Focus

Kalau di Sumatra Blackout Puluhan Jam, Kami, di Madura Pernah Gelap Dua Bulan!

Penulis - ats | 9 Juli 2026
Ilustrasi-Pemadaman listrik (iStock)

Byarpet... byarpet... byarpet.

Lampu neon yang menerangi ruang tamu tiba-tiba padam. Musyarofah dan ibunya yang tengah asyik menonton sinetron Tersanjung pada Jumat petang di tahun 1999, hanya bisa saling pandang. Dalam benak mereka, ini hanyalah interupsi sesaat. Sebentar lagi Lulu Tobing akan kembali menyapa layar kaca.

Byar... lampu sempat menyala seketika. Namun, tak lama kemudian padam lagi.

Bukan cuma Musyarofah dan ibunya yang gelagapan, warga Desa Tlangoh di Bangkalan pun dibuat rungsing. Tetangga-tetangga Musyarofah berhamburan keluar rumah. Mereka duduk di teras sambil saling lempar tanya ke tetangga yang rumahnya bersebelahan.

"Sampe bileh listrik riyah matteh (sampai kapan listrik ini padam)?" kenang Musyarofah (36) saat kami hubungi akhir pekan lalu.

Satu jam, dua jam, hingga semalam suntuk listrik tak kunjung mengalir. Malam itu terasa begitu panjang. Keesokannya, kabar buruk menyebar cepat dari mulut ke mulut bahwa listrik padam di seluruh Pulau Madura.

Yang mengejutkan, belum ada kabar pasti sampai kapan listrik bisa kembali menyala.

Petromak dan setrika ayam jago
Peristiwa gelap gulita di seluruh Pulau Garam pada 1999 itu masih lekat dalam ingatan warga. Jika di Sumatra sempat terjadi blackout massal pada akhir Mei 2026 lalu, langit Madura justru pernah gulita selama dua bulan lebih lamanya.

Agar malam tetap terang, lampu petromak yang sempat "diparkir" di gudang kembali dihidupkan. Jelang magrib, para bapak di Desa Tlangoh sibuk mengisi tangki petromak agar menyala. Cairan spirtus dituang ke pinggan kecil di dalam tabung semprong kaca, memantik sumbu hingga memancarkan cahaya putih yang khas.

Penduduk yang saat itu sudah didera krisis ekonomi terpaksa membeli terang dengan merogoh kocek lebih dalam. Ekonomi kembali ke zaman antre. Ya, antre membeli lampu petromak, lampu teplok, lilin, minyak tanah, sampai arang bahan bakar setrika.

Selepas waktu salat Isya, kehidupan warga seolah-olah lumpuh total. Toko-toko tutup. Tak ada nyala lampu listrik. Televisi, radio, tape, dan barang elektronik lain terpaksa menganggur.

Begitulah kehidupan Madura setelah jaringan kabel bawah laut yang memasok listrik ke seluruh pulau jebol diterjang jangkar kapal MV Kota Indah.

Kapal berbendera Singapura itu melego jangkar di daerah terlarang, yakni perairan Gresik-Surabaya, tempat kabel listrik berkapasitas 73 megawatt milik PLN ditanam. Alhasil, suplai listrik terhenti total.

“Bukan cuma petromak, setrika arang dengan logo ayam jago pun kami gunakan kembali,” ungkap Musyarofah.

Perangkat rumah tangga kuno yang sudah berkarat itu dikirik (dibersihkan) lagi agar bisa dipakai untuk memuluskan baju kerja dan sekolah.

Ingin terang terus
Dua bulan penuh Madura hidup bersama lampu teplok dan petromak. Lembaran sejarah ini menjadi alarm keras, membuktikan betapa rapuhnya ketergantungan manusia modern pada seutas kabel bawah laut.

Pengalaman komunal itu tentu membekas sebagai trauma. Namun ironisnya, bukan cuma warga Madura yang dipaksa bersahabat dengan gulita. Hingga hari ini, penduduk di berbagai pelosok Tanah Air seolah sudah kenyang dan maklum menghadapi pemadaman listrik yang datang tiba-tiba.

Saking seringnya mati lampu, istilah pemadaman bergilir pun dipelesetkan warga menjadi "menyala bergilir". Keterandalan setrum negara berakhir jadi bahan olok-olok publik.

Alasan klasik pun kerap berputar di lingkaran yang sama, mulai dari pasokan batu bara yang seret, hingga kambing hitam berupa pohon tumbang. Padahal, jika mau jujur, karut-marut ini berakar dari satu masalah fundamental, yakni buruknya manajemen pemeliharaan pembangkit milik PLN.

Kinerja korporasi pelat merah ini sebenarnya sempat membaik saat mereka menerapkan digital monitoring system. Lewat sistem digital tersebut, titik pemadaman bisa dipetakan secara real-time untuk pemulihan yang lebih cepat.

Namun, sistem secanggih apa pun mendadak kehilangan taji ketika blackout terjadi terlalu kerap, berjam-jam, dan melumpuhkan wilayah yang masif. Teknologi pemantauan tak lagi berarti jika yang dipantau adalah kegagalan sistem yang berulang.

Sebagai konsumen, publik tentu berhak menuntut layanan yang kian apik. Bukankah PLN adalah pemain tunggal, sang penguasa tunggal industri kelistrikan di Nusantara? Tanpa adanya rival yang mengintai, PLN semestinya tidak hanya fokus mereguk untung dari hajat hidup orang banyak, melainkan juga wajib memberikan layanan paripurna.

Sebab di era semodern ini, membiarkan rakyat sering gelap-gelapan adalah kemunduran yang memprihatinkan. 

Editor : ats
Komentar
Editor Picks