Books

The Death of Expertise di Era AI: Sebuah Refleksi untuk Generasi Z

Penulis - Staff | 23 September 2025
Ilustrasi - Artificial Inteligent (Foto: Freepik)

Di tahun 2017, profesor Tom Nichols merilis buku The Death of Expertise. Isinya provokatif: manusia sedang berada di era ketika otoritas pengetahuan yang dulu dijunjung tinggi perlahan runtuh.

Semua orang merasa berhak bicara, semua opini dianggap setara dengan fakta, dan internet menjadi panggung utama bagi "demokratisasi" informasi.

Apa yang ia sebut sebagai death of expertise bukan sekadar kritik terhadap orang awam, melainkan sebuah krisis besar tentang bagaimana kita memandang pengetahuan.

Kini, hampir satu dekade setelah bukunya terbit, peringatan Nichols terasa semakin nyata. Bedanya, hari ini ada pemain baru yang ikut memperumit keadaan: Artificial Intelligence.

AI mampu menulis esai, membuat diagnosa sederhana, bahkan merumuskan strategi bisnis hanya dalam hitungan detik. Di satu sisi, ini membuka akses tak terbatas bagi siapa pun.

Namun di sisi lain, ia menambah kabut: bagaimana kita bisa membedakan mana suara pakar, mana sekadar hasil mesin?

Generasi Z tumbuh tepat di persimpangan ini. Mereka adalah generasi pertama yang sejak kecil hidup dengan Google, media sosial, dan kini ChatGPT atau Gemini di genggaman tangan. Informasi datang deras, tetapi justru semakin sulit disaring.

Nichols menyebut fenomena “opini saya sama berharganya dengan fakta Anda” sebagai akar masalah. Ironisnya, kini pernyataan itu bisa diganti menjadi “jawaban AI sama berharganya dengan penelitian 10 tahun seorang ilmuwan”.

Bahaya yang disorot Nichols dan kini terlihat lebih jelas adalah ketika masyarakat kehilangan kemampuan membedakan otoritas.

Jika semua disamakan, keputusan penting bisa diambil berdasarkan opini mayoritas, algoritma populer, atau hasil mesin yang tidak selalu akurat, bukan pada riset dan pengalaman manusia.

Hal ini sudah terlihat saat pandemi COVID-19, ketika teori konspirasi dan “dokter palsu TikTok” lebih dipercaya ketimbang epidemiolog.

Namun, ada sisi lain yang bisa jadi bahan refleksi. Gen Z justru punya peluang untuk membalikkan tren ini. Dengan literasi digital yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya, mereka bisa menjadi penentu apakah AI dan internet menjadi ruang bagi hilangnya keahlian, atau justru ruang bagi perluasan keahlian.

AI bisa menjadi alat bantu bagi mahasiswa untuk memahami teori ekonomi lebih cepat, bagi jurnalis muda untuk merangkum data besar, atau bagi aktivis sosial untuk memperluas suara komunitasnya. Semua itu sah, asal tidak melupakan siapa yang berada di baliknya yaitu para peneliti, praktisi, dan pengalaman nyata yang tidak bisa digantikan mesin.

The Death of Expertise mengingatkan bahwa kritik terhadap pakar itu sehat, tetapi penghapusan otoritas pengetahuan bisa berbahaya.

Generasi Z yang hidup di era AI punya pilihan: ikut larut dalam kabut informasi, atau justru menjadikan teknologi sebagai pintu untuk semakin menghargai pengetahuan.

Sebab pada akhirnya, di balik data, algoritma, dan mesin, ada pertanyaan yang harus dijawab manusia sendiri, apakah kita ingin menjadi generasi yang hanya tahu banyak hal secara dangkal, atau generasi yang benar-benar paham dan bijak dalam menggunakan pengetahuan?

Editor : Editor Kontemporer
Editor Picks