Teach You a Lesson dan Kasus Lebak: Ketika Murid Kurang Ajar dan Guru yang Terpojok
"Jika dokter takut pada pasiennya, pasien tak akan bisa disembuhkan. Jika pengacara takut pada kliennya, klien tak akan bisa dibela. Namun, jika guru takut pada muridnya, mana bisa mereka mengajar dengan benar?"
Pesan kuat itu ditegaskan oleh Na Hwa Jin kepada Ryu Gwang-pil, seorang Anggota Dewan Korea Selatan (Korsel) yang membela putranya selaku pelaku perundungan di SMA Daehan.
Kehadiran Na Hwa Jin dalam episode perdana serial Teach You A Lesson membawa secercah harapan bagi para siswa korban perundungan. Ia diutus oleh Kementerian Pendidikan Korsel sebagai pengawas sekolah bermasalah di bawah naungan lembaga bernama Biro Perlindungan Hak Pendidikan (BPHP).
Pada episode pertama, penonton langsung disuguhkan peristiwa tragis bunuh diri seorang pelajar SMA Daehan bernama Park Dae Sok.
Ryu Jun Hyeong, anak Anggota Dewan tersebut, menobatkan Dae Sok di depan kelas sebagai "jongos" alias pesuruh bagi para siswa yang lebih dominan. Tak tanggung-tanggung, predikat merendahkan tersebut bahkan diresmikan melalui upacara serah terima oleh Jun Hyeong dan gengnya dari satu siswa ke siswa lain.
Dipermalukan dan direndahkan, tekanan mental serta fisik menghantam Dae Sok setiap hari di sekolah. Tak hanya dipaksa melayani berbagai perintah dan menerima serangan verbal, tindakan perundungan tersebut bahkan direkam dan diunggah ke media sosial oleh siswa lain yang bersorak kegirangan.
Merasa berjuang sendiri tanpa jaminan perlindungan dari guru maupun kepala sekolah, Dae Sok akhirnya memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari gedung sekolah pada pagi hari, tepat saat siswa lain mulai berhamburan masuk gerbang.
"Di kelas itu ada putra anggota dewan. Kau dan aku sama-sama pekerja yang digaji. Dia kandidat presiden terkuat. Tentu kita harus takut," ujar kepala sekolah kepada Na Hwa Jin, mencoba memaklumi pembiaran tersebut.
Namun, pria yang akrab disapa Pak Na itu tidak gentar. Ia mulai menyusun langkah taktis untuk membongkar seluruh borok Ryu Jun Hyeong, meskipun di sisi lain, ayah Jun Hyeong terus mengerahkan kekuasaan politiknya demi melindungi sang anak.
Rasa hormat yang memudar
Layaknya gambaran dalam serial tersebut, aksi perundungan antar-siswa serta pelemahan peran guru juga nyata mengemuka di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.
Salah satu kasus yang sempat mencuri perhatian publik adalah kisah Kepala Sekolah SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, bernama Dini Fatria.
Ia dinonaktifkan oleh pemerintah daerah setempat setelah diduga melakukan tindakan kekerasan terhadap salah satu siswa, yang kemudian memicu aksi mogok belajar massal.
Ratusan siswa diwartakan sempat menolak mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) sebagai bentuk protes atas tindakan tersebut.
Kasus tersebut bermula ketika Dini diduga menampar seorang siswa kelas XII, Indra Lutfiana Putra (17), setelah siswa tersebut ketahuan merokok di lingkungan sekolah. Tak terima dengan pembinaan fisik itu, orang tua Indra kemudian melaporkan sang kepala sekolah ke pihak kepolisian.
Kasus di Lebak tersebut seolah membuka kotak pandora atas realitas pahit yang dihadapi para pendidik kita hari ini.
Kita sedang menyaksikan sebuah era di mana rasa hormat terhadap guru kian tereduksi secara mengkhawatirkan, baik di mata murid maupun orangtua. Batasan antara tindakan pendisiplinan dan kekerasan kini menjadi sangat bias, menempatkan guru pada posisi yang sangat dilematis.
Di satu sisi, guru dituntut membentuk karakter dan moralitas siswa di tengah gempuran krisis degradasi moral. Namun di sisi lain, bayang-bayang kriminalisasi dan tuntutan hukum mengintai setiap langkah mereka ketika mencoba bersikap tegas.
Ketika ruang kelas tidak lagi menjadi tempat yang aman bagi guru untuk menegakkan disiplin, dan ketika orangtua lebih memilih jalur hukum alih-alih komunikasi dialogis, marwah pendidikan formal dipertaruhkan.
Guru kini dilingkupi rasa takut—ketakutan yang persis digambarkan oleh Na Hwa Jin. Ketakutan yang membuat proses mengajar kehilangan ruhnya.
Ajakan kolektif bangkitkan hak guru dan murid
Isu yang diangkat dalam serial ini terbilang komprehensif. Dalam rentang 10 episode, drama ini memetakan anatomi perundungan modern di sekolah, termasuk kekerasan fisik, ketergantungan zat terlarang, kejahatan siber, stalking, hingga kasus pencemaran nama baik dan manipulasi keuangan.
Bobot narasi tersebut berhasil dieksekusi dengan matang oleh jajaran pemainnya. Kim Mu-yeol tampil impresif memimpin lini depan bersama Lee Sung-min, Jin Ki-joo, dan Pyo Ji-hoon.
Kekompakan taktis yang ditunjukkan keempat aktor ini di layar bahkan membuat penonton menjuluki mereka sebagai “Anti-Bully Avengers”.
Serial ini menjadi tontonan epik yang sarat nilai, sekaligus pemantik untuk membangunkan kembali ingatan kolektif kita tentang pentingnya menegakkan hak pendidikan yang layak secara adil, baik bagi siswa yang berhak mendapatkan perlindungan, maupun bagi guru yang berhak atas wibawa dan ruang aman dalam mendidik.
| Editor | : | ats |