Focus

Apakah Jepang Mulai Kehilangan Daya Tariknya di Indonesia?

Penulis - Staff | 5 November 2025
Ilustrasi: Jepang dan Indonesia di masa kini (Foto: ipdefenseforum.com)

Selama beberapa dekade, Jepang selalu punya tempat khusus di hati masyarakat Indonesia. Negara yang satu ini bukan hanya dikenal karena mobil dan elektroniknya yang tangguh, tapi juga karena budaya pop-nya yang pernah mewarnai masa muda banyak orang Indonesia.

Anime seperti Naruto dan One Piece, musik J-Pop, hingga mode Harajuku pernah menjadi representasi keren bagi generasi yang tumbuh di era 1990-an hingga awal 2000-an.

Namun, peta pengaruh budaya dan teknologi Asia kini berubah cepat. Di satu sisi, produk teknologi asal Tiongkok kini makin mudah ditemui dan digunakan di keseharian masyarakat.

Di sisi lain, budaya populer Korea Selatan melalui K-Pop, drama, hingga kuliner telah mencuri hati generasi muda Indonesia.

Pertanyaannya, di mana posisi Jepang sekarang di mata anak muda Indonesia?

Teknologi tetap kuat, tapi tak lagi dominan

Ilustrasi: Kereta dan Gunung Fuji (Foto:freepik/tawatchai07)

Jepang sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat inovasi teknologi Asia.

Sebuah penelitian berjudul “Indonesian Economic Development and Japanese Technology” mencatat bahwa investasi Jepang di Indonesia dan transfer teknologinya memiliki potensi besar untuk mendorong kemampuan teknologi lokal. 

Meski demikian, dari sisi persepsi publik, data menunjukkan bahwa Jepang tidak lagi secara otomatis dipandang sebagai pelopor teknologi oleh generasi muda.

Sebagai contoh, survei oleh J Walter Thompson Asia Pacific yang mencakup Indonesia menunjukkan bahwa konsumen muda di Asia Pasifik masih mengagumi merek Jepang tetapi gambaran tersebut terjadi dalam konteks “merek Jepang” daripada “inovasi Jepang yang diminati generasi muda khususnya”.

Situasi di Indonesia menjadi menarik karena generasi muda kini menghadapi banyak pilihan teknologi dari Tiongkok atau Korea yang menawarkan harga lebih agresif dan cerita merek yang lebih “terkini”.

Tidak hanya di mata masyarakat Indonesia, kesepakatan pemerintah Indonesia dengan Tiongkok dalam mengembangan dan penggunaan teknologi proyek kereta cepat "Whoosh" juga bisa jadi contoh nyata.

Padahal, dalam proses perencanaan, Jepang digadang-gadang sebagai mitra strategis dalam proyek mega besar yang menghabiskan puluhan triliun ini.

Saat ini, Jepang bisa saja masih unggul dalam riset dan inovasi tingkat tinggi (robotika dan energi bersih), tapi dampak emosionalnya terhadap anak muda Indonesia cenderung lebih lemah dibanding dekade sebelumnya.

Inilah yang menimbulkan “jarak persepsi”: Jepang tetap kuat, tetapi tidak se-“top of mind” seperti dulu.

Budaya pop: antara komunitas dan arus utama

Ilustrasi: Wanita Jepang dengan payung wagasa (foto: freepik)

Kalau bicara budaya, Jepang masih punya penggemar setia. Anime, manga, dan makanan Jepang seperti ramen atau sushi tetap populer.

Di banyak kota besar Indonesia, komunitas cosplay dan penggemar budaya Jepang masih aktif dan solid.

Namun, di ranah budaya, dominasi Jepang mulai bergeser ke Korea Selatan. Fenomena ini juga terlihat dalam berbagai penelitian komunikasi budaya di universitas-universitas Indonesia.

