Bagas dan Harapan Hidup Seorang Imigran di Belanda
Air mata Bagas Pratama (33) tiba-tiba menetes saat melihat plang sederhana bertuliskan "refugees". Kata bermakna "pengungsi" berhasil menyentil emosi serta ego pemuda yang tumbuh di Kota Kembang itu.
"Biasanya gue lihat di berita-berita pencari suaka, seperti Rohingya, yang datang ke Indonesia. Sekarang, posisi gue di sini enggak jauh berbeda dengan mereka," tutur Bagas kepada kami saat berbincang melalui WhatsApp Call, Selasa (16/6/2026).
Emosi yang menghentak itu bukan tanpa alasan. Tiang tersebut seolah mengingatkan perjalanan dirinya bak di atas gelombang mencari suaka. Lelah secara fisik dan psikis, terombang-ambing ketidakpastian.
Plang tersebut berdiri di sekitar kompleks Ter Apel Center, Belanda. Terletak di wilayah utara Provinsi Groningen, Ter Apel dikenal sebagai lokasi pusat penerimaan pencari suaka terbesar dan permanen di Negeri Kincir Angin.
Ter Apel sama sekali tidak menyerupai bayangan sebuah kamp pengungsian darurat yang kumuh atau terbengkalai. Kompleks ini justru tampak menyerupai area akademis atau asrama modern dengan barisan bangunan bata merah yang rapi serta deretan panel surya di atas atapnya.
Di sela-sela bangunan, hamparan rumput hijau yang terpangkas segar berpadu kontras dengan jalan setapak bersih serta fasilitas rekreasi komunal yang minimalis.
Lanskap yang tertata di kota kecil terpencil wilayah utara Provinsi Groningen inilah yang menjadi gerbang awal bagi mereka yang mengejar utopia kehidupan baru di Eropa lewat jalur sunyi.
Bagi Bagas, keputusan radikal untuk menempuh jalur hukum non-mainstream ini terpaksa diambil ketika ruang aman domestiknya di Tanah Air dirasa sudah runtuh sepenuhnya.
Ancaman serius terhadap privasi personal, persekusi aparat, serta tindakan pemerasan finansial yang terjadi berulang kali membuat dirinya terdesak untuk segera menyelamatkan diri ke luar negeri.
Jalur migrasi resmi, seperti beasiswa akademis internasional, terpaksa diabaikannya karena merasa kapasitas intelektualnya tidak memenuhi standar kompetensi seleksi global yang terhitung sangat ketat.
Begitu pun dengan opsi visa kerja profesional yang membutuhkan modal finansial dalam jumlah besar serta proses pengurusan administrasi yang memakan waktu terlalu lama.
"Banyak orang mengira proses ini mudah karena pada kenyataannya di kamp ini sangat jarang ada imigran yang berasal dari Indonesia. Proses nunggu untuk pendaftaran awal saja bisa memakan waktu hingga lima sampai enam jam di area luar ruangan karena saking padatnya antrean manusia dari berbagai negara," lanjut Bagas.
Gelombang migran
Kompleks penampungan permanen di Ter Apel dikelola secara langsung oleh otoritas suaka Belanda, yaitu Badan Pusat Penerimaan Pencari Suaka (COA). Setiap imigran yang baru tiba di negara tersebut diwajibkan untuk melapor ke lokasi ini terlebih dahulu guna mendaftarkan diri secara resmi ke Dinas Imigrasi dan Naturalisasi (IND).
Sepanjang 2025, tercatat sebanyak 24.073 permohonan suaka baru masuk ke Belanda. Mayoritas pemohon yang mendatangi pusat pendaftaran ini berasal dari wilayah yang sedang dilanda konflik geopolitik parah serta krisis kemanusiaan, seperti Suriah, Somalia, Eritrea, dan Aljazair.
Namun, tantangan hukum kini kian mempersempit celah tersebut karena pihak berwenang tercatat menolak 56 persen lebih banyak permohonan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Data resmi dari badan statistik nasional CBS menunjukkan adanya pengetatan kebijakan imigrasi yang sangat signifikan demi mengontrol arus kedatangan warga asing.
Akibat gelombang kedatangan migran yang konstan dari berbagai belahan dunia, pusat registrasi Ter Apel dilaporkan terus beroperasi melebihi kapasitas tampung maksimumnya.
