Focus

Mamon dan Godaan Korupsi di Balik Kursi Jabatan

Penulis - ats | 13 Maret 2026
Ilustrasi ini dibuat oleh Louis Le Breton untuk edisi 1863 dari Dictionnaire Infernal karya Jacques Collin de Plancy.

Kompak.

Kata tersebut cukup menggambarkan betapa solid dua pucuk pemimpin daerah menggondol uang rakyat.

Baru-baru ini, Bupati dan Wakil Bupati Rejang Lebong terjaring operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bersama belasan orang lain, mereka diduga terlibat dalam korupsi di lingkungan pemerintah daerah.

Barang bukti yang disita mulai dari dokumen hingga uang tunai. Sementara, beberapa tersangka dibawa ke Jakarta untuk proses hukum lebih lanjut.

Sebelumnya, pada 3 Maret 2026, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Bupati Pekalongan, Fadia Arafiq. Ia diduga memanfaatkan mekanisme pengadaan barang dan jasa untuk mencari keuntungan pribadi, termasuk melalui perusahaan yang didirikan oleh anggota keluarganya.

Kasus tersebut lebih dari sekadar pelanggaran hukum. Ia menyingkap sesuatu yang lebih mendalam.

Bagaimana kekuasaan dan uang berjalan beriringan, dan bagaimana manusia bisa terseret oleh godaan materi hingga melupakan nilai moral. Dan, bagaimana hati melekat pada mamon.

Si penuntut pengabdian
Mamon berasal dari bahasa Aram māmōnā, yang berarti kekayaan atau harta benda. Istilah ini masuk ke bahasa Inggris melalui terjemahan Latin Vulgate, Alkitab resmi Gereja Katolik Roma pada akhir abad ke-4.

Santo Yohanes Krisostomus, atas perintah Paus Damasus I, mentransliterasikan kata ini dari teks Yunani Koine, yang berasal dari Aram. Pada masa Yesus, Aram adalah bahasa sehari-hari orang Yahudi, sehingga istilah ini mencerminkan pemahaman budaya tentang harta sebagai sesuatu yang menuntut kesetiaan dan bisa memengaruhi hati manusia.

Dalam tradisi Alkitabiah, mamon bukan sekadar uang, tetapi simbol ketergantungan pada kekayaan yang dapat menggantikan kepercayaan kepada Tuhan.

Craig L Blomberg dalam Neither Poverty nor Riches: A Biblical Theology of Material Possessions (1999) menjelaskan bahwa problem utamanya bukan memiliki harta, melainkan ketika harta menjadi sumber identitas dan keamanan hidup manusia.

Menurut Blomberg, problem utamanya bukanlah memiliki harta, melainkan ketika harta menjadi sumber identitas dan keamanan hidup manusia.

Dalam praktik sehari-hari, mamon bisa muncul dalam berbagai bentuk, seperti ambisi karier, akumulasi kekayaan, atau keinginan mempertahankan status sosial. Ia menuntut perhatian dan loyalitas, sering kali lebih kuat daripada suara hati atau prinsip moral.

Orang yang terlalu dekat dengan kekayaan bisa tampak tenang, percaya diri, dan terkendali, tetapi di balik itu tersimpan ketakutan, kegelisahan, atau dorongan untuk mempertahankan posisi atau harta yang dimiliki.

Agustinus dari Hippo juga pernah menulis bahwa cinta terhadap uang (avaritia) adalah salah satu bentuk penyimpangan kehendak manusia.

Ia menjelaskan bahwa masyarakat yang dibangun di atas cinta terhadap kekayaan akan menghasilkan ketidakadilan dan eksploitasi.

Hal itu sejalan dengan fenomena modern di mana kekayaan dapat menutupi kebenaran batin, memengaruhi moral, dan memaksa manusia tunduk pada tuntutan mamon.

Dalam praktik sehari-hari, mamon bisa muncul dalam berbagai bentuk, seperti ambisi karier, akumulasi kekayaan, atau keinginan mempertahankan status sosial.

Ia menuntut perhatian dan loyalitas, sering kali lebih kuat daripada suara hati atau prinsip moral.

Orang yang terlalu dekat dengan kekayaan bisa tampak tenang, percaya diri, dan terkendali, tetapi di balik itu tersimpan ketakutan, kegelisahan, atau dorongan untuk mempertahankan posisi atau harta yang dimiliki.

Kekayaan, seperti topeng, bisa menutupi kebenaran batin. Seseorang yang dikuasai mamon mungkin ingin menunjukkan bahwa ia masih aman, kuat, dan berkuasa.

Sementara, hati dan moralnya perlahan terseret oleh dorongan untuk memiliki lebih banyak, menuntut lebih banyak, dan mempertahankan semua yang sudah dimiliki.

Dalam konteks ini, mamon bukan sekadar alat, tapi “tuan” yang menuntut pengabdian.

Mamon bukan tuan tapi alat
Fenomena ini tidak terbatas pada pejabat atau orang berkuasa. Mamon hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, ketika seseorang menilai keberhasilan dari jumlah harta, saat keserakahan atau ambisi memengaruhi keputusan, atau ketika orientasi hidup mulai diukur dari materi.

Ia menjadi cermin bagi kita semua: godaan kekayaan bisa menutupi kebenaran batin, menggeser nilai, dan memengaruhi pilihan.

Refleksi ini penting karena mamon menuntut kesadaran. Menyadari keberadaannya adalah langkah awal agar kekayaan tetap menjadi alat, bukan tuan.

Dengan kesadaran itu, kita bisa menjaga integritas, memilih nilai yang lebih tinggi daripada sekadar keuntungan materi, dan tetap memelihara keseimbangan antara kebutuhan duniawi dan prinsip moral.

Kasus korupsi di Rejang Lebong menjadi pengingat bahwa integritas pribadi dan transparansi sistem pemerintahan adalah perisai terhadap godaan mamon. Uang dan kekuasaan boleh hadir, tetapi mereka tidak boleh mengambil alih hati dan moral.

Ketika materi menjadi tuan, kita mulai kehilangan kontrol atas diri sendiri—dan dunia di sekitar kita menjadi cermin dari keserakahan itu.

Jaga jarak dari mamon
Mamon, pada akhirnya, bukan sekadar soal harta atau korupsi.

Ia adalah refleksi universal tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan kekayaan, bagaimana dorongan untuk memiliki bisa memengaruhi moral dan perilaku, dan bagaimana hati manusia selalu diuji antara menjadi tuan atau hamba.

Menjaga jarak dari mamon berarti tetap menempatkan kekayaan pada posisinya sebagai alat, bukan tujuan terakhir. Sebagai sarana untuk hidup bermakna, bukan penghalang bagi kebebasan hati.

Dalam dunia yang semakin materialistis, filosofi mamon menjadi cermin abadi bahwa uang boleh ada, tapi jangan sampai menguasai.

Kebebasan hati lebih berharga daripada harta yang menjerat. Dan kesadaran itu adalah perlindungan terbaik agar hidup tidak tergelincir ke dalam jebakan keserakahan yang diam-diam menuntut pengabdian kita.

Editor : ats
Komentar
Editor Picks