Tiket Masuk Kehidupan, Tetapi Bukan Tujuan
Jika ada kesempatan, kamu boleh bertanya kepada Bill Gates, Elon Musk atau Mark Zuckerberg apakah mereka meraih sukses luar biasa dalam bisnis dan kehidupan dengan mengandalkan selembar ijazah?
“What? A Certificate?” boleh jadi jawaban mereka adalah sebentuk keheranan karena seumur hidup mereka baru teringat ada kata “certificate” yang dalam bahasa Indonesia disebut ijazah itu.
Ketiga tokoh sebagai contoh adalah orang-orang sukses di bidangnya masing-masing tanpa ijazah setinggi langit.
Gates adalah juragan Microsoft yang kaya raya dan kini menjadi filantrofis sebagamana Zuckerberg sang penemu Facebook sekaligus pemilik Instagram, Whatsapp dan Threads.
Sedang Musk adalah juragan Tesla, pelopor mobil listrik, Space-X yang membeli media sosial paling ribut, X.
Satu nama lagi adalah Steve Jobs, penemu Apple bekas gigitan orang, tetapi menjadi simbol gengsi anak-anak posmo dengan iPhone dan iPad di tangan mereka.
Ditambah Jobs ini, keempat “penguasa dunia” itu meski berpendidikan formal, tetapi tidak menganggap iajazah jalan satu-satunya menuju sukses. Mereka menganggap kreativitas dan ketekunan jauh lebih penting daripada sekadar gelar yang termaktub dalam selembar ijazah.
Saat terpaksa harus melamar pekerjaan, alih-alih menunjukkan ijazah mereka lebih suka memamerkan penemuannya yang menghantam kesadaran si pemilik perusahaan.
“La vie sans diplome” atau hidup tanpa ijazah seolah-olah menemukan kebenarannya di era digital yang serba cepat, ketika anak-anak muda bisa kaya mendadak berkat konten YouTube atau TikTok yang mereka buat setiap hari.
Mereka menjadi pembuat konten (content creator) dengan mengandalkan hobi, imajinasi dan bahkan kegiatan remeh-temeh. Tanpa disadari, orang-orang tanpa ijazah ini justru menjadi pembunuh potensial yang mempercepat matinya media massa konvensional seperti koran, radio dan televisi.
Tatkala algoritma bisa menggantikan analis finansial, muncul pertanyaan yang menggoda: apakah selembar ijazah masih penting di era Artificial Inteliggence saat ini?
Bagi sebagian orang, ijazah hanyalah kertas. Namun bagi jutaan lainnya, ia adalah tiket masuk ke arena kehidupan yang disusun oleh sistem birokrasi modern.
Ia adalah simbol bahwa seseorang telah melewati pintu gerbang formal pendidikan berbiaya tinggi, dan karenanya layak diperhitungkan dalam dunia kerja, pemerintahan, bahkan dalam pergaulan sosial.
Asal-usul ijazah dapat ditelusuri ke universitas abad pertengahan di Eropa, seperti Bologna (Italia), Paris (Prancis), dan Oxford (Inggris) pada abad ke-12 dan ke-13 di mana di sana Ijazah dikeluarkan oleh universitas-universitas ternama untuk mengakui kelulusan seseorang, biasanya dalam studi teologi, hukum, atau kedokteran.
Istilah “diploma” berasal dari bahasa Yunani “diplōma”, yang berarti “lembaran kertas yang dilipat dua”, yang menunjukkan dokumen resmi.
Pada masa itu, ijazah adalah mandat intelektual, semacam lisensi sosial untuk mengajar, menyembuhkan, atau menafsirkan hukum.
Istilah diploma (“diplome” dalam bahasa Perancis) berasal dari bahasa Yunani “diplōma”, yang bermakna “lipatan ganda”, merujuk pada dokumen resmi yang disegel sebagai tanda pengakuan akan sebuah pencapaian intelektual.
Dalam masyarakat modern, filsuf seperti Max Weber menunjukkan bahwa kita hidup dalam dunia yang diatur oleh rasionalitas dan birokrasi. Dalam sistem ini, kualifikasi formal —termasuk ijazah— menjadi syarat mutlak untuk menempati posisi tertentu.
Weber menyebut ini sebagai bagian dari “birokrasi legal-rasional”, di mana otoritas seseorang bukan karena keturunan atau karisma, tetapi karena sertifikasi.
Namun, tidak semua pemikir tunduk pada pesona ijazah yang bagai gadis cantik ini. Ivan Illich, seorang pendidik radikal, dalam bukunya “Deschooling Society”, menyebut sistem pendidikan modern sebagai semacam “agama baru” yang menciptakan kasta berdasarkan sertifikat.
Baginya, ijazah sering menjadi tembok yang membatasi kreativitas, bukan pintu pembebasan.
Paulo Freire dalam “Pedagogy of the Oppressed”, menolak pendidikan yang sekadar mengisi kepala siswa demi selembar kertas pengakuan. Ia menawarkan gagasan pendidikan yang membebaskan, di mana dialog dan pengalaman menjadi guru sejati.
Dalam pandangan ini, ijazah bisa berguna, tetapi tidak menentukan nilai sejati seseorang.
Paedagogik dan pemikir pendidikan modern, Ken Robinson, mempopulerkan kritik terhadap sistem pendidikan standar. Ia menyebut sistem yang terlalu menekankan ijazah telah membunuh kreativitas.
Kita hidup di tengah paradoks. Di satu sisi, ijazah tetap penting untuk menavigasi sistem sosial dan ekonomi. Di sisi lain, kita tahu bahwa kesuksesan dan makna hidup tidak bisa direduksi menjadi selembar dokumen.
Banyak orang hebat —dari Steve Jobs sampai tokoh-tokoh desa tanpa gelar— membuktikan bahwa intuisi, kerja keras, dan keberanian mengambil risiko sering lebih menentukan daripada cap formal pendidikan dengan embel-embel selembar ijazah.
Jadi, apakah ijazah penting? Benar, sejauh ia menjadi alat. Tapi ketika ia menjadi tujuan itu sendiri, kita berisiko menjadikan hidup sebagai lomba mengejar kertas, bukan membangun makna.
| Editor | : | Editor Kontemporer |