Orang Madura dan Peluang di Tanah Orang
Di banyak sudut Jakarta, kehadiran pedagang dengan gerobak dorong dari Pulau Madura memberi warna tersendiri. Pada malam hari, aroma sate yang dipanggang, bubur ayam hangat, bubur kacang hijau, hingga bebek goreng bumbu hitam kerap menggoda orang yang melintas untuk berhenti sejenak.
Bagi warga ibu kota, menu-menu itu telah menjadi bagian dari rutinitas santap malam. Bahkan, bebek bumbu hitam Madura kini tak lagi sekadar hidangan kaki lima.
Di sejumlah hotel berbintang lima, menu tersebut hadir sebagai sajian premium yang menunjukkan betapa kuatnya pengaruh kuliner Madura dalam lanskap gastronomi perkotaan.
Namun ada ironi yang menarik. Di Bangkalan, salah satu kota utama di Madura, justru tidak mudah menemukan pedagang makanan tersebut pada malam hari, hanya sate yang relatif mudah ditemukan di perempatan kecamatan setiap sore. Sementara, bubur ayam berkaldu kuning, bubur kacang hijau, maupun bebek goreng bumbu hitam hampir tidak terlihat.
Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan menarik, “Mengapa banyak kuliner khas Madura justru berkembang pesat di tanah rantau, sedangkan di daerah asalnya tidak sepopuler itu sebagai usaha malam hari?”
Pertanyaan yang sama juga muncul ketika melihat diaspora Madura yang begitu aktif di berbagai kota besar.
Di Jakarta dan kota-kota lain, orang Madura dikenal tangguh di sektor informal. Selain kuliner, mereka juga menekuni berbagai usaha lain, mulai dari perdagangan besi bekas, kopi keliling atau yang populer disebut “starling”, hingga toko kelontong yang buka hampir tanpa jeda.
Lalu, apa yang membuat migran Madura begitu mampu bertahan dan berkembang di tanah rantau?
Iklim dan geologi
Salah satu jawabannya berakar pada kondisi alam Pulau Madura sendiri. Sejarawan Kuntowijoyo dalam bukunya Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura 1850–1940 (2002) menjelaskan bahwa lingkungan ekologis Madura sejak lama menghadirkan tantangan bagi penduduknya.
...tidak adanya hambatan psikologis, sosial, maupun budaya untuk berpindah tempat turut mempermudah mobilitas orang Madura.
Pulau tersebut tidak memiliki banyak tanah vulkanis yang subur seperti di Jawa. Sebagian wilayahnya didominasi tanah kapur. Di bagian utara Madura, tanahnya merupakan campuran pasir kuarsa dan mineral lain yang mudah tergerus. Ketika musim hujan datang, air dengan cepat mengikis tanah. Sebaliknya saat kemarau, angin mempercepat erosi.
Akibatnya, lahan pertanian di Madura tidak hanya terbatas luasnya, tetapi juga kualitasnya sering kali kurang mendukung pertanian intensif. Kuntowijoyo mencatat bahwa keterbatasan tanah pertanian menjadi salah satu ciri utama perekonomian Madura sejak lama.
Dalam kondisi seperti itu, masyarakat Madura belajar beradaptasi. Pilihan untuk mencari penghidupan di luar pulau menjadi sesuatu yang wajar. Migrasi bukan sekadar strategi ekonomi, melainkan juga respons terhadap keterbatasan ekologis.
Selain faktor alam, keputusan merantau juga dipengaruhi berbagai hal lain. Suhanadji (1998) mencatat bahwa tidak adanya hambatan psikologis, sosial, maupun budaya untuk berpindah tempat turut mempermudah mobilitas orang Madura.
Cerita sukses para perantau yang pulang kampung sering menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.
Di daerah tujuan, peluang kerja yang lebih beragam—terutama di sektor informal—membuka ruang bagi mereka untuk mencoba berbagai usaha. Transportasi yang semakin mudah juga membuat perjalanan merantau tidak lagi terasa sejauh dulu.
Motif migrasi pun tidak selalu semata ekonomi. Noer (2008) menemukan bahwa dalam kasus migrasi perempuan Madura ke Bekasi, status perkawinan juga dapat menjadi faktor pendorong bagi keputusan untuk merantau secara individual.
Modal sosial kuat
Selain faktor lingkungan dan ekonomi, kekuatan lain yang menopang keberhasilan migran Madura adalah modal sosial yang mereka bangun di perantauan.
Kajian yang dimuat dalam Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan menunjukkan bahwa jaringan sosial menjadi salah satu penopang utama kehidupan migran Madura di Kota Bogor.
Hubungan mereka tidak hanya terjalin dengan sesama orang Madura, tetapi juga dengan masyarakat luas di kota tempat mereka tinggal. Namun, ikatan dengan sesama perantau tetap menjadi fondasi awal yang sangat penting, terutama ketika seseorang baru memulai usaha.
Dalam praktiknya, jaringan sosial ini terlihat dalam bentuk yang sederhana tetapi efektif. Teman kerja yang sama-sama berasal dari Madura sering membantu dalam urusan bahan baku atau berbagi informasi tentang pemasok.
Sementara itu, perkumpulan migran Madura di daerah rantau sering menjadi tempat saling membantu dalam hal permodalan usaha.
Selain jaringan, unsur kepercayaan atau trust juga memegang peranan besar. Para migran Madura cenderung memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi satu sama lain. Perasaan sebagai sesama perantau membuat hubungan mereka terasa lebih dekat.
Kedekatan itu dipelihara melalui komunikasi dan pertemuan rutin. Di beberapa kota, perkumpulan migran Madura bahkan mengadakan pertemuan hingga dua kali dalam seminggu.
Pertemuan ini bukan sekadar ajang berkumpul, tetapi juga ruang bertukar informasi, memperkuat solidaritas, dan membantu sesama anggota komunitas.
Di antara para pedagang, terdapat pula norma tidak tertulis yang dijaga bersama. Misalnya, jika seorang konsumen sedang bertransaksi di lapak milik pedagang Madura lain, pedagang lain tidak diperbolehkan menarik atau membujuk konsumen tersebut untuk beralih.
Begitu pula dalam hal harga. Para pedagang biasanya menjaga agar harga tetap dalam batas wajar sehingga persaingan tetap sehat. Aturan sederhana seperti ini membantu menjaga hubungan baik sekaligus stabilitas usaha di antara mereka.
Pada akhirnya, diaspora Madura tidak hanya berbicara tentang penyebaran penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain. Lebih dari itu, ia menggambarkan bagaimana sebuah komunitas mampu mempertahankan identitasnya sambil beradaptasi dengan lingkungan baru.
Salah satu ciri yang kerap melekat pada diaspora Madura adalah kemampuannya melihat peluang ekonomi yang sering luput dari perhatian orang lain. Sesuatu yang bagi sebagian orang tampak sepele atau tidak bernilai, bagi para perantau Madura justru bisa diubah menjadi sumber penghidupan.
Dari gerobak sate di pinggir jalan hingga warung kecil yang buka hampir sepanjang hari, jejak diaspora Madura menunjukkan bahwa daya tahan, jaringan sosial, dan keberanian mencoba peluang baru dapat menjadi modal penting untuk bertahan—dan bahkan berkembang—di tanah rantau.
| Editor | : | ats |
