Rahasia Sido Muncul Jaga Nilai untuk Generasi Keempat
“Orang pintar minum Tolak Angin.”
Slogan itu tak hanya hidup di iklan, tapi juga di kepala jutaan orang Indonesia. Hadir dalam bentuk reklame di televisi, radio, hingga media sosial, tagline tersebut melekat kuat di benak publik sebagai bagian dari keseharian.
Sejumlah tokoh ternama pernah ikut memperluas pengaruh. Sebut saja Andy F Noya hingga Profesor Rhenald Kasali, menjadi wajah yang menguatkan pesan sederhana dari produk jamu tersebut.
Namun bagi Irwan, slogan itu lahir dari proses panjang yang tak selalu mulus.
Perjalanan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul) tidak dibangun dalam semalam. Dari usaha rumahan sederhana, perusahaan ini tumbuh menjadi salah satu pemain besar di industri jamu nasional.
Kini, setelah lebih dari 70 tahun, fokus perusahaan bukan hanya soal pertumbuhan, tetapi juga keberlanjutan.
Direktur Sido Muncul Irwan Hidayat pun bercerita soal ini kepada kami di markas Sido Muncul di Cipete, Jakarta Selatan, Kamis (20/11/2025).
Di sela obrolan, Irwan menyuguhkan ayam bakar racikannya sendiri, menu yang juga ia kembangkan di usaha kuliner keluarga. Menu ini merupakan salah satu andalan di Bhima Ayam Goreng lantaran bumbunya diracik sendiri oleh Irwan.
“Kamu wajib coba ayam bakar buatan saya ini. Saya pengin setiap orang bisa menikmati. Makanya saya buka restoran Bima Yamgor,” ujar Irwan.
Resto Bima Yamgor dipercayakan kepada si bungsu, Marco Jonathan Hidayat, yang dikelola bersama kakak iparnya.
Irwan menuturkan, salah satu fase penting yang tengah dihadapi Sido Muncul kini adalah regenerasi ke generasi keempat keluarga Hidayat.
Bagi Irwan, proses ini tidak sekadar pergantian posisi. Ia melihatnya sebagai upaya menjaga arah perusahaan agar tetap konsisten di tengah perubahan.
“Yang penting bukan hanya siapa yang memimpin, tetapi nilai dan cara kerja yang tetap dijaga,” kata Irwan.
Kepercayaan yang dibangun puluhan tahun
Sejak awal, Sido Muncul dibangun di atas kepercayaan. Produk jamu yang dihasilkan tidak hanya mengandalkan tradisi, tetapi juga diperkuat dengan pendekatan ilmiah.
Langkah tersebut tidak langsung membuahkan hasil. Butuh waktu panjang setidaknya selama 50 tahun hingga masyarakat benar-benar percaya.
Irwan menyebut, proses tersebut menjadi pelajaran penting bahwa keberlanjutan bisnis sangat bergantung pada konsistensi menjaga kualitas.
“Kepercayaan itu dibangun lama, bukan instan,” tutur Irwan.
Pendekatan berbasis riset, pengujian produk, hingga penguatan laboratorium kemudian menjadi bagian dari sistem kerja perusahaan hingga saat ini.
Sebagai perusahaan keluarga, Sido Muncul juga memiliki dinamika tersendiri. Namun berbeda dari banyak kasus lain, Irwan justru melihat keluarga sebagai kekuatan utama.
Menurut dia, keterlibatan keluarga membuat tanggung jawab menjadi lebih besar. Selama puluhan tahun, pola kerja ini berjalan dengan mengandalkan kepercayaan dan kebiasaan yang terbentuk di internal keluarga.
“Kalau (melibatkan dari kalangan) profesional (dalam menduduki jajaran eksekutif), tanggung jawabnya (hanya sebatas) pekerjaan. Kalau keluarga, ini menyangkut keberlanjutan yang kami bangun sendiri,” ujarnya.
Dari kebiasaan ke sistem yang lebih terbuka
Masuknya generasi keempat membawa perubahan struktur dalam keluarga. Jika sebelumnya di generasi ketiga didominasi saudara kandung, kini terdiri dari sepupu dengan latar belakang yang lebih beragam.
Kondisi tersebut mendorong perusahaan untuk mulai merapikan aturan internal keluarga.
Irwan mengatakan, selama ini banyak keputusan berjalan berdasarkan kebiasaan atau yang disebut sebagai “hukum adat” keluarga. Ke depan, aturan tersebut akan diformalkan agar lebih jelas dan transparan.
Ia menilai langkah ini penting untuk mencegah potensi konflik sekaligus menjaga profesionalisme.
“Aturan harus jelas dan dilembagakan supaya tidak menimbulkan kecurigaan dan semua bisa berjalan transparan,” kata dia.
Aturan tersebut juga akan mencakup batasan kewenangan, termasuk peran Chief Executive Officer (CEO) dalam konteks keluarga.
Proses regenerasi sendiri tidak dilakukan secara mendadak. Perusahaan menargetkan masa transisi sekitar satu tahun untuk memastikan semua sistem siap.
Untuk diketahui, Sido Muncul bakal menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (9/4/2026).
Salah satu agenda utama dalam RUPS tersebut adalah penunjukan kembali Direktur Sido Muncul Dr (HC) Irwan Hidayat sebagai Direktur Utama atau CEO. Jika disetujui, ini akan menjadi kali kedua Irwan memimpin perusahaan sebagai CEO.
“Sebagai yang paling senior di generasi ketiga, saya akan menjadi CEO terakhir dari generasi ini untuk mempersiapkan dan menyerahkan Sido Muncul kepada generasi penerus. Dalam satu tahun ke depan, kami akan membenahi perusahaan ini agar benar-benar siap dan kuat,” terang Irwan.
Bagi Irwan, generasi keempat bukan datang tanpa bekal. Mereka telah memiliki modal penting dari sisi pendidikan dan pengalaman kerja setidaknya selama 25 tahun di industri.
“Bukan hanya menyerahkan tongkat estafet, tapi memastikan mereka sudah siap,” ujar Irwan.
Tetap relevan di tengah perubahan
Selain soal regenerasi, perusahaan juga menghadapi tantangan eksternal. Perubahan pasar, persaingan industri, hingga perkembangan teknologi menuntut perusahaan untuk terus beradaptasi.
Sido Muncul merespons dengan memperkuat pendekatan ilmiah, meningkatkan efisiensi operasional, serta mulai melakukan transformasi digital.
Namun di tengah berbagai perubahan tersebut, Irwan menegaskan bahwa nilai dasar perusahaan tetap menjadi pegangan.
“Kami boleh berubah dalam cara, tapi tidak dalam prinsip,” kata dia.
Bagi Irwan, keberhasilan perusahaan keluarga tidak hanya diukur dari pertumbuhan, tetapi dari kemampuannya bertahan lintas generasi.
Karena itu, regenerasi yang sedang disiapkan bukan hanya soal kepemimpinan, tetapi juga soal kesinambungan nilai.
Sido Muncul berupaya memastikan bahwa generasi berikutnya tidak hanya melanjutkan bisnis, tetapi juga memahami fondasi yang telah dibangun.
“Yang kami wariskan bukan hanya perusahaan, tapi juga cara menjaganya,” ujar Irwan.
| Editor | : | ats |