Focus

Orang-orang yang Terpental dari Pertumbuhan Ekonomi

Penulis - ats | 24 Agustus 2026
Ilustrasi PHK startup. (Dok. Ilham Restu)

Jelang tahun keempat, Diah Astuti mesti bersiap diri. Ia masih betah dan sayang dengan pekerjaannya. Namun apa daya jika cinta bertepuk sebelah tangan?

Pekerja sektor teknologi finansial (tekfin) itu mau tidak mau mesti menerima fakta pahit bahwa dirinya harus hengkang. Di Pasar Minggu Diah bercerita kepada kami bahwa "vonis" itu bahkan dijatuhkan setidaknya beberapa bulan sebelum hari getir itu tiba.

Mungkin, periode singkat itu waktu yang cukup agar ia mampu menata emosi serta mempersiapkan diri mencari ladang perburuan baru. Empat tahun berlalu dengan kontrak kerja yang terus diadendum dari tahun ke tahun.

Asa untuk jadi karyawan tetap dibuat pupus oleh kondisi yang diklaim perusahaan sedang tak menentu dan mesti adaptif di tengah ekonomi serba sulit.

“Enggak ada pilihan yang bisa jadi pelipur selain mencoba nrimo, bukan? Siap-siap lamar-lamar kerjaan lagi,” tutur Diah, Selasa (18/8/2026).

Seorang karyawan apalah daya yang dipunya? Selain menerima berkas dalam amplop cokelat serta kiriman rekening berisi uang pisah yang tak seberapa. Usai pamit dan berfoto farewell, ia melangkah pergi hingga punggungnya tak terlihat lagi.

Pikirannya boleh jadi kalut. Di usia kepala tiga, berburu lapangan kerja baru bukan lagi perkara mudah, melainkan labirin penuh tantangan.

Menguap sebelum menetes
Dilema Diah bukanlah cerita tunggal. Di balik angka pertumbuhan ekonomi nasional yang cemerlang, ada jutaan nasib serupa yang tak tercatat dalam laporan tahunan korporasi.

Jurnalis ekonomi Eko B Supriyanto tanpa tedeng aling-aling menyebut realitas bahwa kue ekonomi terlalu sering menguap sebelum menetes, apalagi menyentuh tanah.

Kue ekonomi yang mestinya dapat merembes ke bawah melalui penciptaan lapangan kerja dan kenaikan upah riil, sebagai imbas merangkaknya investasi, seolah tertahan di langit-langit industri.

Jutaan tenaga kerja masih terperangkap di sektor informal tanpa jaminan sosial. Upah riil buruh tani dan bangunan nyaris stagnan tergerus inflasi. Generasi muda? Makin lama menunggu panggilan kerja layak yang tak kunjung tiba.

Belum lagi persoalan individu seperti Diah, yang mesti merapikan barang di kubikel dan pulang tanpa pernah kembali ke kantor.

Lantas, ke mana sebenarnya aliran positif imbas dari Produk Domestik Bruto (PDB) yang katanya moncer di angka 5,29 persen itu?

Kondisi tersebut adalah cermin sempurna dari kegagalan trickle-down effect (efek menetes ke bawah). Pertumbuhan PDB yang dibanggakan para pengambil kebijakan ternyata didorong oleh sektor-sektor padat modal, ekspansi industri ekstraktif, serta efisiensi teknologi tinggi yang minim daya serap tenaga kerja.

Keuntungan korporasi dan hasil investasi tidak kembali dialokasikan untuk memperluas pasar kerja atau menaikkan kesejahteraan pekerja, melainkan mengendap sebagai akumulasi modal, pembayaran dividen, atau berputar di instrumen pasar keuangan semata.

Jobless growth
Terjadilah fenomena jobless growth. Ekonomi tumbuh secara statistik, tetapi kesempatan kerja formal justru menyusut tajam.

Sektor manufaktur dan jasa modern yang dahulunya menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja kini terdesak untuk terus melakukan efisiensi demi menjaga margin profit. Imbasnya, angkatan kerja produktif terlempar ke sektor informal yang serba tidak pasti, atau terperangkap dalam sistem kerja kontrak berulang tanpa jaminan masa depan.

Sementara, pekerja yang masih bertahan di kubikel mesti bersiap tuk side hustle. Cari kerjaan sampingan sana-sini biar rekening bertambah meski sedikit. Tak sedikit pula yang piawai mempersiapkan sekoci dengan mereguk peluang bisnis wewangian.

Sementara itu, pekerja yang masih bertahan di kubikel mesti bersiap melakoni side hustle, mencari pekerjaan sampingan demi menopang kebutuhan hidup yang terus merambat naik. Tak sedikit pula yang diam-diam mencoba peruntungan di bisnis wewangian. Katanya, sebagai persiapan sekoci.

Ketika angka makroekonomi terus dirayakan di ruang-ruang rapat para elite dan eksekutif, realitas di bawah sana justru menunjukkan dekomposisi kelas menengah. Kesejahteraan tidak pernah benar-benar menetes ke bawah, melainkan tertahan di segmen atas dan menguap sebelum menyentuh akar rumput.

Bagi orang-orang seperti Diah dan jutaan pekerja lainnya di luar sana, statistik PDB yang moncer tak lebih dari sekadar deretan angka dingin. Tak mampu mengisi piring dengan seporsi nasi, apalagi menjamin kepastian esok hari.

Editor : ats
Komentar
Editor Picks