People

Balada Si "Keong Mas", Cara Tamara Geraldine Melawan Rasa Malas

Penulis - ats | 7 April 2026
Motivasinya bukan lagi sekadar mencari gelar di belakang nama. Tamara memandang sekolah sebagai latihan spiritual tentang sebuah "ketundukan". (Dokpri Tamara Geraldine)

"Saya ini mantan keong mas pemalas. Sampai hari ini pun, jujur saja, sesekali masih suka ogah sekolah dan kuliah," ujar presenter kondang 90-an Tamara Maria Geraldine Tambunan (51) sembari memodel tanah liat.

Tamara menuturkan kisahnya kepada kami, Sabtu (28/3/2026), sembari jemarinya sibuk membentuk patung. Di rumahnya di kawasan Jakarta Selatan, ia menyulap ruang tamu menjadi studio kreatif tempatnya berekspresi di luar dunia akademik.

Dikenal sebagai presenter yang lugas dan penuh energi di layar kaca, Tamara kini sedang melakoni peran berbeda.

Kini, panggungnya telah berpindah. Alih-alih sorot lampu studio, ia justru lebih akrab dengan tumpukan literatur, draf disertasi, serta kedisiplinan jadwal kuliah.

Pengakuan itu terasa ganjil jika melihat kesibukannya sekarang.

Tamara tidak hanya sekadar kembali sekolah. Ia sedang menempuh jalur akademik yang menantang, yakni mengerjakan disertasi S3 Teologi di STT Bethel Indonesia sekaligus menuntaskan pendidikan Magister Psikologi di Universitas Kristen Maranatha, Bandung.

Di saat yang sama, ia juga tercatat sebagai peserta pendidikan profesi konselor di Lembaga Konseling Keluarga Kreatif (LK3).

Bagi Tamara, setiap kali masa ujian atau persiapan tes akhir tiba, ia masih sering diserang kepanikan. Ada rasa anxiety yang menyeruak, trauma lama yang muncul dari masa lalunya yang sering meninggalkan bangku sekolah sebelum tuntas.

"Inget zaman dulu. Kalau rasa jiper ini datang, sudah pasti saya malas lalu kabur. Pikiran saya cuma satu, pasti susah, pasti jelek, dan saya ogah dianggap tolol. Itulah makanya sekolah saya dulu tidak pernah kelar. Saya tidak peduli, malas lah!" tuturnya sambil tertawa mengenang masa mudanya.

Bukan cari gelar
Namun, sepuluh tahun terakhir menjadi titik balik bagi peraih lima penghargaan Panasonic Awards ini.

Ia menyadari bahwa cara terbaik untuk menghilangkan trauma bukanlah dengan berlari, melainkan dengan menghadapinya. Ia memutuskan kembali ke titik di mana ia pernah menyerah dan melakukan hal yang sebaliknya.

Perjalanan akademiknya dimulai lagi dari bawah dengan cara yang sangat disiplin.

Ia mengambil S1 Sosiologi di Universitas Terbuka (UT) yang menuntut kemandirian belajar tinggi, sambil secara paralel menempuh S1 Teologi di STT The Truth. Setelah itu, ia berhasil menuntaskan S2 Teologi di STTB The Way Jakarta pada 2023.

Kini, ia berada di puncak tantangan intelektual. Namun, motivasinya bukan lagi sekadar mencari gelar di belakang nama. Tamara memandang sekolah sebagai latihan spiritual tentang sebuah "ketundukan".

"Mengerjakan tugas dan patuh pada dosen adalah cara saya mengecilkan ego. Saya belajar bahwa menjadi murid berarti bersedia dibentuk, bukan hanya memberi instruksi seperti saat saya di atas panggung," kata Tamara.

Sikap tunduk itu diujinya saat masuk ke dunia Psikologi. Sebelumnya, Tamara memiliki pandangan yang cukup skeptis terhadap sains. Baginya, sains adalah dunia yang dingin, kaku, dan cenderung mereduksi martabat manusia.

Di sela-sela kesibukan kuliah, Tamara menyempatkan diri menekuni hobinya membuat patung dari bahan resin. Tak sekadar seni, membuat patung baginya adalah salah satu cara membangun kesejahteraan jiwa sekaligus melepas stres. (Dok. Kontemporer).

Ia sempat gusar dengan gagasan Darwin yang menyebut manusia hanyalah primata yang berevolusi.

Sebagai sosok yang memegang teguh iman bahwa manusia diciptakan spesial sebagai Imago Dei (gambar dan rupa Allah), sains awalnya terasa seperti bidang yang penuh arogansi.

"Sains dalam bayangan saya dulu memandang rendah apa pun yang berbau metafisik, spiritual, atau teologis," tutur Tamara.

Latihan kerendahan hati
Namun, alih-alih menjauh, ia justru menceburkan diri ke dalamnya untuk memahami kerumitan jiwa manusia dari sudut pandang psikologi.

Kini, hari-harinya diisi dengan ritme yang kontras. Ada masa di mana ia harus gigih mengejar dosen pembimbing disertasi teologi untuk mendiskusikan konsep penelitian, lalu beberapa jam kemudian jemarinya gemetar saat menekan tombol "enter" untuk mengumpulkan tugas UTS magister psikologi secara daring.

Diakui Tamara, rasa malas itu tetap menyapa, tapi tak lagi memberi ruang bagi "keong mas" di dalam dirinya untuk berkuasa.

Ia memilih untuk tetap hadir di kelas, mengetik naskah, dan mendatangi dosen pembimbing meski dengan kegentaran yang tak terperi.

"Hadapi saja dulu. Soal nilai, itu mah belakangan," ucapnya mantap.

Bagi Tamara, kembalinya ia ke bangku sekolah adalah keputusan terbesar dalam hidupnya.

Ia ingin menuntaskan apa yang dulu ia tinggalkan sebelum hidupnya berakhir.

Back to school before I die,” kata Tamara.

Lewat perjalanannya, Tamara menunjukkan bahwa kejujuran untuk mengakui rasa malas adalah langkah awal menuju kedewasaan. Baginya, pendidikan tinggi adalah laboratorium untuk melatih kerendahan hati.

Di sana, sang bintang televisi belajar menjadi manusia yang taat pada aturan, menghargai otoritas, dan terus bertumbuh melampaui batas ketakutannya sendiri.

Editor : ats
Komentar
Editor Picks