Duka yang Menguap dalam 24 Jam
"Apakah kita sedang melihat lahirnya model kepemimpinan yang 'frugal' (hemat) bicara?
Pertanyaan itu belakangan ini mewarnai layar media sosial, yang tak lain merupakan cermin dari apa yang bergejolak di benak publik dalam sepekan terakhir.
Kabar duka datang dari para penjaga perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di garis depan Lebanon. Tiga prajurit TNI gugur sebagai peace martyr akibat eskalasi serangan Israel.
Namun, di tengah kepiluan tersebut, publik mendapati kesunyian dari podium utama negara. Sejauh ini, belum ada pidato khusus atau pernyataan lisan yang disiarkan langsung untuk membasuh luka kolektif bangsa secara komunal.
Respons resmi yang tertangkap oleh publik hadir melalui kanal komunikasi digital, yakni unggahan fitur Instagram Story di akun resmi Presiden pada Selasa (31/3/2026). Pilihan medium tersebut menghadirkan karakteristik pesan yang efisien tapi temporer. Konten digital yang didesain untuk menguap dan hilang dalam waktu 24 jam.
Seolah-olah, duka atas hilangnya nyawa para penjaga perdamaian itu memiliki masa kedaluwarsa yang sama singkatnya dengan algoritma media sosial yang berputar cepat.
Fenomena tersebut menciptakan paradoks. Di saat teknologi memungkinkan pemimpin untuk hadir seketika, pilihannya pada medium yang disposable (sekali pakai) justru menciptakan kesan jarak yang lebar.
Kontras itu terasa semakin tajam ketika publik mengamati respons negara terhadap wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei.
Presiden memang menunjukkan sikap melalui pengiriman surat duka cita resmi yang disampaikan oleh Menlu Sugiono pada 4 Maret 2026, beberapa hari setelah peristiwa kematian tersebut.
Namun, lagi-lagi, itu adalah sebuah aksi administratif yang terasa dingin. Ada jarak birokratis yang sengaja dibangun melalui lembaran kertas surat dan barisan piksel di layar ponsel.
Di sinilah letak kegelisahan publik. Kita tidak hanya sedang kehilangan putra-putra terbaik bangsa di medan tugas, kita juga seolah kehilangan "suara" pemimpin yang selama ini diharapkan menjadi kompas emosional negara di saat badai datang.
Karakter panglima vs peran bapak
Secara karakter, publik memahami bahwa Presiden Prabowo Subianto adalah seorang prajurit sejati dengan DNA komando yang kuat. Dalam tradisi militer, efisiensi adalah panglima; tindakan nyata jauh lebih berharga daripada dekorasi retorika.
Di bawah kacamata kepemimpinan yang frugal ini, memastikan bantuan logistik dan hak keluarga prajurit terpenuhi secara instan adalah prioritas utama. Bagi Presiden, tindakan nyata jauh lebih penting daripada sekadar bersolek di depan kamera untuk membacakan naskah pidato.
Namun, Indonesia bukan sekadar markas militer atau korporasi besar yang cukup dikelola dengan instruksi singkat. Indonesia adalah entitas budaya yang masih kental dengan konsep "Bapakisme".
Rakyat tidak hanya menempatkan Presiden sebagai chief executive officer (CEO) atau Panglima Tertinggi; mereka menempatkannya sebagai sosok ayah bagi bangsa.
Dan seorang ayah, dalam kosmologi tradisi kita, diharapkan hadir tidak hanya dalam bentuk kebijakan, tetapi juga secara fisik dan lisan saat anak-anaknya sedang berduka.
Ada validasi emosional yang hanya bisa diberikan oleh frekuensi suara asli yang berat dan penuh empati. Sesuatu yang tidak akan pernah bisa diwakili oleh ketikan admin media sosial atau surat diplomatik yang kaku.
Kalkulasi di balik senyap
Pilihan untuk menjadi hemat bicara ini mungkin bukan sekadar soal gaya personal, melainkan bagian dari kalkulasi risiko yang sangat rumit pasca-bergabungnya Indonesia ke dalam blok Board of Peace (BoP).
Di tengah turbulensi geopolitik tahun 2026 yang kian tak menentu, setiap kata yang meluncur dari bibir seorang kepala negara adalah peluru yang bisa berbalik arah.
Berbicara secara lisan dan emosional mengenai insiden di Lebanon tentu mengandung risiko diplomatik yang tinggi.
Hal itu bisa menyerempet sensitivitas konflik segitiga antara Israel, Hezbollah, dan Iran yang kian mendidih.
Dengan memilih medium yang lebih low profile seperti unggahan singkat atau surat tertutup, Presiden mungkin sedang melakukan taktik hedging. Langkah ini diambil untuk menjaga keseimbangan posisi Indonesia di mata dunia agar tidak terjepit dalam komitmen lisan yang bisa membatasi ruang gerak diplomasi di masa depan.
Namun, pertanyaannya tetap, apakah demi keamanan posisi politik di panggung global, kita harus mengorbankan fungsi kepemimpinan sebagai pemersatu rasa di panggung domestik?
Penghormatan yang lebih bernyawa
Ketika Presiden memilih untuk absen secara lisan dalam peristiwa-peristiwa yang menyentuh urat nadi nasionalisme, ruang kosong itu tidak akan tetap hampa.
Publik akan mengisinya dengan spekulasi, skeptisisme, dan pertanyaan-pertanyaan liar.
"Ada apa sebenarnya di benak Presiden?" atau yang lebih menyakitkan, "Apakah nyawa prajurit kita hanya dihargai setara satu slide Instagram?"
Kita merindukan momen di mana seorang Presiden berdiri tegak, menatap mata rakyatnya melalui lensa kamera tanpa perantara admin, dan berkata dengan tegas tapi tulus, "Kita berduka."
Kata-kata itu, meski sederhana, memiliki kekuatan magis untuk meredam kegaduhan spekulasi dan menyatukan persepsi bangsa yang sedang koyak.
Kepemimpinan yang hemat bicara mungkin sangat efektif untuk urusan teknokrasi, manajemen krisis di balik layar, dan diplomasi "bawah meja". Namun, untuk urusan hati rakyat, kehematan tersebut justru sering kali terasa seperti miskin empati.
Jika Presiden terus memilih jalur sunyi, kita khawatir bahwa di masa depan, hubungan antara pemimpin dan rakyatnya hanya akan bersifat transaksional-digital. Rakyat memberikan mandat melalui bilik suara, dan pemimpin membalasnya melalui unggahan media sosial.
Memang, Presiden Prabowo hadir secara fisik memberikan penghormatan terakhir kepada tiga jenazah prajurit TNI yang gugur dalam misi perdamaian di Lebanon. Di Bandara Soekarno-Hatta, Sabtu (4/4/2026), ia menyalami keluarga dan mengusap kepala anak mendiang prajurit, ritual yang sudah semestinya dilakukan pimpinan TNI.
Namun, gestur fisik di ruang terbatas tidak bisa menggantikan kekuatan pidato yang menjangkau relung hati rakyat di pelosok negeri. Prajurit kita di Lebanon telah gugur dengan gagah berani di bawah baret biru.
Setidaknya, pengorbanan nyawa mereka layak mendapatkan penghormatan lisan yang lebih abadi dan lebih bernyawa daripada sekadar unggahan digital yang akan terhapus secara otomatis esok pagi.
| Editor | : | ats |