Cara Bertahan Kuliner Kita: Bambu Menjadi Panci, Bara Api Menjadi Kompor
Sejak berabad-abad lalu, Ternate dikenal sebagai pulau rempah. Cengkeh yang tumbuh di tanah vulkaniknya pernah menggerakkan kapal-kapal dagang dari Eropa, Timur Tengah, hingga Asia Timur untuk berlabuh di pesisirnya.
Namun jauh dari hiruk-pikuk perdagangan dan perebutan pengaruh itu, ada kehidupan lain yang tumbuh tenang di hutan dan perkampungan. Di sanalah tradisi gastronomi, seperti Rimo-rimo, lahir dan diwariskan.
Di Ternate, dapur pertama bukanlah ruang berdinding, melainkan hutan. Di sanalah manusia belajar bahwa memasak adalah cara bertahan hidup.
Rimo-rimo adalah teknik memasak menggunakan bambu sebagai wadah alami, lalu dibakar di atas bara api hingga matang. Bambu dipotong sesuai ukuran, diisi bahan makanan, kemudian disandarkan perlahan pada api terbuka.
Panas merambat dari dinding bambu ke dalam, mematangkan isi sekaligus menghadirkan aroma khas yang lembut berasap. Teknik ini sederhana, tetapi membutuhkan pengalaman untuk memilih bambu yang tidak mudah pecah dan menjaga bara tetap stabil.
Hari ini, Rimo-rimo dikenal sebagai salah satu kuliner khas Ternate. Warga setempat memasak rimo-rimo ayam rempah, ikan kerapu kuah kuning kenari, sayur lilin ikan tuna, hingga singkong ngo, dan menyajikannya kepada wisatawan yang datang.
Namun akar tradisi ini bukanlah pariwisata. Rimo-rimo tumbuh dari kebutuhan ketika masyarakat berada di hutan tanpa peralatan dapur.
Bambu menjadi panci. Bara api menjadi kompor.
Teknik ini lahir dari keterbatasan, tetapi justru memperlihatkan kecerdikan membaca alam. Ketika tidak ada logam dan kompor modern, hutan menyediakan solusi.
Founder Cengkeh Afo dan Gamalama Spices, Kris Syamsudin, bercerita kepada kami, bahwa tradisi tersebut berakar dari situasi survival yang kemudian diwariskan sebagai pengetahuan kolektif.
“Rimo-rimo adalah tradisi memasak masyarakat Ternate yang lahir dari situasi survival. Dahulu orang-orang harus bisa memasak tanpa panci, sehingga bambu dimanfaatkan sebagai media memasak,” ujar Kris, Kamis (5/3/2026).
Menurut Kris, bahan yang digunakan mengikuti apa yang tersedia di sekitar. Daging, ayam, ikan, sayuran, hingga umbi-umbian dimasukkan ke dalam bambu dan dimasak dengan cara serupa.
“Tradisi ini bukan hanya soal makanan, tetapi tentang cara hidup dan pengetahuan leluhur yang kami harap bisa terus dipertahankan,” kata Kris.
Di situlah maknanya. Rimo-rimo bukan sekadar teknik memasak, melainkan arsip pengetahuan tentang adaptasi.
Ia juga menyimpan nilai keberlanjutan. Bambu adalah wadah alami yang tidak meninggalkan limbah berlebih, dan prosesnya tidak bergantung pada teknologi rumit.
Kejujuran dalam kesegaran rasa
Jika di hutan manusia belajar bertahan, di laut Ternate mereka belajar mempercayai kesegaran. Nilai itu tecermin dalam Gohu Ikan.
Kata gohu sendiri berarti mengunyah sesuatu dalam keadaan mentah. Makna itu menjelaskan mengapa ikan yang disajikan tidak melalui proses pemasakan.
Dalam pembuatannya, Gohu Ikan menggunakan daging ikan tuna atau cakalang yang dipotong kecil. Potongan itu kemudian dilumuri garam dan perasan lemon cui, lalu dicampur dengan daun kemangi untuk menghadirkan cita rasa segar dan khas.
Tidak ada api, tidak ada proses panjang. Yang diandalkan adalah kualitas tangkapan laut hari itu.
Hidangan ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Ternate memanfaatkan hasil laut secara sederhana. Kesederhanaan itu sekaligus menunjukkan hubungan harmonis antara manusia dan lingkungannya.
Gohu Ikan adalah bentuk kepercayaan pada alam. Ketika bahan sangat segar, sentuhan minimal justru menjadi pilihan paling jujur.
Baik Rimo-rimo maupun Gohu Ikan lahir dari cara membaca ruang hidup. Hutan dan laut membentuk pola makan sekaligus membentuk karakter.
Penghargaan terhadap waktu
Di satu sisi ada daya tahan. Di sisi lain ada kesadaran untuk tidak berlebihan.
Nilai itu menemukan wujud berbeda ketika menyeberang ke Palembang. Jika di Ternate kuliner berbicara tentang survival dan kesegaran, di Palembang ia bercerita tentang kesabaran.
Kue Delapan Jam menjadi simbolnya. Seperti namanya, kue ini dimasak selama delapan jam tanpa tergesa.
Adonan telur, gula, dan susu dikukus perlahan hingga berubah menjadi tekstur lembut berwarna cokelat keemasan. Api harus stabil dan tidak boleh terlalu besar agar hasilnya tidak berongga.
Proses panjang itu bukan sekadar teknik memasak. Ia adalah penghargaan terhadap waktu.
Kue Delapan Jam kerap hadir dalam perayaan keluarga dan momen besar. Ia menjadi simbol kematangan, ketekunan, dan kecermatan.
Jika Rimo-rimo lahir dari kebutuhan bertahan di hutan, dan Gohu Ikan dari kedekatan dengan laut, maka Kue Delapan Jam tumbuh dari kesediaan menunggu. Tiga tradisi, tiga nilai yang berbeda.
Dari pulau rempah di timur hingga kota tua di tepian Sungai Musi, kuliner memperlihatkan satu benang merah. Makanan lahir dari hubungan manusia dengan ruang hidupnya.
Hutan mengajarkan kecerdikan. Laut mengajarkan kepercayaan. Waktu mengajarkan kesabaran.
Dan sebelum menjadi sajian yang dinikmati di meja, makanan adalah pelajaran tentang bagaimana manusia membaca alam, beradaptasi dengan keadaan, dan merawat pengetahuan lintas generasi.
Di balik setiap rasa, tersimpan cerita tentang bertahan, percaya, dan menunggu.
| Editor | : | ats |
