Irwan Hidayat: Kuda yang Bagus Tidak Mengejar Kekayaan
"Hao ma bu qiu cai"
Filsafat China itu tertulis di bagian belakang kaos oblong putih yang dikenakan Irwan Hidayat pagi itu, Kamis (26/3/2026).
Tak sekadar ornamen, kalimat itu menjadi pegangan hidup Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk tersebut.
"Kuda yang bagus tidak mengejar kekayaan. Sebaliknya, ia yang akan dikejar kekayaan," ujar Irwan, santai, sembari menyapa wartawan.
Penampilannya sederhana, kaos putih, celana hitam, dan sandal jepit. Namun, gagasannya terasa besar.
Pagi itu, ia berbicara bukan soal jamu, melainkan tentang satu hal yang menurutnya bisa mengubah masa depan ekonomi masyarakat, nabung saham.
Selama beberapa menit, Irwan mengurai kegelisahannya terhadap istilah “investasi”. Baginya, kata itu terlalu tinggi, terlalu elit, dan justru menjauhkan masyarakat dari pasar modal.
“Makanya saya pakai istilah ‘nabung saham’ supaya sederhana. Orang enggak takut duluan,” kata dia.
Gagasan itu lahir dari hal yang sangat dekat, yakni percakapannya dengan asisten rumah tangga di rumahnya.
Irwan bercerita, sang asisten rutin menyisihkan uang untuk membeli kambing. Pola yang umum di masyarakat, menabung dalam bentuk ternak.
Namun Irwan melihat ada yang keliru dari sisi hitungan ekonomi.
Ia lalu menguraikan dengan sederhana. Jika seseorang bekerja dengan gaji sekitar Rp 3,2 juta per bulan, seharusnya ada ruang untuk menabung. Namun ketika uang itu dialihkan ke pembelian kambing, hasilnya tidak sebanding.
“Kalau dihitung, setahun kambing itu nilainya mungkin sekitar Rp 3 juta. Tapi kalau dirawat lama, dijualnya bisa cuma Rp 5 juta. Sementara biaya dan waktu yang keluar besar,” tutur Irwan.
Menurut dia, pendekatan itu justru membuat masyarakat kehilangan potensi keuntungan yang lebih besar.
Sebaliknya, jika sebagian kecil pendapatan—misalnya Rp 25.000 per hari—dialokasikan ke saham secara rutin, hasilnya bisa jauh lebih optimal dalam jangka panjang.
Dari situlah ia mulai mengajarkan konsep “nabung saham” kepada orang-orang di sekitarnya, termasuk karyawan di lingkungan perusahaan.
Membumikan “nabung saham”
Irwan bahkan sempat terkejut ketika mengetahui jumlah investor saham di Indonesia masih relatif kecil.
“Di Indonesia itu sekitar 21 juta orang. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang mencapai 240 juta. Padahal jumlah penduduk kita besar,” katanya.
Ia menilai rendahnya partisipasi masyarakat bukan karena tidak mampu, melainkan karena pendekatan yang kurang tepat.
“Masalahnya di cara kita menyampaikan. Kalau dibilang investasi, orang langsung takut. Tapi kalau nabung, semua orang paham,” ujar dia.
Lebih jauh, Irwan melihat gerakan ini bukan sekadar soal keuntungan pribadi, tetapi juga tentang kemandirian ekonomi nasional.
Ia menyinggung kekhawatiran banyak pihak terhadap pergerakan investor asing yang kerap keluar-masuk pasar.
Menurut dia, kondisi tersebut seharusnya menjadi momentum bagi masyarakat Indonesia untuk lebih mengandalkan kekuatan sendiri.
“Kalau kita punya pasar domestik besar, kenapa harus terlalu bergantung? Kita bisa berdiri dengan kekuatan sendiri,” kata Irwan.
Ia mencontohkan negara dengan pasar domestik kuat yang mampu menciptakan efisiensi dan daya saing tinggi.
Indonesia, dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, dinilai memiliki potensi serupa.
“Kalau masyarakat kita rutin nabung saham, pasar kita akan kuat. Tidak mudah goyah hanya karena investor asing keluar,” ujarnya.
Bagi Irwan, logikanya sederhana. Jika prosesnya benar, hasil akan mengikuti.
Ia pun berencana mendorong gerakan ini secara lebih luas, mulai dari lingkungan internal perusahaan hingga ke masyarakat umum melalui edukasi.
“Nanti saya akan ke kampus-kampus, jadi pembicara, dan juga nulis untuk membumikan semangat nabung saham. Ini bukan soal target, tapi proses. Kalau prosesnya benar, nanti akan jadi besar,” kata dia.
Di balik kesederhanaannya pagi itu, Irwan membawa satu gagasan yang jauh lebih besar dari sekadar investasi, yakni membangun kebiasaan baru.
Sebuah cara berpikir yang, seperti filosofi di kaosnya, tidak mengejar kekayaan—melainkan mempersiapkan diri agar layak dikejar oleh kemakmuran.
| Editor | : | ats |