Kenapa Kita Harus Selalu Berbuat Baik kepada Semua Orang?
Kadang, di tengah hidup yang serba cepat dan penuh kompetisi, berbuat baik terasa seperti pekerjaan tambahan. Kita sibuk, lelah, dan sering berpikir, “buat apa sih, kalau nggak dihargai juga?”.
Tapi anehnya, setiap kali kita menolong atau sekadar bersikap ramah, ada perasaan hangat yang muncul tanpa bisa dijelaskan.
Itu bukan kebetulan. Riset dari University of Oxford (2016) menunjukkan bahwa orang yang rutin melakukan tindakan baik, sekecil apa pun memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi dan stres yang lebih rendah.
Artinya, kebaikan memang menyehatkan, bukan cuma untuk hati, tapi juga untuk kepala.
Menariknya, efek itu menular. Satu tindakan baik bisa memicu reaksi berantai yang tak terduga. Pernah dengar istilah pay it forward?
Ternyata itu bukan sekadar konsep film. Sebuah studi di Proceedings of the National Academy of Sciences (2010) menemukan bahwa kebaikan bisa menyebar hingga tiga tingkat hubungan sosial.
Seseorang yang diperlakukan baik, cenderung akan berbuat baik juga kepada orang lain. Jadi, meski kecil, setiap tindakan kita berpotensi jadi benih perubahan di lingkungan yang lebih luas.
Tapi di luar sains, kebaikan juga punya sisi spiritual yang tidak kalah kuat. Hampir semua ajaran agama menempatkan kebaikan sebagai inti kemanusiaan.
Dalam Islam, misalnya, ada pesan, “balaslah kejahatan dengan kebaikan.” Ajaran serupa juga ditemukan di banyak kepercayaan atau tradisi yang lain.
Bukan untuk terlihat mulia, tapi karena berbuat baik adalah cara manusia menjaga jiwanya tetap utuh di tengah dunia yang keras.
Dan memang, berbuat baik itu tidak selalu mudah. Kadang kita disakiti, diabaikan, bahkan disalahpahami.
Tapi mungkin justru di situlah nilainya. Saat kita tetap memilih baik di tengah yang tidak baik, kita sedang menegaskan siapa diri kita. Kebaikan bukan tentang siapa yang pantas menerimanya, tapi tentang siapa yang kita pilih untuk jadi.
Dunia sekarang mungkin tidak selalu ramah, tapi kebaikanlah yang membuatnya masih terasa layak. Tidak perlu besar, cukup dengarkan, bantu, atau sekadar tidak menambah luka.
Karena kadang, hal paling sederhana yang kita lakukan bisa jadi hal paling berarti bagi seseorang yang sedang diam-diam berjuang.
| Editor | : | Editor Kontemporer |