Pada akhir Maret, fasilitas tersebut menampung lebih dari 2.100 pencari suaka sehingga COA terpaksa mengaktifkan langkah darurat dengan membuka kembali lokasi penampungan tambahan yang sempat dijadwalkan ditutup.
"Tinggal di kamp ini menuntut kami untuk menurunkan standar kenyamanan material dan ego sedalam mungkin demi keamanan fisik," kata Bagas.
Luluhkan ego di balik tembok penampungan
Setelah melewati gerbang administrasi awal yang ketat, realitas kehidupan sehari-hari di dalam kamp mulai menguji ketahanan batin para pencari suaka.
Fasilitas logistik pangan harian dan akomodasi tempat tidur memang dijamin gratis oleh COA. Namun, ruang privasi individu kian menyempit akibat harus berbagi fasilitas dasar dalam keseharian.
Bagas sendiri sekamar berdua dengan pria berkebangsaan Turki dengan fasilitas kamar berupa tempat tidur, lemari, duvet, dan bantal.
Bagas juga harus membiasakan diri berbagi fasilitas ruang komunal, seperti dapur bersama dan kamar mandi dengan ratusan orang asing yang memiliki perbedaan budaya mencolok.
Keterbatasan kemampuan bahasa antar-pencari suaka menjadi kendala sosial utama yang memicu rasa jenuh karena jalinan komunikasi antar-penghuni berjalan dengan sangat kaku.
Suasana di dalam kompleks penampungan juga kerap diwarnai dinamika kelompok imigran dari negara tertentu yang berjumlah mayoritas dan cenderung mendominasi fasilitas publik.
Oleh karena itu, aturan komunal yang rigid, seperti pemberlakuan jam tenang bebas kebisingan diterapkan secara ketat oleh pihak pengelola guna menjaga ketertiban ribuan kepala.
“Di sini tidak boleh berisik atau memancing keributan. Kalau merasa terganggu dengan perilaku penghuni lain, bisa melapor kepada petugas agar mereka ditertibkan atau dipindahkan ke kamar atau bangunan lain,” jelas Bagas.
Rutinitas harian berjalan monoton lantaran para pemohon suaka dilarang keras melakukan aktivitas ekonomi komersial selama masa peninjauan dokumen resmi mereka.
Untuk membunuh rasa jenuh, Bagas memilih menghabiskan waktu dengan mengoperasikan telepon genggam atau mengikuti kelas creative writing.
"Tinggal di sini kadang memicu rasa jenuh yang luar biasa karena tidak ada kegiatan tetap," imbuhnya.
Tak pernah menyesal
Bagas bercerita bahwa otoritas COA sebenarnya memfasilitasi para penghuni dengan berbagai pelatihan kreativitas serta kursus kilat bahasa Belanda tanpa dipungut biaya apa pun.
Kendati demikian, beban psikologis terbesar tetap bersumber dari ketidakpastian durasi evaluasi berkas perkara oleh lembaga IND yang tidak memiliki tenggat pengerjaan pasti.
Proses penantian keputusan resmi terkait hak tinggal tersebut umumnya bergulir antara enam bulan hingga dua tahun penuh dalam kondisi status yang terombang-ambing. Situasi penuh ketidakpastian ini memaksa setiap individu untuk mengikis ego personal mereka dan tunduk sepenuhnya pada regulasi ketat otoritas penampungan asing.
Prosedur formal untuk mendapatkan izin tinggal resmi dari pemerintah Belanda memang memerlukan pembuktian hukum yang sangat rigid dan tidak dapat dimanipulasi.
Pemohon diwajibkan secara hukum untuk berada di dalam wilayah teritorial negara Belanda secara fisik sebelum diperbolehkan mengajukan aplikasi permohonan perlindungan.
Rangkaian tahapan awal tersebut meliputi pemeriksaan latar belakang secara menyeluruh, verifikasi keaslian dokumen pendukung, hingga pemeriksaan barang bawaan di kantor polisi imigrasi.
Walaupun harus mendekam di tengah kesunyian di daerah pinggiran Belanda, Bagas menegaskan dirinya tidak pernah menyesali langkah migrasi radikalnya menuju benua Eropa.
"Ternyata hidup yang lebih baik itu bukan soal menumpuk materi atau uang, melainkan tentang ketenangan batin tanpa perlu merasa takut lagi. Melihat seluruh pengorbanan dan perjalanan sunyi ini dari kejauhan, saya tahu keputusan ini sudah berada di jalur yang benar," kata Bagas.
| Editor | : | ats |