Beberapa tahun terakhir, penelitian di Jakarta dan Yogyakarta mencatat bahwa “gelombang Korea” atau Hallyu Wave jauh lebih sering muncul dalam perilaku konsumsi budaya anak muda dibanding “Cool Japan”.

K-Pop dan K-Drama bukan sekadar hiburan tapi sudah menjadi identitas, gaya hidup, bahkan aspirasi sosial.

Sementara itu, budaya pop Jepang masih dipandang keren, tapi tidak lagi menjadi tren besar.

Menariknya, nilai-nilai yang terkandung dalam budaya Jepang seperti disiplin, kesederhanaan, dan dedikasi terhadap pekerjaan masih sangat dihormati.

Artinya, budaya Jepang masih memiliki fondasi kuat, hanya cara penyampaiannya yang perlu disesuaikan dengan pola konsumsi digital generasi sekarang.

Korea Selatan menang di strategi promosi, sedangkan Jepang tetap unggul pada kedalaman nilai. Namun keduanya memainkan peran yang berbeda di benak anak muda Indonesia.

Menggali kembali posisi Jepang
Indonesia kini memiliki lebih dari 190 juta penduduk berusia produktif, dengan mayoritas di bawah 35 tahun.

Generasi muda inilah yang menentukan arah tren, preferensi budaya, dan pilihan teknologi ke depan.

Bagi Jepang, memahami persepsi kelompok ini menjadi hal yang penting bukan hanya untuk kepentingan bisnis, tapi juga untuk membangun hubungan jangka panjang yang saling memahami.

Sejumlah pengamat hubungan internasional menyebut bahwa Jepang memiliki kekuatan soft power yang luar biasa, tapi belum selalu dioptimalkan dengan cara yang paling relevan.

Program seperti Cool Japan misalnya, banyak diakui sebagai inisiatif cerdas, namun penerapannya di Indonesia kerap tidak berakar pada konteks lokal.

Di sisi lain, Korea Selatan memanfaatkan teknologi digital untuk menjangkau audiens muda dengan cara yang lebih partisipatif dan emosional.

Mungkin di sinilah letak tantangan Jepang. Bukan kehilangan daya tarik, tetapi belum cukup hadir dengan bahasa yang dipahami generasi muda sekarang yang lahir di dunia digital, hidup dengan algoritma, dan lebih mudah terhubung melalui konten, bukan kampanye formal.

Menatap ke depan
Pengaruh Jepang di Indonesia sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya bergeser bentuk.

Kini Jepang hadir di dapur melalui kuliner yang digemari, di layar lewat anime dan film, di ruang kerja lewat etos disiplin dan konsep efisiensi, hingga di arsitektur dan gaya hidup minimalis yang banyak diadopsi anak muda perkotaan.

Namun, semua itu perlu dipahami ulang, sejauh mana pengaruh itu masih terasa dan bagaimana anak muda hari ini memaknai Jepang sebagai negara maju dan berbudaya tinggi.

Mengetahui bagaimana persepsi ini terbentuk dan berkembang akan membuka banyak kemungkinan baru: dari kolaborasi budaya, pertukaran teknologi, hingga kerja sama kreatif lintas generasi dan lintas bangsa.

Bagi banyak orang Indonesia, Jepang selalu identik dengan inovasi dan keindahan dalam kesederhanaan. Tapi di tengah dunia yang berubah cepat, kekaguman saja tidak cukup.

Yang lebih penting adalah bagaimana Jepang bisa kembali “hadir” bukan sekadar sebagai masa lalu yang dikagumi, tetapi sebagai mitra masa depan yang relevan dan inspiratif bagi generasi muda Indonesia.

Karena di balik nostalgia yang masih hangat, ada rasa penasaran baru. Masih sejauh mana Jepang dipahami dan dirasakan oleh anak muda Indonesia hari ini?

Mungkin di situlah pintu dialog baru perlu dibuka.

Editor : Editor Kontemporer
Editor Picks