People

John Lie: Penyelundup Kemerdekaan yang Dilupakan

Penulis - Staff | 27 Oktober 2025
Ilustrasi: Lettu Marinir John Lie Tjeng Tjoan (Foto: Kompas.id)

Di tengah hiruk-pikuk perayaan kemerdekaan yang ke-80, ada satu kisah yang jarang terdengar di mimbar upacara maupun berita televisi. Namanya Lettu Marinir John Lie Tjeng Tjoan, seorang pelaut keturunan Tionghoa dari Manado, lahir 12 Maret 1911.

Ia bukan tokoh yang berpidato lantang di podium. Ia justru memilih jalur sunyi, lautan yang penuh risiko, di mana ombak dan peluru menjadi bagian dari keseharian.

Saat Belanda menerapkan blokade laut pasca-Proklamasi, jalur logistik Republik hampir lumpuh. Banyak yang menyerah, tapi tidak John Lie. Dengan kapal kecil bernama The Outlaw, ia keluar-masuk perairan Singapura dan Malaya.

Tugasnya sederhana tapi mematikan: membawa pulang senjata, amunisi, dan obat-obatan untuk para pejuang, lalu menjual hasil bumi seperti karet dan kopra demi membiayai revolusi.

John Lie (Foto: Keluarga John Lie)

Setiap pelayaran adalah perjudian nyawa. Kapal patroli Belanda mengincarnya, tapi ia selalu punya cara lolos dengan memanfaatkan badai, kabut, dan celah jalur laut yang hanya diketahui pelaut berpengalaman.

Dalam salah satu misi di akhir 1946, The Outlaw nyaris ditangkap di Selat Malaka. John Lie mematikan mesin, membiarkan kapal terapung di antara kapal dagang, lalu melanjutkan perjalanan ketika patroli lengah.

Misi itu sukses. Senjata dan obat sampai ke Sumatra, menopang semangat pasukan Republik yang terancam kehabisan logistik.

Peran John Lie tak banyak tercatat di buku sekolah, tapi catatan TNI AL dan arsip Ensiklopedia Pahlawan Nasional mencatat kontribusinya sebagai krusial. Setelah pengakuan kedaulatan, ia tetap mengabdi hingga pensiun sebagai Laksamana Muda.

Baru pada 10 November 2009, negara mengakuinya sebagai Pahlawan Nasional. Namanya kini diabadikan pada korvet KRI John Lie (358), kapal perang yang ironisnya lebih sering diketahui publik ketimbang sosoknya.

Kisah John Lie adalah pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari kerja sama lintas suku, agama, dan latar belakang. Bahwa “merdeka” bukan hanya hasil teriakan di lapangan, tapi juga dari keberanian menembus ombak, membawa pulang harapan di tengah gelapnya malam.

Editor : Editor Kontemporer
Editor Picks