Menemukan Cara untuk “Pergi” tanpa Benar-benar Meninggalkan Kota
Lebaran tahun ini sempat bingung hendak pergi ke mana. Jakarta mendadak terasa kosong. Jalanan lengang, ritme kota yang biasanya tergesa kini melambat karena sebagian besar warganya pulang ke kampung halaman.
Di satu sisi, keinginan untuk keluar kota sempat muncul. Namun bayangan macet dan padatnya tempat wisata membuat niat itu urung.
Warga ibu kota yang tak mudik mungkin pernah mengalami hal serupa, terutama bagi mereka yang tidak selalu punya kesempatan pulang setiap tahun.
Alhasil, pilihan paling masuk akal justru yang paling sederhana. Tetap di Jakarta, tapi berpindah suasana.
Hotel butik pun menjadi opsi. Pilihan jatuh ke The Gunawarman di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Terlebih, tarifnya di sejumlah platform perjalanan pada Jumat (20/3/2026) relatif lebih rendah dari biasanya.
Tidak ada agenda khusus, hanya ingin diam di kamar, beristirahat, dan menjauh sejenak dari rutinitas.
Sekilas, sulit percaya bahwa tempat ini berada di Jakarta. Rasanya seperti berada di sebuah lounge di Eropa.
Kesan itu langsung terasa begitu tiba jelang sore. Dari luar, bangunannya sudah berbeda. Pintu kayu besar, jendela tinggi, serta detail arsitektur yang simetris memberi nuansa klasik yang kuat tanpa terasa berlebihan.
Saat masuk, suasananya berubah. Lebih redup, lebih tenang. Suara kota seperti tertahan deretan pepohonan yang menjulang di sepanjang Jalan Gunawarman.
Petugas resepsionis mempersilakan saya duduk di sofa beludru berwarna ungu. Proses check-in berlangsung singkat. Saya hanya diminta menyerahkan kartu identitas dan menandatangani dokumen. Segelas jus jeruk disajikan sebagai sambutan.
Tak lama, kartu akses kamar sudah di tangan.
Butuh waktu untuk dipahami
The Mansard Room tempat saya menginap berada di lantai tiga. Kesan pertama yang muncul tidak langsung terasa istimewa. Namun setelah beberapa saat, karakter ruangnya mulai terbaca.
Atap miring di sisi kamar menjadi hal pertama yang menarik perhatian. Bentuk ini membuat area dekat jendela terasa lebih rendah. Awalnya terasa tidak biasa, tetapi justru di situlah letak kenyamanannya. Ruang terasa lebih dekat, lebih personal.
Dinding berwarna terracotta memberi kehangatan sejak awal. Dipadukan dengan furnitur kayu gelap, suasananya cenderung tenang dan tidak ramai. Tempat tidur berada di sisi kiri dengan headboard berlapis kain dan bantal bermotif klasik.
Saya kemudian berdiri di area dekat jendela. Tak jauh dari sana terdapat sofa kecil dengan anyaman rotan dan meja bundar dari kayu.
Dengan sentuhan kontemporer yang berani dan sensual, karya Donald Robertson menghadirkan energi hidup yang langsung mencuri perhatian di setiap sudut ruang. (Dok. Kontemporer)
Cahaya masuk melalui shutters kayu yang dibalut cat hijau toska. Tidak terlalu terang. Dari sela-selanya, terlihat pepohonan di luar. Tidak banyak yang bisa dilihat, tetapi cukup memberi suasana.
Saya sempat membuat kopi kapsul dan duduk cukup lama di sofa itu.
Tidak melakukan apa-apa.
Di titik itu, saya mulai memahami kamar ini. Ia tidak dibuat untuk terlihat “wah”, melainkan untuk dirasakan. Ruangnya tidak besar, tetapi cukup. Tidak banyak distraksi, dan semuanya terasa seperlunya.
Dibandingkan tipe lain, seperti The White Room yang tampil lebih terang dengan perpaduan warna biru dongker, emas, dan cokelat, Mansard Room terasa lebih hangat dan tenang. Pilihan yang cocok bagi mereka yang ingin benar-benar beristirahat.
Area lobi dan restoran Sofia at The Gunawarman didesain apik dengan nuansa berkelas. (Dok. Kontemporer)
Cara sederhana untuk pergi
Menjelang sore, saya sempat turun ke area restoran Sofia at The Gunawarman
Restoran gourmet ini mempertahankan karakter yang sama dengan area lainnya di hotel. Plafon tinggi, lampu gantung temaram, serta kursi kayu berlapis beludru menciptakan suasana yang konsisten.
Tidak terasa berlebihan tetapi cukup memberi nuansa Eropa yang berkelas.
Kembali ke kamar saat malam, suasana berubah lagi. Cahaya makin redup, ruang terasa lebih hening. Saya tidak merasa perlu keluar lagi.
Di tengah Jakarta yang biasanya terasa cepat dan padat, pengalaman ini terasa berbeda. Bukan karena kemewahan yang mencolok, tetapi karena suasana yang dibangun secara utuh.
Akhirnya, saya menemukan cara sederhana untuk “pergi” tanpa benar-benar meninggalkan kota.
Cukup dengan berpindah tempat, lalu membiarkan waktu berjalan sedikit lebih lambat.
| Editor | : | ats |
