Membaca atau Menonton, Mana yang Sebenarnya Lebih Efektif?
Bayangkan kamu lagi santai malam hari. Ada dua pilihan di depan mata, buku yang sudah lama nganggur di meja, atau video edukasi lima menit di YouTube dengan judul yang terlihat menarik. Pertanyaan klasik pun muncul: mana yang lebih bermanfaat, membaca atau menonton?
Diskusi ini sudah lama berlangsung. Membaca sering dianggap terlalu berat, sementara menonton terasa praktis. Tapi, sebenarnya tidak sesederhana itu. Mari kita bedah dengan tenang, ditemani riset yang bisa dipertanggungjawabkan.
Membaca, olahraga berat untuk pikiran
Membaca bukan sekadar menyerap informasi. Aktivitas ini melibatkan proses berpikir tingkat lanjut. Menafsirkan simbol, menghubungkan ide, sampai membangun makna baru.
Meta-analisis di Journal of Research in Reading (2018) menunjukkan pemahaman bacaan lebih tinggi ketika membaca teks di kertas dibandingkan di layar.
Membaca ibarat olahraga berat. Melelahkan, tapi membangun stamina intelektual jangka panjang.
Psikolog pendidikan Daniel Willingham menyebutnya sebagai deep processing, kemampuan otak untuk mencerna informasi secara mendalam, bukan sekadar mengingat permukaannya.
Menonton, jalan pintas yang tak bisa diremehkan
Menonton sering dianggap instan. Padahal riset justru menunjukkan sebaliknya.
Teori pembelajaran multimedia Richard Mayer membuktikan bahwa kombinasi visual dan audio membuat informasi lebih mudah dipahami.
Di Indonesia, penelitian Yuliawati (2020) menemukan siswa yang belajar bahasa Inggris lewat video bersubtitle lebih cepat menguasai kosakata.
Belajar lewat video juga cocok untuk topik yang sifatnya visual, seperti anatomi atau eksperimen sains.
Jadi menonton bukan musuh membaca. Ia adalah jalan pintas yang memudahkan kita memahami konsep kompleks.
Membaca dan menonton, saling melengkapi
Alih-alih saling dipertentangkan, banyak ahli menyarankan kombinasi keduanya.
Sebuah studi di AsiaCALL Online Journal (2021) membuktikan bahwa pembelajaran yang memadukan multimedia dengan teks bacaan memberi pemahaman lebih menyeluruh.
Caranya sederhana, nonton video singkat dulu untuk membuka rasa ingin tahu, lalu lanjutkan dengan membaca artikel atau buku agar pemahaman makin dalam.
Video membuka pintu. Membaca mengajak kita berjalan lebih jauh.
Risiko menonton terlalu banyak
Meski praktis, konsumsi video berlebihan punya risiko. Terutama di era konten singkat yang membuat otak terbiasa lompat-lompat.
Nicholas Carr dalam bukunya The Shallows (2010) berargumen bahwa kebiasaan mengonsumsi informasi instan bisa mengubah cara kerja otak, membuat kita lebih sulit fokus untuk berpikir mendalam.
Membaca, sebaliknya, melatih kesabaran kognitif. Membaca buku setebal ratusan halaman mengasah otak untuk bertahan dalam satu alur pemikiran dalam waktu lama. Sesuatu yang jarang kita dapat dari video pendek.
Membaca untuk berpikir, menonton untuk merasa
Jika ditarik lebih jauh, membaca dan menonton punya “fungsi jiwa” yang berbeda. Membaca memberi ruang untuk berpikir. Menonton menggerakkan emosi.
Studi di Reading Research Quarterly (2019) menemukan membaca fiksi secara reguler dapat meningkatkan empati karena pembaca diajak memahami perspektif orang lain.
Film juga bisa membangkitkan empati, tapi seringkali sifatnya emosional sesaat, bukan reflektif.
Jadi, Mana yang Lebih Efektif?
Jawaban yang paling jujur adalah tergantung tujuannya. Menonton efektif untuk gambaran cepat. Membaca unggul untuk melatih logika dan membangun pemahaman jangka panjang.
Seorang pendidik pernah bilang, “Video itu pintu, membaca itu perjalanan.” Rasanya tepat sekali. Menonton bisa membuka rasa ingin tahu, membaca menjaga rasa ingin tahu tetap hidup.
Membaca dan menonton bukan pertarungan siapa lebih unggul, tapi soal kapan keduanya digunakan. Menonton itu jalan pintas. Membaca itu fondasi. Keduanya penting, asal dipakai dengan bijak.
Di era banjir informasi, kita memang mudah tergoda yang instan. Tapi jangan lupa, fondasi intelektual jarang dibangun secepat itu. Kalau video bisa bikin kita melangkah, membaca yang membuat langkah itu bertahan jauh lebih lama.
| Editor | : | Editor Kontemporer |