People

Ali dan Mimpi Punya Rumah tanpa Slip Gaji

Penulis - ats | 16 Maret 2026
Kurir online (kurol) menyimpan harapan memiliki rumah sendiri. (ANTARA FOTO/Fathul Habib Sholeh/Spt.)

“Pakeeettt!”

Lengkingan suara itu kerap terdengar di kawasan perumahan urban, pemukiman padat perkotaan, ataupun hunian di daerah pinggir kota.

Dari balik pagar besi, teras rumah dua lantai, atau jendela lantai atas yang dibuka setengah, seruan tersebut menjadi penanda ritme transaksi digital yang berujung pada ketukan di pintu.

Bagi sebagian orang, itu sekadar tanda barang belanjaan tiba. Namun bagi Ali, itu adalah pekerjaan dan sekaligus pengingat tentang mimpi yang belum ia genggam.

Setiap pukul 08.00 pagi, pria 39 tahun itu mengenakan jaket kurir dan menyusuri jalanan Pasar Minggu dengan sepeda motor dengan karung goni berisi puluhan paket.

Ia mengantar belasan hingga puluhan kiriman per hari. Gang sempit, kompleks padat, hingga klaster baru yang jalannya masih berdebu sudah ia hafal di luar kepala.

Ia tahu rumah mana yang sering menerima paket elektronik. Ia hafal blok yang portalnya ditutup selepas pukul 21.00. Ia bahkan bisa menebak tipe rumah dari desain fasad dan luas carport-nya.

Namun setelah menyerahkan paket dan mengucap, “Terima kasih, Pak/Bu,” ia kembali memutar gas, meninggalkan kompleks rapi itu untuk pulang ke rumah kontrakan.

Lima tahun terakhir, Ali menyewa rumah petakan sederhana seharga Rp 700.000 per bulan.

Jika dijumlah, Rp 42 juta telah ia keluarkan hanya untuk sewa. Uang yang habis tanpa pernah berubah menjadi kepemilikan.

“Kadang kalau lagi antar ke rumah baru, saya mikir juga. Seandainya dulu sudah tahu caranya, mungkin sudah mulai nyicil,” ujar Ali.

Sebagai pekerja informal, penghasilannya rerata Rp 5 juta per bulan. Istrinya membantu dengan usaha kecil di rumah yang menghasilkan sekitar Rp 2 juta.

Total Rp 7 juta itu cukup untuk makan, sekolah anak semata wayang, dan kebutuhan harian. Namun membeli rumah terasa seperti lompatan besar, terutama tanpa slip gaji tetap.

Status sebagai pekerja informal kerap membuatnya merasa berada di luar sistem. Seolah-olah rumah hanya untuk mereka yang bekerja sebagai pegawai kantoran, memiliki penghasilan tetap, dan administrasi yang rapi.

Ingin punya alamat tetap
Dalam keseharian kota, pekerja seperti Ali adalah bagian tak terpisahkan dari roda ekonomi. Mereka mengantar barang, membangun rumah, menjaga keamanan, dan menyediakan layanan.

Namun ketika berbicara soal kepemilikan hunian, akses itu tidak selalu terasa setara.

Persoalan rumah pun menyentuh dimensi yang lebih dalam, keadilan sosial. Hunian layak bukan sekadar komoditas, melainkan kebutuhan dasar yang berkaitan dengan martabat dan masa depan keluarga.

Ketika jutaan pekerja informal ikut menopang aktivitas ekonomi, tetapi kesulitan memiliki tempat tinggal tetap, pertanyaan tentang pemerataan akses menjadi relevan.

Data Badan Pusat Statistik (2025) menunjukkan backlog atau kekurangan rumah nasional telah mencapai 15 juta unit pada 2025. Di sisi lain, lebih dari separuh tenaga kerja Indonesia berada di sektor informal.

Artinya, tantangan kepemilikan rumah bukan hanya soal kurangnya unit, tetapi juga bagaimana sistem mampu merangkul mereka yang penghasilannya tidak tercatat dalam slip gaji bulanan.

Bagi Ali, isu itu terasa sangat personal. Kontrakannya kini makin sempit. Anak sulungnya beranjak remaja. Buku sekolah bertumpuk di sudut ruangan. Lemari pakaian nyaris tak muat. Ia pun ingin buah hatinya punya kamar yang tetap, alamat yang tidak berubah-ubah setiap beberapa tahun.

Belakangan, obrolan di waktu rehat berubah. Di warung kopi dekat gudang ekspedisi, para kurir kini lebih sering membahas kredit pemilikan rumah (KPR) dan rumah subsidi.

“Kami sama-sama kerja lapangan. Jadi suka tanya, orang seperti kita bisa enggak ambil rumah?” kata Ali.

Ia mulai menghitung ulang. Jika harga rumah subsidi sekitar Rp 168 juta dan cicilan berkisar Rp 1 juta per bulan, selisihnya tidak jauh dari biaya kontrakan yang selama ini ia bayar.

“Kalau sewa segitu terus, habis begitu saja. Kalau cicilan, setidaknya jadi milik sendiri,” lanjutnya.

Harapan dalam diam
Ia memang belum memiliki dana cukup untuk uang muka. Namun, kini ia menyisihkan uang tip dari pelanggan.

Sedikit demi sedikit dikumpulkan. Ia juga mulai mencari informasi dan mencoba memahami jalur yang tersedia bagi pekerja informal.

Setiap kali berhenti di depan rumah baru dan meneriakkan, “Pakeeettt!”, ada rasa yang berbeda. Ia tidak lagi sekadar mengantar barang, melainkan membawa harapan dalam diam.

Ia membayangkan suatu hari suara itu terdengar di depan rumahnya sendiri, rumah dengan nama keluarganya tertera di dokumen kepemilikan. Rumah yang tidak perlu dikosongkan setiap dua atau tiga tahun. Rumah yang menjadi titik tetap dalam perjalanan hidupnya.

Di balik helm dan jaket kurir itu, ada seorang ayah yang ingin memastikan anaknya tumbuh dengan rasa aman.

“Kalau jalannya ada, saya ingin coba. Pelan-pelan saja,” katanya.

Dan mungkin, suatu hari, ketika ia kembali meneriakkan “Pakeeettt!”, itu bukan lagi sekadar panggilan kerja, melainkan gema dari mimpi yang akhirnya sampai tujuan.

Editor : ats
Komentar
Editor Picks