People

Ekonomi Kita Dibangun di Atas Fundamental yang Keropos, Maunya Cepat Saja!

Penulis - ats | 5 Juni 2026
Elwin Tobing (foto: ist)

Pada 1588, Armada Spanyol berlayar menuju Inggris dengan hampir 130 kapal dan sekitar 30.000 awak. Armada ini merupakan kekuatan laut terbesar pada zamannya. Namun ekspedisi tersebut berakhir dengan kegagalan.

Kisah klasik itu membuka perbincangan hangat antara Kontemporer dan Profesor Ekonomi Universitas Azusa Pacific, Elwin Tobing, saat berkunjung ke Jakarta dari California, Rabu (3/6) sore.

Pukul 15.00 WIB, kami janjian bertemu di Jardino, Jakarta Selatan. Di tengah kesibukannya, Elwin meluangkan waktu untuk membedah situasi ekonomi Indonesia terkini.

Sambil membetulkan posisi duduknya, Elwin menuturkan bahwa banyak orang keliru menganggap kisah itu sebagai kemenangan badai atas armada terbesar di Eropa.

Padahal, menurutnya, badai bukanlah penyebab utama kehancuran tersebut. Armada Spanyol sejak awal sudah berlayar dengan berbagai kelemahan struktural, yakni perencanaan yang kurang matang, koordinasi rumit, logistik rapuh, dan asumsi strategis yang keliru.

Ketika badai datang di perairan Skotlandia dan Irlandia, semua borok itu terbuka dan diperbesar.

"Badai tidak menciptakan masalah. Badai memperlihatkan masalah yang sudah ada," ujar Elwin.

Ia menilai, pelajaran sejarah tersebut sangat relevan bagi Indonesia hari ini.

Ekonomi Indonesia sedang menghadapi cuaca yang kurang bersahabat. Ketidakpastian global meningkat. Harga energi bergejolak. Ruang fiskal semakin terbatas. Daya beli masyarakat tertekan. Pada waktu sama, rupiah menghadapi tekanan yang semakin besar.

Dalam pandangan Elwin, banyak pihak yang melihat pelemahan rupiah semata-mata sebagai persoalan nilai tukar. Padahal, nilai tukar sering kali merupakan barometer tingkat kepercayaan terhadap arah ekonomi sebuah negara.

Ketika pelaku pasar melihat arah yang jelas, mereka biasanya bersedia mentoleransi badai jangka pendek. Namun, ketika arah mulai dipertanyakan, setiap guncangan terasa lebih besar. Modal menjadi lebih berhati-hati. Investasi tertunda. Tekanan terhadap rupiah meningkat. Persepsi dan realitas kemudian saling memperkuat.

Ia tidak menampik bahwa tidak semua persoalan ini berasal dari dalam negeri karena badai global memang nyata.

Namun, Elwin menegaskan bahwa pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa Indonesia tampak semakin rentan terhadap badai tersebut?

Ilustrasi terjangan badai ekonomi global. (Dok. Kontan)

Tujuan vs mesin kemudi
Tujuan Indonesia sebenarnya cukup jelas. Kita ingin menjadi negara maju, memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi global, membangun basis ekonomi yang lebih kompetitif, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Singkatnya: Indonesia Emas.

Namun memiliki tujuan tidak sama dengan memiliki peta perjalanan. Apalagi mesin, kemudi, dan sistem navigasi yang mampu membawa kita ke tujuan tersebut.

Jika Indonesia Emas adalah tujuan pelayaran, maka produktivitas, kualitas sumber daya manusia (SDM), dan inovasi seharusnya menjadi mesin utama kapal. Persoalannya, kita terlalu fokus pada kecepatan pelayaran jangka pendek, sementara pembangunan mesin untuk perjalanan panjang berjalan jauh lebih lambat.

Terkait hal tersebut, Founder and President INADATA itu mengungkap hasil penelitiannya yang bertajuk Capability Dynamics and Middle-Income Trap.

Sebagai informasi, INADATA merupakan konsultan pendidikan berbasis di Irvine, Amerika Serikat (AS), yang berfokus pada perumusan, implementasi, dan evaluasi kebijakan strategis, terutama untuk pemerintah daerah di Indonesia.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa persoalan mendasar Indonesia bukan sekadar kekurangan investasi, melainkan minimnya investasi dalam pembangunan kapabilitas ekonomi.

"Persoalan mendasar kita ada pada modal manusia dan ekosistem inovasi yang mampu mengubah pengetahuan menjadi produktivitas, nilai tambah, dan inovasi," papar Elwin.

Lebih lanjut, Elwin menjelaskan mengapa hal itu bisa terjadi. Selama bertahun-tahun, perhatian dan sumber daya lebih banyak diarahkan untuk membagi kue ekonomi dari pada memperbesar kemampuan bangsa untuk membuat kue yang lebih besar.

