Said Abdullah dan Buku-buku di Dekat Dapur
(Saya) enggak pernah absen buat baca. Rugi anggota DPR (sebagai) pengambil kebijakan negara tiba-tiba dia tidak menguasai apa yang menjadi tugasnya.
Kalimat itu disampaikan Said Abdullah dengan nada santai saat berbincang bersama kami di kediamannya di bilangan Jagakarsa, Jakarta Selatan (Jaksel), beberapa waktu lalu.
Siang itu ia mengenakan celana bahan hitam dan kaos oblong putih. Tidak ada kesan formal dalam pertemuan tersebut. Obrolan mengalir dari kebiasaan membaca hingga perjalanan panjangnya di dunia politik.
Bagi Said, membaca bukan sekadar kebiasaan. Ia menyebutnya sebagai bagian dari disiplin pribadi, sekaligus cara menjaga diri agar tetap memahami persoalan bangsa.
Rutinitas itu sudah berlangsung bertahun-tahun. Hampir setiap hari ia menyempatkan diri membuka koran dan berbagai bahan bacaan lain sebelum memulai aktivitas.
“Pagi bangun tidur baca Kompas. Jakarta Post ini barusan lah coba belajar bahasa Inggris,” kata Said.
Buku-buku dari Sang Ayah
Kebiasaan membaca tersebut bukan sesuatu yang muncul belakangan, setelah ia berada di Senayan. Jauh sebelumnya, sejak masih remaja di Sumenep, Madura, Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI itu sudah akrab dengan buku.
Di rumahnya yang sederhana di Sumenep, buku menjadi salah satu jendela untuk memahami dunia di luar lingkungan tempat ia tumbuh.
Ayahnya dikenal sebagai sosok yang aktif di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) dan gemar menulis. Meski hidup dalam keterbatasan ekonomi, ia tetap menyimpan sejumlah buku yang dianggap penting untuk dibaca anak-anaknya.
Di antara buku-buku itu terdapat karya Presiden pertama Indonesia, Soekarno, yang kelak sangat memengaruhi cara pandang Said tentang bangsa dan politik.
“Abah punya buku Bung Karno Di Bawah Bendera Revolusi. Waktu SMP sudah gue baca semua. Buku Sarinah juga khatam,” ujarnya.
Buku-buku tersebut tidak hanya dibaca sekilas. Said mengingat bagaimana ia menghabiskan waktu berjam-jam untuk menelusuri halaman demi halaman. Ia mencoba memahami gagasan besar yang ditulis Soekarno tentang kemerdekaan, rakyat, dan masa depan Indonesia.
Ketika membaca buku-buku itu, ia merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.
“Setiap baca buku itu dada berdebar-debar. Panas melihat keadaan,” katanya.
Namun, kebiasaan membaca itu tidak selalu dilakukan di ruang depan rumah. Ada satu pesan yang selalu diingatnya dari sang ayah.
“Orangtua cuma ngomong, ‘di belakang kalau baca, jangan di depan,’” kenang Said.
Karena itu, Said lebih sering membaca di bagian belakang rumah, dekat dapur. Tempat yang relatif sepi, jauh dari pandangan orang lain.
Di situlah ia menghabiskan waktu dengan buku-buku yang baginya terasa membuka cakrawala baru.
Memilih jalan “berbeda”
Minat membaca itu perlahan membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan di sekitarnya.
Ia tumbuh di Kampung Arab di Sumenep, lingkungan yang dikenal sebagai basis kuat Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Bahkan, rumahnya pernah dijadikan sebagai sekretariat DPC PPP.
Situasi itu membuat pilihan politik Said sering dianggap tidak biasa.
“Gue tinggal di Kampung Arab hidupnya. Kampung Arab isinya PPP. Rumah gue sendiri dijadikan sebagai sekretariat DPC PPP,” kata Said.
Meski begitu, ketertarikannya pada politik justru mengarah pada Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Ia mengaku lebih banyak bergaul di luar lingkungan rumah karena merasa berbeda dengan orang-orang di sekitarnya.
Ketertarikan pada isu politik juga tampak dalam aktivitasnya di sekolah. Saat menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Sumenep, ia aktif dalam organisasi dan bahkan terpilih sebagai Ketua OSIS.
Pada masa itu pula ia meraih penghargaan sebagai siswa teladan tingkat Provinsi Jawa Timur (Jatim).
Namun ada satu peristiwa yang cukup ia ingat hingga sekarang. Saat masih SMA, ia pernah diskors dari sekolah hanya karena mengenakan baju merah.
“Gue ingat betul pernah pakai baju merah diskorsing dua minggu oleh sekolah,” ujarnya sambil tertawa.
Menurut Said, kepala sekolah dan wakil kepala sekolah saat itu merupakan anggota DPRD dari Partai Golkar. Warna merah, yang identik dengan PDI, dianggap sensitif dalam situasi politik ketika itu.
Pengalaman-pengalaman tersebut semakin memperkuat minatnya pada dunia politik. Ia mulai aktif di organisasi kepemudaan yang berafiliasi dengan PDI pada awal 1980-an.
Meski begitu, Said mengaku tidak pernah membayangkan akan meniti karier politik hingga menjadi anggota DPR.
Buku-buku yang ia baca sejak remaja ikut membentuk cara pandangnya terhadap persoalan sosial, terutama kemiskinan yang juga pernah dialami keluarganya.
Kebiasaan membaca itu pula yang masih ia pertahankan hingga sekarang.
Ia mengaku lebih nyaman membaca koran atau buku dalam bentuk fisik. Baginya, membaca langsung dari halaman kertas memberi pengalaman yang berbeda dibandingkan membaca melalui layar gawai.
“Tapi gue enggak bisa baca secara digital, harus fisik,” ujarnya.
Dari kebiasaan membaca di belakang rumah di Sumenep hingga rutinitas membaca koran setiap pagi di Jakarta, ada benang merah yang tidak berubah dalam hidupnya.
Buku, bagi Said Abdullah, bukan sekadar bacaan. Ia adalah bagian dari perjalanan panjang yang membentuk cara pandang seorang anak Madura terhadap dunia—dan pada akhirnya, terhadap politik yang kini ia jalani.
| Editor | : | ats |