Bukan Sate Apalagi Bebek, Kenalin Nih: Kaldu Kokot Khas Madura!
Siang itu, Kabupaten Bangkalan sedang terik-teriknya dengan hawa panas yang mengepung kami. Namun, sembari duduk di atas lencak (bale-bale), rasa penasaran kami mengalahkan segalanya.
Di depan mata, sebuah piring putih tersaji hangat dan mengepulkan aroma gurih yang menggugah selera. Inilah Kaldu Kokot, kuliner legendaris yang jarang sekali bisa Anda temukan di luar Pulau Garam.
Bagi yang baru pertama kali mendengarnya, penampilan hidangan ini mungkin akan memicu sedikit rasa heran. Jika sup Brenebon khas Minahasa menggunakan kacang merah, lidah masyarakat Madura justru melahirkan harmoni berbeda dengan kacang hijau.
Kacang hijau yang biasanya akrab sebagai takjil manis, di sini melebur bersama kuah kaldu bening kecoklatan yang gurih. Istilah kokot sendiri merujuk pada bagian telapak kaki atau kikil sapi yang direbus lama bersama tulang-tulangnya.
Di kalangan masyarakat lokal, hidangan tersebut sering dianggap sebagai tingkatan kuliner yang agak hardcore. Pasalnya, yang tersaji bukanlah potongan daging rapi, melainkan bongkahan tulang dan kikil besar yang menantang untuk disesap sampai habis.
Menyantap kokot secara turun-temurun dipercaya masyarakat setempat dapat mendongkrak stamina sekaligus memberikan nutrisi baik untuk otak.
Riwayat rasa dari Sumenep
Di balik semangkuk kelezatan ini, tersimpan ritual memasak yang panjang hingga memakan waktu sekitar tiga jam.
Hari itu, kami berkesempatan melihat langsung bagaimana Wati (42), warga Bangkalan, merendam kacang hijau seharian penuh sebelum direbus bersama belasan rempah.
Racikan rempah tersebut mulai dari kayu manis, pala, cengkih, hingga petis merah khas Sumenep yang terbuat dari bahan dasar ikan. Menariknya, kami pun diajak untuk terlibat langsung di dapur meski hanya kebagian tugas ringan mengiris tipis bawang merah dan daun bawang.
Irisan perbawangan ini nantinya ditumis hingga menghasilkan aroma sedap yang kemudian dicemplungkan ke dalam kuah kaldu. Tak heran jika sup ini tidak hanya kaya rasa dari kaldu sapi, melainkan juga dilimpahi dengan keharuman aneka bumbu tersebut.
Sementara itu, bagian kokot direbus terpisah dengan bumbu serupa hingga teksturnya benar-benar empuk berair. Seluruh bahan kemudian disatukan dalam panci besar, lalu dididihkan kembali selama satu jam agar seluruh saripati bumbunya meresap sempurna.
Kreativitas warga Madura tidak berhenti di sana saja, mengingat daerah mereka juga kaya akan hasil bumi berupa singkong. Biasanya, sebagai pelengkap yang unik, hidangan berkuah ini kerap disajikan bersama perkedel singkong untuk memperkuat kelezatannya.
Ledakan rasa umami
Cara terbaik menikmati Kaldu Kokot adalah dengan melupakan sejenak sendok dan garpu di meja. Gunakan jemari Anda untuk mempreteli kikilnya yang super lembut dan kenyal karena telah direbus dalam waktu lama.
Uniknya, hidangan kaya kolagen ini disajikan bersama potongan lontong dan kerupuk puli renyah alih-alih nasi putih. Jangan lupa tambahkan kucuran jeruk nipis segar serta ulekan sambal korek yang pedasnya menggigit.
Saat kuah kaldu gurih berpadu dengan sengatan sambal dan asamnya jeruk, terjadilah ledakan rasa umami yang luar biasa.
Kaldu kokot adalah bukti autentik bahwa kesederhanaan bahan mampu menciptakan rindu yang mendalam bagi setiap petualang rasa. Bahkan saat menuliskan kisah ini pun, ingatan lidah saya langsung melayang kembali pada kelezatan kuahnya yang magis.
Oleh karena itu, pastikan kamu menyempatkan diri mencicipi hidangan tersebut saat bertandang ke Madura kelak. Sebab, petualangan rasa di Pulau Garam sejatinya tidak melulu soal bebek goreng dan barisan satenya saja.
| Editor | : | ats |