Viral Cuma Setarikan Nafas, Cari Cara Agar Pelanggan Kedaimu Terus Merindu
Di era digital, kata "viral" seakan menjadi mantra krusial, terutama bagi pelaku industri food and beverage (F&B).
Logikanya sederhana, makin sering sebuah brand muncul di beranda media sosial, makin tinggi kesadaran konsumen, dan algoritma akan mendongkrak angka pembelian hingga meroket.
Kita tentu masih ingat tren sebelum pandemi Covid-19 melanda. Bisnis kuliner milik pemengaruh (influencer) mendadak meledak berkat konsep fish and chips bergaya lokal yang memadukan sambal mercon, acar kuning, hingga nasi liwet.
Dibanderol dengan harga ramah di kantong mulai Rp 20.000-an, jenama ini diburu habis-habisan.
Food vlogger datang silih berganti, dan saat kali pertama dibuka pada 2019, pembeli rela mengantre hingga 2,5 jam demi seporsi ikan goreng tepung.
Namun sayang, viral saja tampaknya tak cukup untuk menjaga napas sebuah brand. Ketika riuh rendah di media sosial mereda, angka pembelian ikut menurun, memaksa beberapa gerai melakukan rebranding demi bertahan hidup.
Fenomena tersebut menjadi pengingat bagi siapa pun, tak terkecuali bagi pemilik usaha, viralitas sering kali hanyalah letupan, bukan fondasi.
Jebakan batman
Sebagai penikmat kuliner yang gemar memperhatikan keluar-masuk pelanggan, saya melihat ada satu jebakan batman yang sering tidak disadari oleh para pengusaha kuliner baru, yakni keliru membedakan antara "antusiasme" dan "loyalitas".
Viralitas adalah tiket masuk. Namun, kualitas adalah alasan orang untuk kembali. Masalahnya, algoritma sering kali menciptakan permintaan semu.
Ketika sebuah hidangan meledak di TikTok, orang datang bukan karena lapar, melainkan karena takut tertinggal alias FOMO.
Mereka datang untuk memotret, mengunggah, lalu pergi tanpa pernah berpikir untuk menjadi pelanggan tetap. Bagi industri F&B yang marginnya tipis dan persaingannya berdarah-darah, mengandalkan kerumunan pemburu konten adalah strategi yang sangat berisiko.
Mari kita jujur, industri kuliner adalah salah satu medan tempur ekonomi yang paling jujur sekaligus kejam. Di sini, lidah tidak bisa dibohongi oleh filter Instagram.
Sebuah piring mungkin terlihat cantik di layar ponsel. Namun, masalah muncul jika rasa yang ditawarkan ternyata hanya biasa saja.
Belum lagi jika pelayanan menjadi lambat akibat manajemen yang kacau diterjang lonjakan massa, maka kunjungan pertama pembeli tersebut dipastikan menjadi yang terakhir.
Saya sering memperhatikan warung-warung legendaris yang tetap tegak berdiri selama puluhan tahun tanpa pernah menyewa jasa influencer. Bahkan, rumah makan dengan label warteg yang berdiri di sela-sela perkantoran tak pernah sepi pelanggan.
Rahasia mereka sederhana tapi sulit ditiru, yakni konsistensi. Mereka menjaga agar rasa orek tempe saat kali pertama warteg itu dibuka, cita rasanya tetap sama dengan sajian orek di 2026.
Mereka membangun bisnis di atas fondasi kepercayaan, bukan di atas tren yang cepat basi seperti susu yang ditinggalkan di suhu ruang.
Konsistensi yang bikin bertahan
Viralitas bukan jaminan keberlangsungan. Di tengah derasnya tren digital, hanya mereka yang bisa beradaptasi, menjaga kualitas, dan terus berinovasi yang mampu bertahan dalam industri kuliner yang kejam ini.
Adaptasi di sini bukan berarti harus selalu mengekor pada apa yang sedang tren di media sosial. Hal yang jauh lebih krusial adalah kemampuan mengelola operasional dan menjaga rantai pasok agar kualitas bahan baku tidak melorot saat permintaan melonjak.
Selain itu, pemilik usaha harus memastikan pengalaman pelanggan tetap terjaga meski dapur sedang di titik tersibuk.
Popularitas bisa datang tiba-tiba, seperti hujan deras yang datang sekali lalu reda. Sebaliknya, hanya konsistensi yang membuat bisnis bertahan bak aliran sungai yang tenang tapi terus mengalir meski musim berganti.
Bagi saya, sebuah bisnis kuliner yang sehat adalah yang mampu mengubah kerumunan menjadi komunitas. Sesederhana konsumen bisa ngobrol santai dengan pemiliknya sembari meminta sesendok sambal tomat yang nikmat.
Saat singgah ke Warung Nasi Aisyah di Jalan Gelora, misalnya, kehangatan itu terasa nyata. Sang pemilik depot tak segan berbagi hidangan lain secara cuma-cuma kepada pelanggan—lauk yang semestinya mereka santap sendiri sebagai keluarga.
Interaksi organik itulah yang tidak bisa diciptakan oleh kampanye influencer semahal apa pun.
Jika jenama hanya sibuk mengejar angka engagement di media sosial tanpa memedulikan keramahan pelayannya, maka mereka sebenarnya sedang membangun istana dari pasir.
Begitu ombak tren surut, yang tersisa hanyalah bangunan kosong yang kehilangan nama.
Karena pada titik terendahnya, bisnis kuliner bukan tentang seberapa banyak orang yang tahu tempatmu, melainkan seberapa banyak orang yang merasa rindu untuk kembali lagi ke meja di kedaimu.
| Editor | : | ats |
