Focus

Umur 35 Tahun, Sudah Sukses Tapi Belum Bahagia?

Penulis - ats | 25 Juli 2026
Ilustrasi fase life crisis di usia 35-an. (Foto: Pexels/Cottonbro)

Usia antara 35 hingga 40 tahun kerap dianggap sebagai fase matang dalam peta demografi. Di rentang usia ini, seseorang makin benar-benar paham bagaimana rasanya berdiri di atas kaki sendiri.

Secara karier, umumnya di usia tersebut seseorang mulai menduduki posisi manajerial madya dengan pendapatan yang kian mapan. Pun dalam hal asmara, ada yang sudah menikah dengan dikaruniai buah hati, ada pula yang baru memasuki biduk rumah tangga.

Namun, tak sedikit yang memilih menikmati masa-masa sendiri dengan berbagai pertimbangan personal masing-masing.

Singkatnya, di usia tersebut kesadaran akan menumpuknya tanggung jawab makin menguat, mulai dari urusan keluarga, pasangan, tuntutan pekerjaan, hingga kesehatan mental diri sendiri.

Saking sibuknya mengejar pace kehidupan yang serbacepat, krisis diri pun perlahan mengintai.

Menariknya, beda dari krisis usia 20-an yang dominan dipicu oleh rasa takut akan ketidakpastian masa depan, krisis di pertengahan usia 35-an justru kerap lahir dari titik yang tak terduga, yakni keberhasilan itu sendiri.

“Jangkar” yang hilang
Bagi sebagian orang, perjalanan menuju usia 35-an kerap digerakkan hal yang sangat jelas, yaitu cita-cita masa kecil atau remaja yang dipegang erat bagai jangkar.

Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar atau menengah, impian itu menjadi kompas. Ia membakar semangat, memberi dorongan untuk terus melangkah, serta menjadi alasan untuk tetap bertahan melintasi rintangan dan pesimisme lingkungan.

Jangkar itulah yang membuat arah hidup terasa presisi. Selama cita-cita tersebut belum tergenggam, ada bahan bakar bernama harapan yang terus memacu motor kehidupan.

Masalah baru muncul ketika kapal itu akhirnya benar-benar berlabuh.

Memasuki usia 35 tahun, cita-cita besar yang dulu dikejar setengah mati itu akhirnya berhasil diraih. Posisi impian diduduki, profesi idaman dijalani, dan target masa lalu tercentang penuh.

Di titik inilah ironi datang. Jangkar yang selama puluhan tahun menahan dan mengarahkan hidup mendadak terangkat.

Mendefinisikan ulang makna
Kehilangan jangkar di usia 35-an terkadang menghadirkan rasa hampa yang sulit dijelaskan. Dari luar, kehidupan tampak sangat stabil dan ideal. Namun dari dalam, ada perasaan tak lagi memiliki motor penggerak.

Hidup pun perlahan bergeser ke mode autopilot. Rutinitas tetap berjalan dan tanggung jawab ditunaikan dengan profesional, tetapi ada bagian dalam diri yang terasa berjalan tanpa arah.

​Kehilangan visi ini kerap ditandai dengan perasaan lelah usai beraktivitas, atau bahkan merasa lelah padahal sebenarnya sedang tidak melakukan aktivitas apa pun.

​Selain itu, antusiasme dan motivasi terhadap berbagai hal yang sebenarnya disukai serasa menurun dari biasanya. Pikiran pun mulai sering dihinggapi pertanyaan-pertanyaan mendasar, “Sebenarnya hidup ini mau dibawa ke mana sih? Aku mau jadi apa selanjutnya? Apa yang sebenarnya harus aku lakukan kali ini?”

​Namun ketahuilah, itu bukan pertanda kamu malas atau kehilangan semangat. Jangan khawatir, kondisi ini adalah sinyal bahwa dirimu hanya butuh sedikit jeda untuk bernapas dalam-dalam serta menata ulang rencana pelan-pelan.

Mengalami krisis tanpa jangkar bukanlah tanda bahwa kehidupan kita berhenti atau mengalami kegagalan. Ini adalah titik jeda yang hadir secara natural dalam perjalanan hidup.

Jika di paruh pertama kehidupan kita berlayar menggunakan jangkar berupa pencapaian (goal-oriented), maka paruh berikutnya menuntut kita untuk menemukan jangkar berupa makna (meaning-oriented).

​Motor penggerak di usia 35-an tidak lagi harus berbentuk cita-cita raksasa seperti saat kita usia sekolah atau anak kuliahan.

Harapan baru itu bisa hadir dalam bentuk yang lebih tenang. Misalnya, keberadaan yang lebih utuh untuk keluarga, kontribusi nyata bagi sesama, atau sekadar keberanian untuk menikmati hidup tanpa harus selalu membuktikan apa-apa lagi kepada dunia.

Tidak memiliki target besar di usia 35-an bukanlah dosa. Kadang, tugas terpenting di usia ini bukanlah terburu-buru melempar jangkar baru, melainkan belajar menikmati indahnya berlayar di laut lepas. 

Editor : ats
Komentar
Editor Picks