Lebaran Sumarlan di Sisi Gunawarman
Sumarlan, Hesti, dan Arif duduk di aspal di bilangan Gunawarman, Jakarta Selatan, Sabtu (21/3/2026). Beralaskan karpet bercorak biru, keluarga ini merayakan Lebaran Idul Fitri di ibu kota.
Setoples nastar berukuran sedang jadi hidangan penambah sukacita. Di belakang mereka terparkir gerobak dorong berisi kardus dan berbagai paper bag bekas.
Meski tak bercengkrama di ruang tamu lengkap dengan sofa dan aneka kue di meja, sukacita tetap terasa.
“Selamat Lebaran, pak,” ujar Sumarlan diikuti istri dan anaknya, saat kami berjalan melintas di depan keluarga kecil itu.
Kedua tangan mereka dikatupkan. Senyum mereka terbuka, tanpa canggung, tanpa jarak.
Siang itu sekitar pukul 12.00, kami berjalan kaki menuju sebuah kedai kopi. Jakarta tidak terlalu terik. Sepanjang Jalan Gunawarman, suasana terasa teduh berkat deretan pohon di kanan kiri.
Dalam perjalanan itu, pertemuan dengan Sumarlan dan keluarganya terjadi tanpa rencana. Mereka duduk di pinggir jalan, menjalani hari seperti biasa di hari spesial yang bagi banyak orang diisi dengan kunjungan dan raya Lebaran di dalam rumah.
Sapaan itu sederhana, tapi terasa hangat. Di Jakarta, momen seperti ini tidak selalu mudah ditemui.
Sumarlan menyapa hampir setiap orang yang lewat. Tidak peduli dikenal atau tidak. Beberapa orang membalas, ada yang sekadar tersenyum, ada juga yang berlalu begitu saja.
Namun, ia tidak berhenti.
“Kalau Lebaran, ya saling mendoakan,” kata Sumarlan saat bercerita kepada Kontemporer.
Bagi Sumarlan, Lebaran bukan soal tempat. Ia dan keluarganya memilih tetap di Jakarta, sambil bekerja seperti biasa mengumpulkan kardus dan barang bekas.
“Berlebaran di sini saja sambil kerja,” ujar pria asal Pemalang yang merantau sejak 2014 itu.
Di kawasan yang dikenal sibuk di Jakarta Selatan, Sumarlan justru menemukan ruangnya sendiri. Bukan di dalam bangunan, melainkan di pinggir jalan.
Sehari sebelumnya, ia mendapat setoples nastar dari salah satu warga.
“Kemarin dikasih Pak Andri. Katanya buat Lebaran,” kenangnya.
Toples berisi kue itu kini jadi bagian dari hari mereka. Dibuka sesekali dan dinikmati bersama.
Hesti duduk di sampingnya sembari sesekali merapikan barang. Arif meniru orangtuanya menyapa orang lewat, meski masih malu-malu.
Siang itu, Sumarlan tak berbagi soal keluh kesah bertahan di ibu kota. Tidak ada pula cerita panjang tentang kesulitan hidup.
“Yang penting sehat, bisa kumpul. Semoga ada rezeki untuk mudik,” imbuh Hesti singkat.
Kehangatan yang kian jarang
Di tengah suasana Lebaran di ibu kota yang identik dengan kumpul keluarga dan rumah yang ramai, cerita seperti ini terasa jarang ditemui.
Sumarlan dan keluarganya tidak pulang kampung. Namun, mereka tetap merayakan dengan cara mereka sendiri, berbagi keramahan yang hangat kepada siapa saja yang lewat.
Di kota sebesar Jakarta, orang sering berjalan cepat dan menjaga jarak. Sapaan singkat mudah terlewat. Karena itu, apa yang dilakukan Sumarlan terasa berbeda.
Ia tidak menawarkan apa-apa, selain ucapan selamat dan senyum. Namun, justru itu yang terasa cukup.
Di atas karpet biru, di pinggir jalan, mereka merayakan Lebaran dengan cara mereka sendiri. Sederhana, tapi hangat.
Berbincang singkat bersama Sumarlan rasanya ingin berlama-lama. Menikmati ekspresi tulus yang kini terasa jarang ditemui di kota sebesar Jakarta.
Namun, kopi dan tenggat tulisan menanti. Saya pun beranjak, meninggalkan karpet biru itu bersama kesan hangat yang tak biasa di Jakarta.
Selamat bersukacita.
| Editor | : | ats |