Books

Kita Memang Dipaksa untuk Terus Bodoh

Penulis - ats | 3 Juli 2026
Halaman depan novel Tere Liye “Teruslah Bodoh Jangan Pintar”. (Dok. Kontemporer)

Membaca novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar setebal lebih dari 300 halaman serasa bercermin dengan situasi terkini di Tanah Air. Meski kisah ini cuma fiksi, tapi muatannya mengeduk jeritan hati masyarakat di sejumlah daerah yang terpaksa diam dibuat kalah.

Selama ratusan tahun, pulau seluas 18.000 hektare (ha) dijaga kesakralan bentang alamnya oleh nenek moyang serta penduduknya. Gunung purba serta hutan lebat dibiarkan murni. Sementara, warga mencukupkan diri dari hasil melaut, menanam padi, serta jagung di kebun mereka.

Meski jauh dari ingar-bingar, akses listrik, serta minim fasilitas dasar, warga pulau itu tetap merasa sejahtera. Dua hari dua malam perjalanan laut jauhnya pulau itu dari pusat kota Provinsi.

Hingga suatu hari datang yacht mewah dengan panjang 40 meter. Merapat di dermaga yang biasa digunakan nelayan melabuhkan perahu kayu dengan lambung penuh ikan.

Yacht itu mengangkut seorang pejabat provinsi, dua orang wakil rakyat, beberapa aparat keamanan, serta perwakilan manajemen PT Semesta Mineral & Mining.

Mereka terpikat pada gunung purba yang diklaim mengandung emas. Lobi sana-sini. Perusahaan pun berhasil mengantongi konsesi tambang seluas 17.900 ha pulau itu.

"Luas pulau ini hanya 18.000 ha, Pak. Semua pulau jadi tambang?" geram Siti, istri nelayan.

Siti, wanita desa yang pernah dua kali gagal dalam pernikahan itu, lebih kritis dibandingkan penduduk desa lain karena 13 tahun merantau di kota provinsi. Terpapar buku, berita, dan sumber informasi lain, Siti tahu betul luas pulau tempat asalnya.

Dua puluh tahun setelahnya, Siti duduk di bangku saksi sidang tertutup. Menyuarakan kepiluannya selama dua puluh tahun desanya bersimbah tambang.

Kisah dalam novel ini makin mengeduk hati saat warga dikibuli dengan layanan listrik 24 jam dan perbaikan dermaga. Alih-alih menjawab kebutuhan nelayan, pelabuhan itu sejatinya untuk memuluskan penambang raksasa menurunkan alat berat untuk membangun jalan ke gunung dan membabat hutan.

Personel polisi dan aparat berseragam loreng siaga menghempas dan menembaki kaki warga yang menolak.

Penduduk tak kuasa. Bagai sulap, hutan-hutan dibabat. Perut gunung purba dikeduk. Limbah tambang dialirkan lewat aliran sungai dekat kampung. Masalah serius pun dimulai. Bayi-bayi lahir cacat.

Mewakili perasaan, cermin persoalan
Buku karya Tere Liye ini dikemas dengan alur maju-mundur. Meski begitu, ia berhasil mengajak pembaca tetap bertahan dan melaju, halaman demi halaman.

Cerita dimulai dari kematian Badrun, anak yatim yang tenggelam puluhan meter ke dasar kolam bekas tambang. Kemudian, pembaca diajak masuk ke ruang sidang tertutup antara aktivis lingkungan dan kuasa hukum perusahaan tambang milik Tuan Liem, bos PT Semesta Mineral & Mining.

Nuansa kepentingan, suap, dan keculasan politik mengental dalam perebutan konsesi pulau tempat Siti tinggal.

Kongkalikong pengusaha dan pemangku kepentingan dalam kisah ini juga mengajak pembaca untuk teringat pada pembabatan hutan adat di Merauke, Papua.

Bukan tanah kosong, tapi seakan sepi pemilik. Lalu pemerintah sepihak mengeklaim Tanah Negara yang dibagi sesuka hati kepada tangan-tangan pemodal, alih-alih program strategis nasional.

Belum lagi soal tambang nikel yang berpotensi menggeser kehidupan masyarakat adat Suku Laut (Bajau) di Sulawesi Tenggara, seperti Pulau Kabaena, Konawe Utara, dan Wawonii, saat ini terpinggirkan dan terancam akibat masifnya pertambangan nikel.

Limbah tambang dan sedimentasi mencemari laut, merusak terumbu karang, serta melenyapkan tangkapan ikan. Kondisi itu memaksa mereka kehilangan mata pencaharian, mengalami masalah kulit, bahkan terpaksa mengungsi dari wilayah leluhur mereka.

Antara fiksi dan realitas
Melalui potret konflik agraria dan eksploitasi alam ini, fiksi dan realitas di Indonesia seolah melebur tanpa sekat. Di atas kertas, sebuah cerita rekaan bisa diselesaikan secara mutlak dengan kata "Tamat".

Namun, bagi masyarakat di berbagai pelosok daerah yang tanahnya dikeduk dan sungainya dicemari, nestapa itu tidak ikut selesai saat buku ditutup.

Di dunia nyata, jeritan duka mereka. Para ibu yang mengkhawatirkan masa depan anaknya, nelayan yang kehilangan ruang hidup, dan masyarakat adat yang terasing di tanah sendiri. Dan suara ini masih terus bergema dalam hati dan pikiran mereka.

Suara-suara lirih itu kini harus berkejaran dengan deru bising mesin alat berat, serta rezim yang tak pernah betul-betul mau tahu.

Editor : ats
Komentar
Editor Picks