Artinya, kita lebih fokus pada memperbesar konsumsi dan mendistribusikan hasil pertumbuhan dari pada membangun sumber pertumbuhan itu sendiri.

Kesibukan dengan siklus politik dan pesta demokrasi juga membuat pembangunan kapabilitas sering kali kalah prioritas dibandingkan agenda yang memberikan hasil lebih cepat dan lebih terlihat.

Akibatnya, pembangunan modal manusia menjadi jauh di bawah kebutuhan Indonesia untuk menjadi negara maju. Riset dan pengembangan belum menjadi prioritas.

Kualitas pendidikan tinggi, kapasitas penelitian, serta keterhubungan antara universitas, dunia usaha, dan teknologi masih sangat lemah.

Di sisi lain, inovasi tidak berkembang menjadi mesin pertumbuhan yang mampu mendorong produktivitas dan penciptaan nilai tambah secara berkelanjutan.

"Tidak mengherankan jika produktivitas tenaga kerja dan tingkat efisiensi Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara ASEAN," terang Elwin.

Dengan fondasi seperti itu, pertumbuhan ekonomi memang tetap berlangsung, tetapi lebih banyak ditopang oleh konsumsi daripada peningkatan produktivitas. Ketika cuaca global buruk, kelemahan tersebut menjadi semakin terlihat.

Alumnus Statistika Institut Pertanian Bogor (IPB) itu menilai bahwa kenyataannya ekonomi kita dibangun di atas fundamental yang keropos. Pasar tidak hanya menilai kondisi ekonomi hari ini, tetapi juga kemampuan sebuah negara mencapai tujuan jangka menengah dan panjangnya.

Karena itu, pelemahan rupiah tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan kurs. Ia juga mencerminkan keraguan terhadap kekuatan pondasi ekonomi dan kejelasan arah kebijakan.

"Dengan kata lain, badai yang kita hadapi hari ini bukan semata-mata akibat cuaca global yang buruk. Sebagian besar merupakan konsekuensi dari fondasi yang tidak dibangun cukup kuat ketika kondisi masih tenang," tegas Elwin.

Harus tanggap cepat dan tepat
Persoalan ini bukan hasil satu pemerintahan atau satu periode politik. Ini adalah akumulasi kekeliruan keputusan dan prioritas pembangunan selama beberapa dekade.

Karena sifatnya struktural, itu tidak dapat diselesaikan melalui kebijakan jangka pendek atau narasi optimistis semata.

Dalam pelayaran, kapten tidak dapat mengendalikan badai. Yang dapat ia kendalikan adalah arah kapal dan kualitas navigasinya.

Demikian pula dalam ekonomi. Pemerintah tidak dapat mengendalikan suku bunga Amerika Serikat, konflik geopolitik, atau harga energi dunia. Namun pemerintah dapat menentukan kualitas institusi, prioritas pembangunan, kualitas SDM, serta produktivitas ekonomi nasional.

Dalam situasi seperti sekarang, perbaikan tidak bisa dilakukan secara bertahap dan setengah hati. Koreksi harus dilakukan dengan cepat dan tegas.

"Kecepatan saja tidak cukup. Keputusan yang cepat tetapi berangkat dari diagnosis yang keliru hanya akan membawa kapal berlayar lebih cepat ke arah yang salah," kata Elwin.

Karena itu, Elwin mengingatkan bahwa yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar keberanian bertindak, melainkan ketepatan dalam membaca masalah, menentukan prioritas, dan mengeksekusi kebijakan.

Perubahan yang drastis harus ditopang oleh diagnosis masalah serta gagasan yang benar, institusi yang kuat, dan orang-orang yang memiliki kapabilitas moral dan intelektual untuk menjalankannya.

"Jika tidak, kita hanya akan terus sibuk menghadapi badai demi badai. Sementara, bahtera Indonesia perlahan menjauh dari jalur menuju tujuan yang ingin dicapai," imbuhnya.

Seperti Armada Spanyol pada 1588, persoalannya bukan semata-mata badai. Persoalannya adalah apakah kita memasuki badai dengan pondasi yang cukup kuat dan arah yang cukup jelas.

Usai berbincang selama tiga jam, Profesor Elwin memberikan catatan reflektif yang mendalam bagi masa depan bangsa.

"Karena pada akhirnya, negara tidak gagal mencapai tujuannya karena satu badai. Negara gagal ketika terlalu lama menganggap bahwa memiliki tujuan sudah cukup, tanpa memastikan bahwa mesin, jalur, dan kemudi untuk mencapainya memang benar," kata Elwin.

Editor : ats
Komentar
Editor Picks