People

Masinton Pasaribu: Partai Bukan Taksi Online, Tak Bisa Naik-Turun Seenaknya

Penulis - ats | 20 April 2026
Masinton Pasaribu kala mampir ke markas Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Diaspora Indonesia. (Dok. Instagram Masinton Pasaribu)

Dulu, saat masih menjadi aktivis mahasiswa, suaranya kerap habis di sela kepulan asap gas air mata dan terik aspal Jakarta. Namun jauh sebelumnya, Masinton Pasaribu sudah akrab dengan debu pelabuhan dan kerasnya hidup sebagai buruh kasar di Belawan, Medan, hingga Tanjung Priok.

Saat wawancara ini dilakukan, Masinton masih menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dan tetap vokal berteriak dari ruang rapat komisi di parlemen.

Kini, setelah menamatkan tugasnya di Senayan hingga 2024 dan mengemban amanah baru sebagai Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng), rupanya setelan mentalnya tidak banyak berubah.

Sore itu, di Lantai 6 Gedung Nusantara I Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, kami menemuinya di ruang Fraksi PDI Perjuangan. Tidak ada jas kaku atau protokoler yang menjaga jarak.

“Mau kopi atau teh? Bebas,” katanya menawarkan.

Tawaran itu seketika membuat suasana terasa lebih cair. Gaya khas yang seolah menegaskan bahwa meski sudah duduk di kursi empuk, ia tetap orang lapangan yang siap menyingsingkan lengan baju kapan saja.

"Politik itu bukan melulu soal uang. Jabatan juga bukan untuk memperkaya diri," ujar Masinton membuka percakapan.

Suaranya tegas, wajahnya serius, matanya tetap memancarkan sosok jenaka yang sesekali muncul lewat celetukan spontan.

Obrolan mengalir deras selama tiga jam hingga tiba pada satu titik yang membuatnya tampak sedikit gerah, yakni fenomena politisi yang gemar gonta-ganti partai demi ambisi pribadi.

Di sinilah, Masinton mengeluarkan analogi yang menohok.

"Bagi saya, berpartai itu pilihan ideologis. Itu cita-cita kolektif," tegasnya.

"Masalahnya sekarang, tak sedikit (politisi) yang melihat partai cuma sebagai kendaraan, (dianggap) seperti taksi online," kata Masinton.

Dari buruh ke parlemen
Ia bercerita dengan nada yang lebih dalam saat menyinggung masa lalunya. Masinton bukan politisi yang lahir dari menara gading.

Karena keterbatasan ekonomi, ia sempat hanya bisa menggenggam ijazah SMA dan harus membanting tulang di pabrik baja di Medan.

Namun, jiwa pemberontaknya sudah terlihat sejak dulu. Masinton diberhentikan karena vokal memprotes kesewenang-wenangan perusahaan terhadap kawan-kawannya sesama buruh.

Pengalaman pahit itulah yang membawanya masuk ke lingkaran gerakan buruh, lalu ke Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) dan Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (Famred), hingga akhirnya membidani lahirnya Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) bersama rekan seperjuangannya dulu.

Baginya, politik adalah kelanjutan dari perjuangan buruh yang ia lakoni di pelabuhan.

"Wong enggak digaji saja dulu kami sudah teriak sejak mahasiswa, pas jadi buruh juga sudah vokal. Masa sekarang pas di DPR malah mau diam saja atau cuma jadi kutu loncat?" tambahnya.

Sesekali, ketegangan itu ia cairkan dengan banyolan. Ia sempat menyinggung kesibukannya mengelola toko kelontong, usaha yang menjaganya tetap menapak bumi di luar urusan politik sebagai Bupati Tapanuli Tengah saat ini.

Partai bukan taksi online
Bagi alumnus Sekolah Tinggi Hukum Indonesia itu, integritas adalah harga mati.

Masinton sadar betul publik sering mencap pejabat sebagai pemburu fasilitas negara. Dengan nada setengah bercanda tapi bernas, ia mengingatkan bahwa segala kemudahan yang diterima pejabat adalah alat untuk bekerja bagi masyarakat, bukan tujuan akhir.

"Kalau kesejahteraan diri pejabat mah sudah otomatis. Namun, tugas utamanya ya mengeksekusi aspirasi rakyat,” tutur Masinton.

Di tengah ruang kerja yang dipenuhi tumpukan naskah akademik, rokok, dan kopi, Masinton seolah sedang melakukan refleksi.

Baginya, konsistensi adalah harga mati. Di bawah panji banteng, ia memegang teguh pisau analisis Bung Karno untuk membedah setiap kebijakan agar tetap berpihak pada rakyat kecil, petani, dan tentu saja buruh—golongan yang pernah menjadi identitas aslinya.

Saat kami berpamitan meninggalkan Lantai 6, analogi taksi online itu terus terngiang.

Dari seorang buruh yang dipecat karena protes hingga menjadi orang nomor satu di Tapanuli Tengah, Masinton tetap memilih menjadi penumpang setia pada satu rute ideologi, tak peduli seberapa terjal jalan yang harus ditempuhnya.

Editor : ats
Komentar
Editor Picks