Pak Luhut, "Kita" Itu Siapa?
“Perencanaan MBG kurang matang. Ini salah kita semua," ujar Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan dalam seminar di kantornya, Kamis (25/6/2026).
Tak butuh waktu lama, jagat media sosial langsung bergolak merespons pernyataan tersebut.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sendiri belakangan sukses memantik kegeraman publik akibat sengkarut tata kelola, mulai dari kasus keracunan siswa di beberapa daerah, hingga puncaknya, saat program andalan RI 1 ini terseret pusaran korupsi yang melibatkan pucuk pimpinan badan anyar tersebut.
Menariknya, bukan carut-marut atau skandal korupsi itu yang memicu kekesalan utama netizen dalam menanggapi pernyataan Luhut. Fokus publik justru tertuju pada satu kata kecil yang keluar dari mulut mantan Menko Marves tersebut, yakni kata "kita".
Lantas, siapa "kita" yang dimaksud?
“Kami", bukan "kita"
Salah satu figur yang lantang merespons di media sosial adalah pembuat konten Mohammad Ihsan melalui akun Instagram @mohammadihsan.id.
"Bentar, bentar, bentar. Salah kita semua? Saya ikut salah? Enggak, enggak. Jadi pernyataan yang benar itu gini: 'Ide besar presiden tidak kami laksanakan perencanaannya dengan matang, salah kami semua.' Enggak loh, saya itu dari awal menolak. Banyak juga masyarakat yang ikut menolak. Kami enggak mau disalahkan karena bukan yang punya ide, bukan yang melaksanakan, bukan yang menerima uangnya. Jadi harusnya pernyataannya diganti 'itu salah kami semua'," ujarnya dalam sebuah unggahan video.
Argumen tersebut mewakili sentimen mendasar publik. Rasa enggan untuk ikut memikul tanggung jawab moral sangatlah logis. Sebab, sejak awal program ini digagas dan dijadikan komoditas kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, masyarakat tidak pernah dilibatkan dalam perumusan ide, perencanaan anggaran, hingga eksekusi di lapangan.
Maka, ketika program tersebut berujung gaduh dan menjadi ladang korupsi oleh mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), menjadi hal yang wajar jika publik menolak diseret ke dalam ruang penyesalan yang sama.
Kapan mestinya pakai "kita" dan "kami"?
Prahara soal kata tersebut membawa kita pada pertanyaan mendasar, “Kapan semestinya kita menggunakan pronomina persona (kata ganti orang) ‘kita’ dan ‘kami’ dalam komunikasi formal maupun sehari-hari?”
Berdasarkan kaidah tata Bahasa Indonesia, perbedaannya terletak pada keterlibatan lawan bicara:
Perlu diketahui, kata ganti “kami’ bersifat eksklusif. Kata ini digunakan ketika pembicara mewakili kelompoknya sendiri, tanpa melibatkan orang yang diajak berbicara.
Sementara, kata ganti “kita” bersifat inklusif. Kata ini dapat digunakan ketika pembicara ingin melibatkan semua orang, termasuk lawan bicara atau masyarakat luas yang mendengarkan, ke dalam kelompok atau aktivitas tersebut.
Jika membedah kalimat Luhut, "Perencanaan MBG kurang matang. Ini salah kita semua," penggunaan kata "kita" jelas tidak tepat secara semantik.
Pilihan kata tersebut secara tidak langsung "memaksa" publik yang mendengar lewat siaran berita maupun medsos untuk ikut bertanggung jawab atas kelalaian birokrasi. Padahal, posisi publik di sini hanyalah penonton—atau dalam kasus yang lebih buruk, korban.
Kebiasaan salah kaprah
Kasus salah ucap di tingkat pejabat ini sebenarnya mencerminkan fenomena yang lebih luas di masyarakat.
Hari ini, ada kecenderungan kuat di mana publik menormalisasi penggunaan kata "kita" untuk menggantikan "kami" dalam perbincangan sehari-hari.
Tak sedikit orang kerap berkata, “Kantor kita enggak ikut cuti bersama,” saat ia berbicara dengan seorang teman yang berbeda tempat bekerja. Atau "Nanti malam kita mau makan-makan keluarga, kamu enggak diajak ya."
Secara logika bahasa, kalimat terakhir sungguh membingungkan sekaligus menggelikan. Bagaimana bisa lawan bicara ditarik masuk ke dalam kata "kita", tetapi di saat bersamaan diusir dengan kalimat "kamu enggak diajak"?
Kebiasaan salah kaprah ini tampaknya lahir dari kultur kompromistis atau sekadar bumbu "sok akrab" agar terkesan setara dan merangkul semua orang. Namun, jika terus dinormalisasi, Bahasa Indonesia kan kehilangan presisinya.
Mari mulai lebih jeli menempatkan diri dalam berbahasa. Jangan sampai karena malas memilah antara "kami" dan "kita" dalam keseharian, Anda justru berakhir ikut menanggung dosa dan kesalahan kelompok lain yang sama sekali tidak Anda lakukan.
Sebab dalam urusan pertanggungjawaban, keliru satu kata saja taruhannya adalah harga diri.
| Editor | : | ats |