan kembali ritme tubuh yang pelan, dan menyadari bahwa dunia tak seburuk yang tampak di layar.
Karena membaca bukan hanya kegiatan intelektual. Ia adalah bentuk perawatan diri, cara paling sederhana untuk menjaga kewarasan di dunia yang terlalu cepat.
Jadi, besok ketika hari terasa berat, jangan buru-buru menenangkan diri dengan notifikasi baru. Ambil buku yang sudah lama menunggu di meja, buka halamannya, dan biarkan enam menit itu bekerja.
Siapa tahu, di antara kata-kata yang sunyi itu, kamu menemukan kembali dirimu yang tenang.
Catatan:
Penelitian ini dilakukan oleh University of Sussex (2009) melalui Mindlab International yang dipimpin oleh Dr. David Lewis, diterbitkan oleh The Telegraph dan dikutip ulang oleh berbagai jurnal psikologi populer.
Hasilnya menunjukkan bahwa membaca mampu mengurangi stres hingga 68%, lebih tinggi dibandingkan aktivitas lain seperti musik (61%), teh (54%), atau jalan kaki (42%).
| Editor | : | Editor Kontemporer |