Bangsa yang Kehilangan Makna Hormat
Jarang yang menyadari bahwa ingar-bingar tudingan ijazah palsu terhadap seorang mantan presiden telah mencoreng wajah Indonesia di mata dunia yang mereka nilai sebagai bangsa primitif?
Siapa yang merugi jika nasi sudah menjadi bubur dan kerusakan telah tercipta secara masif bahkan mendunia?
Dalam sejarah panjang bangsa-bangsa, selalu ada momen ketika kehormatan diuji. Bukan oleh musuh dari luar, tetapi oleh anak-anak kandungnya sendiri yang lupa daratan.
Di negeri ini, kita menyaksikan sebuah drama yang tragis sekaligus memilukan: sekelompok orang dengan penuh gairah mempersoalkan keabsahan ijazah seorang mantan presiden.
Ironisnya, hal itu mereka bukan untuk membangun kejujuran atau integritas bangsa, tetapi demi menciptakan riuh rendah fitnah yang mengguncang sendi kepercayaan publik. Tidak perlulah kita menyebut siapa mereka, publik tahu dengan sendirinya.
Sejenak kita renungkan, apa yang membuat seseorang berjuang hingga titik nadir untuk menumbangkan martabat seorang tokoh yang telah mengabdikan dirinya demi republik ini?
Apakah hanya karena secarik kertas bernama ijazah yang oleh segelintir orang dianggap suci dan absolut? Ataukah ada bara dendam, luka politik, dan hasrat kekuasaan yang tersembunyi di balik sorakan “kebenaran”?
Sang mantan presiden, siapa pun dia, adalah simbol dari usaha kolektif bangsa untuk bangkit dari keterpurukan, untuk berdiri sejajar di tengah dunia yang kejam.
Ia bukan hanya pemegang jabatan, tetapi penjaga amanah yang telah melewati badai fitnah, ketidakpercayaan, dan tantangan geopolitik. Kita boleh tidak sepakat dengan kebijakannya, boleh mengkritisi langkah-langkahnya, tetapi mereduksi seluruh pengabdiannya menjadi sebatas dugaan pemalsuan ijazah adalah kemiskinan berpikir yang mengiris nurani.
Fitnah seperti ini bukanlah soal akademik. Ia adalah bentuk penodaan terhadap nilai-nilai luhur: penghormatan pada jasa, penghargaan pada pengabdian, dan kesadaran bahwa sejarah dibentuk oleh laku nyata, bukan dokumen semata.
Menuduh dengan serampangan atas dasar kebencian bukanlah keberanian, melainkan bentuk keputusasaan yang menjelma dalam wujud paling rendah: pencemaran nama baik yang disengaja.
Mengapa mereka melakukan ini? Karena dalam dunia yang semakin bising oleh media sosial dan pembenaran instan, kehormatan tak lagi menjadi kompas. Yang dicari adalah sensasi, pengaruh sesaat, dan kekuasaan tanpa substansi.
Ada pula rasa inferioritas yang tak terucapkan—bahwa bila seseorang berhasil tanpa rute yang mereka kenal, maka keberhasilan itu harus dijatuhkan agar dunia tetap terasa adil bagi mereka yang gagal.
Bangsa ini lahir dari semangat hormat: kepada leluhur, kepada guru, kepada pemimpin, bahkan kepada lawan yang jujur. Ketika kita kehilangan rasa hormat itu, maka kita bukan hanya kehilangan arah, tetapi juga menggali kubur peradaban kita sendiri.
Maka kita perlu bertanya pada diri kita sendiri; apa sebenarnya arti pendidikan? Apakah ia hanya segumpal ijazah, ataukah ia adalah ketajaman budi, kebijaksanaan dalam bertindak, dan ketulusan dalam mengabdi?
Seorang pemimpin sejati bukan diukur dari gelarnya, tetapi dari keberanian untuk bertindak demi rakyatnya, dari jejak kebaikan yang ia tinggalkan.
Dalam keheningan yang bijak, marilah kita jaga akal sehat dan rasa hormat kita. Agar fitnah tidak menjadi warisan, dan agar sejarah tidak ditulis oleh mereka yang paling nyaring, tetapi oleh mereka yang paling jernih dalam menimbang kebenaran.
| Editor | : | Editor Kontemporer |
- -