Jujur Saja, Mental Kita Tidak Selalu "Baik-baik saja"
"Luar biasa. Saya baik-baik saja."
Jawaban normatif itu sering kita lontarkan secara instan saat ditanya tentang kabar kita hari ini. Namun, alih-alih menjadi respons yang paling mudah terucap, benarkah jawaban tersebut merupakan refleksi yang paling jujur?
Level kejujuran dari sebuah jawaban tentu bergantung pada situasi dan siapa yang bertanya. Sekalipun kita mengenal si penanya, keterbukaan itu juga ditentukan oleh kedalaman hubungan yang terjalin.
Namun, di balik jawaban "Saya baik-baik saja" itu, siapa nyana tersimpan pergumulan kecemasan kronis? Atau, upaya keras agar tidak tenggelam dalam depresi, serta perjuangan melawan kekhawatiran dan negativitas.
Salah satu pemimpin komunitas di Amerika Serikat (AS), Craig Groeschel, lewat bukunya bercerita bahwa masyarakat kita kerap bungkam atau enggan membicarakan kondisi mental secara jujur.
Terlebih di kalangan pemimpin (leader), mengakui kondisi rentan di dalam diri kerap dianggap tabu karena takut dinilai lemah.
Berusaha tampil sempurna
Lewat buku bertajuk "Menyembuhkan Luka Batin Anda", Craig menceritakan bagaimana dirinya sebagai seorang pemimpin agama berusaha sebaik mungkin untuk tetap hadir bagi semua orang.
Bahkan ketika berada dalam situasi terpuruk, ia berupaya menjadi pribadi yang paripurna; baik bagi istri, anak, cucu, anggota komunitas, maupun di depan publik. Seolah tak terjadi apa-apa, ia bekerja normal setiap hari. Dari luar semua tampak sama, namun di dalam diri, ia menyimpan tekanan berat.
"Ini tidak terlalu buruk. Ini hanya musim yang sangat sulit. Saya bisa mengatasinya seperti yang pernah saya alami," kata Craig pada dirinya sendiri ketika rasa takut menghampiri.
Selama tiga dekade mengemban tugas berat sebagai pemimpin, selama itu pula ia menyimpan ketakutan tanpa tahu kepada siapa harus bercerita. Menekan perasaan yang tak terungkap demi menjaga prestise bukanlah hal yang mudah.
Situasi makin terasa pelik ketika dirinya dibenturkan dengan paham bahwa sebagai orang beriman—terlebih seorang pemuka agama—ia dituntut "kebal" dari tekanan mental. Padahal, kesehatan mental dan iman seharusnya berjalan seiring.
Pelajaran berharga itu baru ia temukan dalam perjalanan hidupnya selama tiga dekade terakhir.
Craig menulis, "Jika seseorang mengalami patah tulang, Anda tidak perlu melemparkan ayat Alkitab agar ia beriman. Yang dibutuhkan saat kondisi tersebut adalah dokter atau ahli bedah tulang untuk memperbaiki apa yang patah."
Bagi Craig, iman akan selalu membantu. Namun, pendekatan yang diambil haruslah komprehensif dan holistik, bukan hanya dari satu dimensi atau perspektif agama saja.
Datang pada ahlinya
Dari pengalaman yang dituangkan oleh penulis terlaris versi New York Times ini, Craig menegaskan bahwa masalah kesehatan mental juga kerap melanda para pemimpin. Persoalannya, apakah pemimpin tersebut mau dengan rendah hati mengakui kondisinya secara jujur, alih-alih sibuk menjaga citra dan wibawa?
Budaya di masyarakat kita memang masih enggan membicarakan hal ini. Menunjukkan kerapuhan mental sering kali masih dinilai memalukan atau memperlihatkan kelemahan.
Meski telah membaca lusinan buku rohani dan psikologi, Craig menyadari bahwa setiap individu tetap memerlukan penolong yang tepat.
Hal spiritual memang penting, tapi spek psikologis dan fisiologis terlalu signifikan untuk diabaikan. Ia sendiri akhirnya memilih menemui Dr. Wayne Chappelle untuk mendapatkan bantuan konseling.
Ia pun berpesan, jika Anda merasa terjebak dalam kecemasan, depresi, negativitas, kemarahan, trauma, hingga burnout, carilah pertolongan dan bertahanlah.
Sebab sehebat apa pun latar belakang, posisi, serta gelar yang digenggam, kita tidak dapat berjalan dan pulih sendirian.
| Editor | : | ats |