Voices

Ketika Aib Tak Lagi Hina di Indonesia

Penulis - Pep | 25 September 2025
Ilustrasi-Pasangan Muda-mudi (Foto: Freepik)

Bukan niat saya menimbang moral manusia kini dengan timbangan masa lalu, seolah masa silam adalah cermin kebajikan yang tak pernah retak.

Saya hanyalah seorang penulis pengembara selepas purnatugas sebagai jurnalis yang kembali ke rahim tanah kelahiran, sebuah desa kecil di Tasikmalaya, Jawa Barat. Waktu menggoreskan garis-garis usia selama empat decade ketika saya kembali.

Di sini, di antara sawah yang kini menyempit dan jalan berdebu yang kini beraspal, saya mencoba memahami apa yang telah berubah dari jiwa sebuah bangsa?

Dulu, ketika mentari tenggelam dan azan Isya berkumandang, desa ini menyelimuti dirinya dalam kesunyian. Pukul sembilan malam adalah batas waktu tak tertulis, ketika selimut ditarik tinggi dan malam diserahkan pada jangkrik dan burung hantu.

Seorang gadis yang pulang lewat dari jam itu—mungkin usai menonton film India seperti Haathi Mere Saathi—akan menjadi bisik-bisik tetangga. Diantar kekasih di bawah remang bulan, ia tak hanya membawa cerita malam, tapi juga beban gunjingan.

Aib, saat itu, adalah bayang-bayang yang menempel erat.

Ada pula kisah seorang anak tetangga yang mencuri kelapa muda. Hukumannya bukan hanya interogasi di pos hansip, tapi juga rasa malu yang begitu berat hingga ia memilih “menghilang” untuk sementara.

Aib, baginya, adalah hukuman sosial yang lebih kejam daripada kurungan. Bahkan, ketika seorang gadis hamil di luar nikah, keluarganya seolah ditelan bumi, berlindung dari tatapan penuh cela.

Dulu, menjaga nama baik adalah perjuangan sehari-hari, sebuah kewajiban tak terucap yang mengikat setiap langkah.

Kini, melangkah di desa yang sama pada tengah malam, saya disambut pemandangan asing. Gadis-gadis muda berjalan berpasangan, tertawa di bawah lampu jalan yang baru dipasang.

Pukul sebelas, bahkan tengah malam, desa tak lagi sepi. Suara jangkrik telah tenggelam, digantikan deru sepeda motor dan obrolan ringan. Kehamilan di luar nikah? Bukan lagi rahasia yang disembunyikan, melainkan kenyataan yang diterima dengan pernikahan cepat, tanpa banyak bisik.

Bahkan, pasangan yang hidup seatap tanpa ikatan resmi tak lagi dipandang sebagai pelanggar norma. Lingkungan membiarkan, seolah waktu telah melarutkan batas antara benar dan salah.

Kolam ikan yang dulu penuh ikan mas sebesar paha kini tak lagi aman. Tanpa pengawas, ikan-ikan itu lenyap dalam semalam, bukan karena dipancing, melainkan dijebol pencuri.

Buah-buahan di pekarangan—kelapa, petai, rambutan—menjadi perlombaan antara pemilik dan pencuri. Siapa cepat, dia dapat. Mencuri, yang dulu adalah noda tak terhapuskan, kini seolah menjadi bagian dari keseharian, sebuah keberanian yang dipamerkan tanpa malu.

Renungan di persimpangan
Apa yang telah mengubah wajah desa ini, jiwa bangsa saya? Apakah waktu, dengan langkahnya yang tak kenal lelah, telah mengikis nilai-nilai yang dulu dijunjung?

Ataukah kepadatan penduduk, sempitnya lahan, dan langkanya pekerjaan telah mendorong manusia untuk bertahan, meski dengan cara yang dulu dianggap hina?

Mencuri kini bukan sekadar kebutuhan, tapi juga gaya—sebuah tanda keberanian, sebuah pernyataan eksistensi di tengah keterbatasan.

Hamil di luar nikah, perselingkuhan, perceraian—semua yang dulu adalah skandal kini hanya dianggap sebagai “kekhilafan”. Kata ini, “kekhilafan”, seolah menjadi jubah yang melindungi segala dosa, membebaskan pelakunya dari beban moral.

Bahkan korupsi, yang merampok kesejahteraan rakyat, tak lagi disembunyikan. Para koruptor berjalan dengan dada membusung, memamerkan mobil miliaran dan rumah megah, seolah kekayaan adalah bukti keberhasilan, bukan noda.

Hukum mungkin menjebloskan mereka ke penjara, tapi harta hasil curian tetap utuh, terselamatkan di balik “laundry” aset. Saya bertanya pada diri sendiri, ke mana arah moral bangsa ini sepuluh, dua puluh, tiga puluh tahun mendatang?

Siapa yang bertanggung jawab atas lunturnya nilai-nilai ini? Pejabat yang seharusnya menjadi teladan, tokoh agama yang membawa obor kebenaran, atau panutan masyarakat yang kini tenggelam dalam arus zaman?

Ataukah tak ada yang perlu bertanggung jawab, karena moral adalah cermin pribadi yang hanya bisa dijaga oleh masing-masing jiwa?

Korupsi telah menjadi beban berat bagi negeri ini. Uang rakyat yang dikorupsi menggembungkan utang negara, yang pada akhirnya dibayar dengan pajak yang kian mencekik.

Pengusaha kaya menghindar dari pajak, memperparah ketimpangan. Ketimpangan ini melahirkan ketidakadilan, dan ketidakadilan adalah bara yang mudah disulut menjadi makar atau teror.

Rantai ini, yang dimulai dari lunturnya rasa malu, adalah lingkaran setan yang menggerogoti Ibu Pertiwi.

Saya tak tahu jawabannya. Mungkin pendidikan agama atau moral Pancasila bisa menjadi kompas, tapi ketika mencuri tak lagi dianggap aib, ketika korupsi dipuji sebagai keberhasilan, apakah kompas itu masih berfungsi?

Saya hanya seorang pengembara, mencatat apa yang saya lihat, merenungi apa yang kualami. Di tanah kelahiran, di bawah langit yang sama saya bertanya, apakah kita masih mengenal rasa malu, atau telahkah kita melupakannya, bersama jangkrik dan burung hantu yang kini tak lagi bersuara?

Editor : Editor Kontemporer
Editor Picks