Rewang, Sejarah yang Kembali Bicara di Panggung Politik
Dalam perbincangan politik Indonesia yang panas dan cepat berubah, nama lama kadang muncul seperti hantu dari lembar sejarah.
Beberapa waktu terakhir, salah satu nama itu adalah Rewang, mantan tokoh politbiro Partai Komunis Indonesia (PKI) yang pernah jadi figur penting di Jawa Tengah.
Ia lahir di Solo pada 1928, aktif di Barisan Tani Indonesia (BTI) Sukoharjo, memimpin PKI Surakarta, lalu naik hingga ke lingkaran inti PKI nasional pada 1965.
Rewang ditangkap pasca peristiwa G30S dan diasingkan ke Pulau Buru hingga akhir Orde Baru.
Seharusnya, kisah Rewang tinggal di buku sejarah atau memoar para penyintas politik. Tapi nama itu kembali mencuat, bukan dari arsip negara atau film dokumenter, melainkan dari lisan Rocky Gerung.
Dalam beberapa kesempatan, Rocky menyebut Rewang sebagai sosok yang "pernah mengingatkan" tentang kebohongan politik yang terjadi di Solo saat Jokowi menjadi wali kota.
Narasi ini pun langsung memantik diskusi dan perdebatan publik, bukan hanya soal kebenarannya, tapi juga tentang bagaimana sejarah dimobilisasi untuk kepentingan wacana hari ini.
Fenomena ini membuka dua lapis refleksi.
Pertama, bagaimana nama dari era kelam politik Indonesia bisa muncul lagi dan menjadi alat retorika dalam debat politik masa kini.
Kedua, bahwa publik kita sering kali menilai kebenaran bukan hanya dari data, tapi juga dari siapa yang mengucapkannya.
Figur seperti Rewang membawa beban sejarah, otoritas moral (atau stigma) yang membuat ucapan yang dikaitkan dengannya terasa lebih "berbobot".
Namun, di sinilah letak tantangannya. Tanpa dokumen, arsip, atau rekaman yang memvalidasi ucapan Rewang seperti yang diklaim Rocky, publik hanya dihadapkan pada narasi.
Sejarah lisan memang punya tempat penting, tetapi ia rapuh jika tak dipagari bukti. Inilah yang membuat kita perlu berhati-hati: membedakan antara memori, interpretasi, dan fakta sejarah yang terverifikasi.
Dalam politik, sejarah sering dipakai sebagai cermin. Tapi seperti semua cermin, ia bisa jernih atau distorsi, tergantung siapa yang memegangnya.
Nama Rewang yang muncul di tengah percakapan politik hari ini bukan hanya soal dirinya, tapi juga tentang bagaimana masa lalu masih punya daya hidup dalam membentuk persepsi kita terhadap masa kini.
Dan seperti kata pepatah, mereka yang tidak memahami sejarah akan mudah dipengaruhi olehnya.
| Editor | : | Editor Kontemporer |