News

Rupiah Keok, Gandum Jadi Solusi, Gimana Ceritanya?

Penulis - ats | 3 Juni 2026
Ilustrasi ladang gandum dekat Mariupol, Donetsk. (FOTO: STRINGER/AFP)

Publik seakan dipaksa memerah logika ketika Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, menyeletuk bahwa pelemahan Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dapat menjadi peluang emas bagi sektor pariwisata dalam negeri.

Argumennya terdengar manis, yakni melemahnya kurs akan membuka keran tambahan kunjungan wisatawan asing ke Indonesia karena biaya berlibur di Tanah Air menjadi terasa lebih murah bagi mereka.

Tak cukup sampai di situ, pemengaruh edukasi finansial yang kerap membedah saham ikut menyiram bensin ke dalam diskusi publik dengan penuh percaya diri melalui saluran YouTube miliknya.

Ia menyatakan bahwa jika Indonesia ingin menjadi negara maju, Rupiah wajib melemah agar masyarakat bebas dari ketergantungan barang impor yang semakin mahal.

Secara spesifik, ia menambahkan bahwa momentum ini bisa memaksa orang Indonesia melahirkan inovasi agrikultur, seperti merakit bibit baru gandum yang bisa tumbuh subur di iklim tropis.

Dua pernyataan di atas seakan sedang mengguyur air es di atas kepala kita yang mulai memanas akibat kabar lesunya mata uang rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Tapi sebentar, mari tarik napas pelan-pelan untuk mencerna rentetan pernyataan yang beredar di media sosial tersebut. Di balik pandangan tersebut, ada satu hal menarik yang krusial untuk ditelisik lebih dalam mengenai skala prioritas kebijakan negara.

Kita perlu menguji secara rasional, mana yang harus didahulukan antara menjaga stabilitas kesejahteraan ekonomi rakyat atau memburu laju inovasi barang substitusi, seperti gandum lokal?

Lebih dari 70 persen total impor Indonesia didominasi bahan baku dan bahan penolong sebagai penopang aktivitas produksi nasional. (Infografis dibuat menggunakan AI generatif)

Glorifikasi pelemahan Rupiah
Pola pikir yang mengagungkan pelemahan mata uang ini sebenarnya mengadopsi semangat proteksionisme dan strategi industrialisasi substitusi impor (ISI).

Premis ini berasumsi bahwa ketika nilai tukar merosot dan harga produk asing otomatis meroket, pasar dalam negeri secara alami akan membentengi diri dari gempuran produk luar, sekaligus terpacu menciptakan teknologi mandiri sebagai pengganti.

Gagasan tersebut memosisikan krisis sebagai cara instan yang bisa menyulap sebuah negara menjadi mandiri melalui penemuan komoditas pangan yang adaptif dengan iklim tropis.

Namun, teori di atas kertas yang terdengar indah itu sering kali melupakan bahwa pasar riil tidak pernah beroperasi di dalam ruang isolasi instan.

Menuntut lahirnya inovasi substitusi secara mendadak di tengah badai depresiasi kurs ibarat memaksa seorang petani merakit mesin irigasi canggih saat kekeringan hebat sudah membakar sawahnya.

Tanpa ekosistem industri hulu yang matang, tekanan ekonomi yang datang bertubi-tubi justru akan mematikan daya hidup sektor usaha lokal pradini.

Benturan paling keras dari romantisme inovasi ini adalah data fundamental dari struktur rantai pasok ekonomi nasional kita sendiri.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) secara konsisten merekam bahwa lebih dari 70 persen total impor Indonesia merupakan bahan baku, bahan penolong, serta barang modal.

Ketika Rupiah keok, biaya produksi manufaktur domestik otomatis membengkak karena alternatif bahan baku lokal belum tersedia di pasar, yang kemudian memicu imported inflation dan langsung mencekik daya beli masyarakat.

Membangkitkan gandum yang mati suri
Mari kita bedah realita di lapangan menggunakan contoh konkret yang sering digaungkan, yaitu inovasi benih gandum lokal untuk menjawab ketergantungan terigu.

Fakta historis mencatat bahwa para peneliti agrikultur kita sebenarnya sudah melakukan kerja senyap ini sejak era 1990-an pada lahan dataran tinggi yang relatif kering. Hal ini tertuang dalam riset bertajuk Perkembangan Pemuliaan Gandum di Indonesia.

Pemerintah bahkan telah menggelar uji multilokasi gandum di beberapa provinsi pada kurun waktu 2001 hingga 2003 untuk memetakan wilayah tumbuh, sebelum akhirnya masuk tahap pengembangan pada 2004.

Namun, riset dari Lukman M Baga dan Agnes A D Puspita (2013) menunjukkan bahwa inovasi hayati memiliki garis waktu yang teramat panjang dan berliku. Meskipun varietas unggul dataran tinggi berhasil dilepas, tanaman gandum selalu kalah bersaing secara ekonomi dengan komoditas sayuran komersial milik petani lokal.

Akibatnya, program pemuliaan untuk merakit varietas gandum yang benar-benar adaptif terhadap wilayah tropis harus dihidupkan kembali dari mati suri pada 2009.

Pesimisme tersebut terekam dalam penelitian Persepsi Petani Terhadap Budidaya Gandum Tropis (2019) di Jawa Tengah (Jateng), yang memotret keengganan nyata di tingkat tapak.

Petani di Kabupaten Demak, misalnya, cenderung memiliki persepsi bahwa budidaya gandum sangat tidak menguntungkan, tidak mudah diolah, dan memiliki risiko kegagalan panen yang tinggi.

Sementara di Boyolali, meski petani menganggap gandum mudah dibudidayakan dan punya harga jual tinggi, mereka tetap dihantui oleh risiko kegagalan panen yang sangat besar.

Kondisi serupa tapi tak sama terjadi pada petani di Klaten yang memandang komoditas ini tidak menguntungkan akibat bayang-bayang gagal panen yang tinggi, walaupun diiming-imingi harga jual yang mahal.

Stabilitas ekonomi harga mati
Melihat runutan sejarah tersebut, sebuah inovasi ilmiah hingga benar-benar siap diadopsi secara massal membutuhkan waktu minimal belasan hingga puluhan tahun agar dampaknya nyata.

Sementara itu, hantaman pelemahan Rupiah hanya membutuhkan waktu hitungan minggu untuk merusak stabilitas ekonomi dan memicu kenaikan harga barang pokok. Oleh karena itu, dalam skala prioritas hari ini, menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi adalah harga mati yang paling krusial untuk didahulukan oleh otoritas moneter.

Tugas mendesak Bank Indonesia dan pemerintah saat ini adalah memastikan daya beli rakyat tidak ambruk dan industri dalam negeri tidak gulung tikar.

Stabilitas ekonomi bukanlah musuh dari kemajuan, melainkan ruang aman yang memberikan kepastian modal bagi para peneliti untuk bekerja tanpa bayang-bayang kebangkrutan.

Menyelamatkan isi dompet rakyat hari ini jauh lebih mendesak daripada menggantungkan nasib pada romantisme inovasi jangka panjang yang ekosistemnya sendiri belum siap berdiri tegak.

Kita tentu akan tetap berkomitmen mendukung riset dan inovasi gandum lokal. Meski begitu, proses tersebut harus berjalan di atas peta jalan yang matang, bukan dijadikan tameng pembelaan instan di tengah jebloknya nilai tukar.

Editor : ats
Komentar
Editor Picks